Richard Feynman, fisikawan teori pemenang Nobel Fisika tahun 1965, terkenal dengan kemampuannya ‘membumikan’ konsep-konsep fisika yang rumit ke dalam bahasa yang mudah, sehingga kuliah-kuliahnya selalu menarik banyak peminat.
Ada banyak buku berisi kumpulan kuliah, pidato, dan wawancara Feynman dari berbagai penerbit.
Saya punya 3 buku Feynman, “Surely You’re Joking, Mr. Feynman” (1985), “What Do You Care What Other People Think” (1988) (dua ini bisa dibilang ‘original Feynman books’ terbitan Norton, ditulis oleh Ralph Leighton) dan The Pleasure of Finding Things Out: The Best Short Works of Richard Feynman (Basic Books, 1999). Isinya banyak yang sama, jadi mungkin bisa disatukan aja ya reviewnya.
Saran saya sambil baca buku-buku Feynman, lihat juga video kuliahnya, atau dokumenter BBC “The Pleasure of Finding Things Out” (1981), karena buku-buku ini disampaikan seperti ngobrol, seolah-olah Feynman sedang bercerita ke temannya (memang ditulis temannya, Ralph, tapi disampaikan dari sudut pandang orang pertama “I, Feynman”).
Kalau sudah lihat videonya, sambil baca jadi kebayang cara Feynman bercerita yang semangat, iseng, jail, keukeuh (dalam artian determined), dan apa adanya nggak ‘jaim’.
***
Bagi saya yang paling menarik dari buku-buku Feynman bukan kisah hidup atau pencapaian intelektualnya, melainkan rasa ingin tahunya yang sangat besar, determinasinya ‘ngulik’ suatu problem sampai ketemu jawabannya, kemampuannya menjelaskan konsep sains yang rumit dalam bahasa yang mudah, serta sikapnya yang nggak sok pintar dan sok ‘tinggi’ meskipun ia ilmuwan peraih Nobel.
Ayahnya sangat mempengaruhi karakter Feynman. Sejak kecil ia mengajari anaknya untuk mengamati dunia sekeliling apa adanya, tidak membeda-bedakan manusia dari status dan jabatannya, serta ‘menerjemahkan’ segala sesuatu menjadi sederhana dan dapat dimengerti oleh anaknya.
Ada dua cerita Feynman yang paling saya suka, ketika ayahnya mengajarinya tentang nama burung, dan tentang keindahan bunga.
Dikisahkan sewaktu kecil ia dan ayahnya jalan-jalan berdua ke hutan, mengamati berbagai hal. Suatu hari ada anak tetangga yang menunjukkan seekor burung dan berkata “Kau tahu apa itu?”, tanyanya. Richard menjawab, “Aku tak tahu sedikitpun itu apa.” “Itu burung (nama lokal si burung tsb). Ah, ayahmu tidak mengajarimu apapun!” cemooh anak itu.
Menurut Richard, ketika ia dan ayahnya berjalan-jalan di hutan sebetulnya mereka juga mengamati burung tersebut. Tetapi ayahnya memberitahu “Burung itu nama lokalnya anu, di bahasa Cina namanya anu, di bahasa lain namanya anu, dll. Tapi tidak ada yang tahu makhluk apakah dia itu sebenarnya.” Intinya, nama bisa berbeda, kita bisa merasa tahu sesuatu dari hanya namanya saja, ‘burung’ ‘nama burung’, tapi bendanya sendiri bukan sekadar nama.
Jadi dari kecil ayahnya sudah mengajarkan bahwa mengetahui nama sesuatu tidak sama dengan mengetahui hakikat benda itu. Pada hakikatnya manusia itu tidak tahu apa-apa.
Dalam “The Beauty of a Flower” diceritakan tentang temannya, seorang seniman, yang menganggap ilmuwan tidak bisa melihat indahnya bunga karena “you…take this all apart and it becomes a dull thing”. Menurut Feynman, sebagai ilmuwan, selain bisa mengagumi keindahan bunga secara visual, ia juga bisa mengapresiasinya lebih dalam justru karena mengetahui proses fisika dan biologi yang terjadi pada bunga itu, bagaimana sel-sel di dalamnya bekerja, bagaimana gelombang cahaya merefleksikan warna sehingga serangga menyukainya, dll.
Ketika menyampaikan sesuatu, Feynman sangat straighforward, apa adanya, nggak basa-basi, nggak suka dengan kalimat-kalimat berbelit-belit dan kata-kata yang ‘terdengar rumit’ untuk menjelaskan sesuatu yang sebetulnya sederhana.
Ia juga nggak takut dibilang bodoh dan naif, nggak gengsi mengaku atau menjawab “Aku tidak tahu”.
“I don’t know a great deal. I have a limited intelligence and I use it in a particular direction.”
Feynman juga tidak peduli dengan Nobel dan penghargaan lainnya. Semua itu nggak ada artinya buatnya “I’ve already got the prize. The prize is the pleasure of finding the thing out.”
Dalam tulisan “The Value of Science” yang menurut saya isinya sangat-sangat spiritual (meskipun disampaikan oleh Feynman yang atheis, dalam bahasa scientist), ia kurang lebih mengatakan bahwa ‘mengakui bahwa kita tidak tahu akan membawa kita ke jalan menuju jawaban’.
Kepada para ilmuwan, ia berpesan “If we want to solve a problem that we have never solved before, we must leave the door to the unknown ajar…Our responsibility is to do what we can, learn what we can, improve the solutions, and pass them on.”
Inspiratif.