(Request dari mba Andri Ani : tambahan review buku The Age of A.I bab “A.I and Human Identity”.)
======
Sepanjang sejarah, manusia dipahami sebagai makhluk yang level intelegensinya lebih superior dibandingkan makhluk lainnya. Dari intelegensi superior inilah muncul produk-produk budaya dan pemikiran (termasuk komputer dan A.I) yang selanjutnya memajukan kemanusiaan sampai seperti sekarang ini.
Saat ini A.I (yang sebetulnya adalah produk pemikiran manusia) dengan proses deep learningnya menjadi ‘the other intelligence’ yang membuahkan hasil yang setara atau kadang lebih tinggi (dan lebih cepat!) dari daya pikir manusia.
A.I mampu mengalahkan manusia dalam permainan catur, dengan langkah-langkah orisinal yang belum pernah terpikirkan sebelumnya (AlphaZero).
A.I mampu menghasilkan temuan sains yang penting di bidang mikrobiologi (halicin).
A.I tipe generator bisa ‘berkreasi’ menghasilkan dokumen teks (GPT3) atau gambar digital (Dall-E).
A.I pada perkembangannya akan mampu melakukan hal-hal yang tadinya hanya bisa dilakukan oleh para (manusia) profesional. Sopir, pilot, astronot, dokter, dan entah apa lagi. Bahkan, A.I diprogram untuk selalu mampu belajar dan menjadi lebih baik, tanpa mengenal kemalasan seperti manusia (ouch!).
Selama ini ada dua hal yang menjadi prinsip panduan manusia memahami realitas: iman dan akal. A.I, dengan kemampuannya mengungkap fakta-fakta baru yang tidak terpikir sebelumnya oleh manusia, menjadi yang ketiga.
Lalu apa arti ‘menjadi manusia’ di era seperti ini? Manusia akan mengalami krisis identitas.
Pada akhirnya manusia akan harus beradaptasi. Tetapi adaptasi ini apakah akan membawa kebaikan atau sebaliknya?
Saat ini saja dengan adanya information overload dari Internet, medsos, kemampuan manusia untuk berpikir fokus dan mendalam sudah berkurang (..aduh jadi kesindir). Apalagi di era ketika berbagai hal diatur dan dipilihkan oleh A.I.
Hal lain, kerja A.I yang berusaha mengoptimalkan user experience berdasarkan preferensi, makin lama akan mempertajam perbedaan antara satu individu dengan lainnya. Ibaratnya, A.I membangun dinding echo chamber yang tebal antar individu berdasarkan preferensi masing-masing.
Karenanya, menurut Huttenlocher, sebelum semua itu terjadi, semua yang berkepentingan (pemimpin, filsuf, ilmuwan, budayawan, dll) perlu berdialog memetakan jalan, sebatas mana dan seberapa jauh peran A.I dalam kehidupan manusia. Aspek mana yang tetap diserahkan kepada manusia, dan mana yang berupa kolaborasi atau malah diambil alih A.I sekalian.
“The A.I. revolution will occur more quickly than most humans expect. Unless we develop new concepts to explain, interpret, and organize its consequent transformation, we will be unprepared to navigate it or its implications.”
Review The Age of A.I
https://www.facebook.com/bookolatte/posts/pfbid021WgDVFKsUkKmEzQk5yAV875qBmxe4noxVodMoj5B4vBzKZ4uQrHBQNhUNjzNYt6Gl