Kemarin baca artikel tentang atlet ski China yang dibully netizen karena jatuh saat tampil di Olimpiade sehingga menempati urutan terakhir. Sambil membahas bullying, artikel itu menyebutkan buku Shame Nation. Karena penasaran jadi langsung pinjem ebooknya.
Shame Nation: The Global Epidemic of Online Hate
Sue Scheff
Source Books (2017)
352 hal
Sue Scheff menjadi aktivis internet safety setelah mengalami cyberbullying melalui suatu forum parenting (kurang tahu detailnya, nggak diceritakan di buku ini).
Scheff bertanya-tanya, mengapa kita (dia mengacu kepada Amerika, tapi saya pikir ini berlaku di seluruh dunia) jadi begini? Budaya memaki, menghakimi, dan menjatuhkan di internet seakan menjadi sesuatu yang normal?
How have we become this “Shame Nation”?
Kalau jaman pra-internet, yang seperti ini mungkin jangkauannya hanya sekitar gosip tetangga, dan kalaupun lebih luas, paling selevel koran, radio dan televisi (lokal). Di jaman internet, data menyebar dengan cepat, jangkauannya global, dan tercatat secara permanen. Online shaming daya hancurnya lebih dahsyat.
Di internet orang bisa jadi kejam karena
– anonim
– berjarak atau tidak kenal dengan si korban
– mob mentality (berani karena banyakan)
– tidak ada penjaga (tidak ada moderator)
– tidak ada konsekuensi/hukuman
padahal orang-orang ini aslinya ‘orang baik kok’. Konon ini istilahnya ‘online disinhibition effect’, perilaku online bisa sangat berbeda dengan offline.
Buku ini dibagi 3 bagian:
I. The Rise of Shame Nation
Bagian ini bercerita tentang kasus-kasus online shaming, bullying, dan harassment, yang bisa menghancurkan kehidupan korban. Padahal kadang akibat netizen tidak tahu cerita keseluruhan dari sepotong berita online tersebut.
Banyak macam kasus yang diceritakan di sini, misalnya ttg sekumpulan ibu-ibu yang bikin grup buat ngomentarin ‘ugly babies’, lalu ketika diingatkan malah bilang kira-kira “Suka suka kita dong, this is a free country!”
Atau seseorang yang membroadcast pertengkaran pasangan di pesawat lewat twitter. Ybs pun tidak merasa bersalah melakukannya. “Salah sendiri bertengkar di publik, yang usil kayak saya bakal melakukannya.”
Kalau lihat medsos sekarang, memang sepertinya netizen merasa hal seperti itu ‘normal’ ya. Tanpa sadar kita semua melakukannya. Menurut penelitian psikolog Stanford & Cornell tahun 2017, “under the right circumstances, anyone can become a troll”.
Menurut Scheff salah satu penyebab perilaku seperti ini karena kita tidak mengajari anak-anak berempati sedari kecil.
II. Preventing and Surviving an Onslaught
Bagian ini membahas tentang internet safety, bagaimana menjaga privasi online, menghadapi cyberbullying, dan bagaimana sebaiknya kita berlaku online.
III. Beyond the Shaming
Di sini Scheff mendaftar gerakan dan organisasi yang bekerja melawan cyberbullying.
***
Buku ini sebenarnya buku ringan dalam artian bahasannya tidak mendalam. Sebetulnya bahasannya common sense, dalam hati terdalam kita juga tahu kalau berlaku seperti ini nggak bagus.
Jadi lebih mirip artikel panjang (dan jadi panjangnya karena banyak contoh kasus dan ilustrasi screenshot, bukan karena pembahasan akademik). Tapi yang membuatnya berat (dan penting) adalah topiknya.
Silakan baca buku ini sebagai bahan edukasi melawan online shaming dan bullying. Intinya sih “Choose kindness, be positive.”
Oya, sekadar meneruskan pertanyaan Scheff di akhir buku:
“The next time you witness online hate, what will you do?”