Di zaman serba empiris materialis gini, para penganut agama tiap hari digempur dengan pertanyaan: ‘Kalau kamu percaya Tuhan, mana buktinya kalau Tuhan ada? Kalau Tuhan Maha Pengasih, kenapa manusia menderita di dunia? Kalau Tuhan Maha Adil, dimana keadilanNya pada yang miskin, sakit, dan terbunuh tanpa alasan?’ Sejak Freud, para anti agama memiliki senjata olok-olok psikologis: agama hanyalah ciptaan manusia pada fase kanak-kanak, demi menjaganya dari serangan neurosis. Karl Marx menambahkan senjata ekonomi: agama adalah candunya masyarakat (miskin), membuai mereka dengan janji surga, sehingga lupa bahwa mereka berhak atas surga di dunia. Mereka harus melupakan agama sehingga bisa melakukan revolusi di dunia, melawan kaum kapitalis-borjuis yang korup. Nietzsche menolak mengakui Tuhan yang maha hebat. Semua gelar kehebatan seharusnya diserahkan pada manusia: manusialah yang berjuang dan bergerak untuk mengubah nasib mereka sendiri. Tuhan ga berguna, tanganNya tak pernah turun mencampuri nasib manusia. Karena itu pekik Nietzsche: Tuhan telah mati.
Judul buku: Seven Theoris of Religion: dari Animisme E.B. Tylor, Materialisme Karl marx, hingga Antropologi Budaya C. Geertz.
Penulis: Daniel L. Pals
Penerbit: Kalam, 1996
Tebal: 489 halaman
Buku ini sebenarnya membahas tujuh teori-teori agama. Pertanyaan yang ingin dijawab adalah: ‘Apakah agama itu? Apa penyebab munculnya agama? Apa manfaat agama?’. Tentu saja semua ini adalah pertanyaan yang akan dijawab dari sisi ilmu sosial, bukan teologis. Pak Daniel menulis dengan detil teori-teori yang diajukan oleh tujuh tokoh yang dianggap mewakili masing-masing sudut pandang dalam teori agama: E.B. Tylor, Sigmund Freud, Emile Durkheim, Karl Marx, Mircea Eliade, Evan Pritchard, dan satu nama yang kayaknya kita sebagai orang Indonesia pasti pernah dengar: Clifford Geertz. Lho, Nietzsche ga ada? Pandangannya dianggap mirip dengan Freud, jadi ga dipilih.
Tujuh teori agama kira-kira seperti ini:
1. Teori agama yang dibangun dari perbandingan antar agama mulai dari agama primitif sampai agama terorganisasi yang modern
2. Teori agama dari sudut pandang psikologi
3. Dari sudut pandang antropologis
4. Dari sudut pandang ekonomi materialisme
5. Mengenai hubungan antara yang sakral dan yang profan
6. Penyelidikan antropologis sistematis pada masyarakat tertentu
7. Membandingkan praktek satu agama pada dua masyarakat yang berbeda
Terus terang, cara penulisan pak Daniel terlalu detil kalau untuk dibaca masyarakat umum. Buku ini lebih cocok jadi buku rujukan kuliah. Jadi aku pilih bagian yang menarik saja dari kesimpulannya:
1. Sebenarnya sangat sulit menegakkan satu teori mengenai agama, karena banyaknya agama dan masing-masing memiliki perbedaan signifikan antara satu dengan yang lainnya. Jadi sebuah teori umum akan selalu ada pengecualiannya: Agama adalah ‘A’ kecuali untuk agama ini dan itu. Misalnya, tidak semua agama punya konsep jelas mengenai ‘yang disembah’, tidak semua punya kitab suci, tidak semua punya ritual pasti, dan tidak semua memiliki pandangan kehidupan setelah mati. Setiap agama adalah unik.
2. Beberapa agama sebenarnya lebih tepat disebut jalan hidup, karena bersifat praktis. Apa yang dilakukan oleh sebuah masyarakat untuk bertahan hidup, menegakkan hukum internal, serta memberi ketenangan, itulah agama mereka, walaupun tanpa konsep-konsep adikuasa.
3. Sebuah agama bisa memiliki ekspresi praktek yang sangat berbeda karena hidup di budaya yang berbeda. Contohnya hasil penelitian Clifford Geertz mengenai Islam di Jawa dan Maroko. Semua tergantung pada tatanan masyarakat, pengaruh politik, dan sejarah masing-masing bangsa.
4. Pembagian agama yang sering disederhanakan menjadi: animisme agama primitif sedangkan agama wahyu adalah agama modern, sesungguhnya terlalu menggenalisir. Kenyataannya, keyakinan lama dan baru hidup seiring sejalan, terpelihara dalam gaya hidup masyarakat.
Memang sulit untuk mendefinisikan agama, karena agama meliputi seluruh sistem kehidupan masyarakat. Kita hanya bisa meneropongnya dari sudut-sudut tertentu. Karena itu masing-masing teori punya kelebihan dan kelemahan masing-masing. Pada akhirnya, penganut agama dipersilahkan untuk memahami sendiri manfaat agama untuk diri dan masyarakatnya. Apakah agama yang dianutnya memberi kebaikan? Apakah pantas mengatas namakan agama untuk berbuat kerusakan? Mari sama-sama kita renungkan.