Koleksi terbaru Perpustakaan Ilmiah Book-o-latte di Dapur Ceu Ita adalah buku-buku bisnis dari profesor-profesor kampus Ivy League. Danny Warshay adalah profesor Entrepreneurial Process di Brown University; Marco Iansiti dan Karim Lakhani adalah profesor-profesor di Harvard Business School.
Silakan mampir ke Cisitu Baru 46 kalau mau baca 😊
Di bawah ini review buku See Solve Scale yang sudah selesai saya baca beberapa hari yang lalu.
-dydy-
=======================
Kita sering mendengar istilah “jiwa wirausaha” yang konon ada yang punya, ada juga yang nggak. Benarkah? Menurut Danny Warshay, profesor Entrepreneurial Process di kampus Ivy League Brown University, itu mitos saja. “Anyone can become an entrepreneur and a solver of problems when armed with the right tools,” katanya. Dalam buku ini, yang merupakan intisari mata kuliah terpopuler di Brown University, Warshay menjelaskannya secara detail.
See, Solve, Scale: How Anyone Can Turn an Unsolved Problem into a Breakthrough Success
Danny Warshay
St. Martin’s Press (2022)
320 hal
Danny Warshay adalah pengusaha, juga pengajar mata kuliah The Entrepreneurial Process sejak tahun 2005, yang merupakan mata kuliah terpopuler di Brown University. Ia juga adalah direktur Nelson Center for Entrepreneurship di Brown University, yang menyediakan berbagai program akademik dan pelatihan kewirausahaan, mentoring, inkubator, dan networking.
Brown University adalah salah satu dari sedikit universitas di US (dan satu-satunya kampus Ivy League) yang menerapkan ‘open curriculum’. Kalau biasanya mahasiswa wajib mengambil mata kuliah tertentu untuk mengambil jurusan tertentu, dalam sistem open curriculum tidak begitu halnya. Setiap mahasiswa bebas memilih mata kuliah yang diinginkan dan mengeksplorasi topik-topik yang ingin mereka pelajari sesuai minat masing-masing yang spesifik. Pendidikan di Brown ini self-directed oleh mahasiswanya, sehingga mereka bertanggung jawab atas arah pendidikannya sendiri. Tidak ada ‘jurusan/major’ di Brown, adanya ‘concentration’. Sistem penilaian pun agak berbeda, di mana nilai terendah adalah C, dan kalau tidak lulus mata kuliah tertentu, nilainya tidak akan dimasukkan ke transkrip. Kurikulum yang menarik ya.
Seperti layaknya sebuah institusi liberal arts, Brown University mendorong mahasiswanya memiliki wawasan pengetahuan yang luas, menekankan pada critical thinking dan problem solving yang mendasari segala macam topik ilmu pengetahuan, dan berkolaborasi dengan orang-orang dari berbagai macam latar belakang ilmu. Mau jurusan teknik maupun sastra, semua juga perlu kecakapan-kecakapan di atas.
Warshay yang juga merupakan alumni Brown, mengatakan bahwa pendidikannya di sekolah inilah yang membentuk cara pandangnya tentang kewirausahaan, yang agak berbeda dengan cara pandang tentang bisnis pada umumnya. Seperti apa?
Umumnya yang terjun ke bisnis dimulai dengan ‘keinginan’ menjual/membuat suatu produk, kemudian melakukan riset pasar dll. Ini dia sebut Top-down approach. Namun pendekatan ini seringkali malah menghasilkan produk yang sebenarnya tidak dibutuhkan, dan akhirnya bikin masalah baru. “Top-down research limits our thinking. Because it measures activity in an existing market, it points us toward what exists, not to what could or should exists.”
Menurut Warshay, ini terbalik. Seharusnya cari dulu masalah/kebutuhan di masyarakat/pasar yang perlu dipecahkan, dari situ baru mencari solusi yang bisa dikembangkan menjadi bisnis.
Dalam mata kuliah Entrepreneurial Process, Warshay mengajarkan bahwa kewirausahaan adalah sebuah proses memecahkan masalah yang terstruktur, menggunakan pendekatan antropologis (artinya, dimulai dengan mengamati manusia, permasalahannya dalam konteksnya masing-masing) untuk mencari tahu masalah yang perlu dipecahkan. Dan karena merupakan proses memecahkan masalah, skill ini bisa diterapkan tidak hanya dalam konteks bisnis/kewirausahaan, melainkan juga dalam berbagai hal.
“Kewirausahaan adalah sebuah proses, bukan ‘spirit’,” kata Warshay. Tidak benar bahwa untuk memulai wirausaha perlu punya karakteristik tertentu, perlu punya ‘jiwa wirausaha’, harus ‘people person’ dan introvert tidak cocok berwirausaha. Semua itu hanya mitos saja. Jika kewirausahaan dipandang sebagai proses yang terstruktur, seperti metoda ilmiah, maka semua bisa melakukannya.
Warshay membagi proses kewirausahaan ini ke dalam 3 langkah:
1. SEE: Find and Validate an Unmet Need. Temukan suatu kebutuhan yang belum terpenuhi, lalu cek/konfirmasi lebih jauh tentang kebutuhan tersebut. SEE adalah proses mendefinisikan masalah, fokus pada ‘what is’.
Mengutip Steve Jobs yang mengatakan “Start with the customer experience and work backwards to the technology.”
Di buku ini Warshay memberi banyak contoh. Misalnya ada muridnya yang berangkat dari mengamati ibunya sendiri, penyandang disabilitas kelumpuhan, yang harus menggunakan kursi roda. Dari pengamatan ini ia menemukan (FIND) masalah/kebutuhan yang tidak terpenuhi (UNMET NEED): para penyandang disabilitas kelumpuhan kesulitan mencari baju yang mudah mereka pakai, terutama bawahan/celana panjang. Kemudian ia mengecek (VALIDATE) dengan cara mewawancara komunitas disabilitas kelumpuhan; apa saja tepatnya kesulitan mereka ketika memakai baju/celana, dan produk pakaian seperti apa yang akan memudahkan mereka?
2. SOLVE: Develop a Value Proposition.
Jika SEE fokus pada ‘what is’, maka SOLVE adalah melihat ‘how they could be’. Proses yang terjadi di langkah ini adalah berpikir kreatif mencari solusi dari permasalahan di langkah pertama tadi. Mencari ide, mempertimbangkan berbagai alternatif, brainstorming, membuka pikiran akan berbagai kemungkinan jawaban dan solusi yang potensial, berinovasi.
Mengenai pakaian untuk penyandang disabilitas kelumpuhan tadi, solusi yang dikembangkan adalah membuat celana panjang dengan bukaan resleting di sepanjang pinggir kaki, sehingga celana tidak perlu dimasukkan dari ujung kaki yang menyulitkan para penyandang kelumpuhan.
Yang dimaksud ‘value proposition’ adalah pernyataan yang menghubungkan kebutuhan customer dengan manfaat produk/jasa yang kita sediakan dalam sudut pandang ekonomi. Manfaat ini mestilah punya keunggulan dibandingkan produk/jasa yang sudah ada, sehingga tampak jelas perbedaannya, ‘dramatically different’.
3. SCALE: Create a Sustainability Model
Setelah mendefinisikan masalah di langkah SEE, dan mengembangkan solusi di langkah SOLVE, maka di langkah SCALE kita mulai berpikir besar, bagaimana supaya solusi masalah berupa produk/jasa tadi berdampak besar dan berkelanjutan/sustainable.
Warshay lebih suka memakai istilah ‘sustainable model’ daripada ‘business model’ sebab istilah yg terakhir ini tidak selalu memandang jauh ke depan. “Business model doesn’t always create long-term viability or impact at scale.” Menurut Warshay, small business bukanlah ekspresi kewirausahaan jika dia tidak punya visi yang lebih besar, yang scalable dan dampak jangka panjang.
“Sustainable means having long term impact at scale. If a solution isn’t enduring, it’s not really a solution,” kata Warshay mengutip kata-kata seorang pengusaha pionir.
Di kelasnya, Warshay menugaskan mahasiswanya untuk mengembangkan solusi bisnis skala besar (revenue 100juta dolar per tahun).
Buku ini menjelaskan kewirausahaan sebagai suatu teknik problem solving, dengan langkah-langkah yang bisa diikuti siapa saja, dan menitik beratkan pada pengalaman manusia, sebab menurut Warshay kewirausahaan seharusnya didasarkan pada empati. Langkah-langkah kewirausahaan dijelaskan dengan mendetail dalam format yang dimengerti oleh pemula (iya lah, kan mahasiswa-mahasiswa Warshay semua pemula, anak-anak liberal arts tanpa latar belakang bisnis sama sekali).
Jarang sekali saya baca buku bisnis, tapi saya senang karena sekalinya baca buku bisnis, yang dibaca adalah buku ini: buku yang melatih teknik membantu memecahkan masalah di masyarakat melalui inovasi yang berkelanjutan. Recommended.