Cart

Your Cart Is Empty

The Age of Cryptocurrency: How Bitcoin and Digital Money Are Challenging the Global Economic Order

The Age of Cryptocurrency: How Bitcoin and Digital Money Are Challenging the Global Economic Order

image

Author

Ani

Published

Januari 20, 2024

The Age of Cryptocurrency: How Bitcoin and Digital Money Are Challenging the Global Economic Order

Paul Vigna & Michael J. Casey
St.Martin’s Press (2015)
357 hal

Sejujurnya, saya tidak tahu banyak tentang cryptocurrency, baru mulai dengar kata ‘cryptocurrency’ juga tahun kemarin, lalu sedikit-sedikit baca berita-berita terkait kalau ada yang menarik. Jadi saya membaca buku ini sebagai seorang yang sangat awam.

Nah, sebagai bacaan orang awam, buku ini sangat bagus menjelaskan secara lengkap konsep cryptocurrency umumnya dan Bitcoin khususnya.

Penulisnya, Paul Vigna dan Michael Casey adalah dua wartawan Wall Street Journal yang berpengalaman membahas dunia bisnis dan finansial di berbagai media, termasuk radio dan TV. Mereka bukan ‘crazy bitcoin people’ (meminjam istilah David Birch, pakar transaksi digital penulis buku The Currency Cold War), jadi bisa bercerita tentang cryptocurrency dan bitcoin secara menyeluruh dari sudut pandang orang luar yang relatif obyektif.
Tapi mereka mengakui, dari hasil observasi mereka tentang perkembangan dunia finansial, bahwa cryptocurrency is a big and real thing, bukan sekadar trend (Pernyataan ini terdengar agak aneh sekarang, kalau melihat tingginya nilai bitcoin. Tapi jangan lupa, buku ini diterbitkan 6 tahun yang lalu ketika bitcoin masih berumur 6 tahun, harga tukarnya paling tinggi $1000 di tahun 2013 -yang lalu turun jauh ketika buku ini terbit- sementara saat ini sudah mencapai $66000, dan kapitalisasi pasar crypto global sudah mencapai di atas 2 trilyun dollar).

Mereka mulai dengan menjelaskan sejarah uang dan sistem pembayaran dari jaman kuno sampai modern. Kemudian menerangkan awal mula sistem perbankan, yang dimulai oleh keluarga Medici di Florence Italia di jaman Renaissance, yang mana bank menjadi perantara (middleman) transaksi keuangan, dilandasi kepercayaan dari penyimpan dan peminjam uang. Pendapatan mereka adalah dari biaya jasa perantaraan itu. Sistem yang terpusat di bank ini bertahan dan berkembang menjadi sistem keuangan utama yang dipakai secara global hingga saat ini.

Namun kepercayaan publik terhadap institusi keuangan terpusat ini seringkali dikhianati, akibat banyak praktek tidak bertanggung jawab yang merugikan publik, yang di antaranya berujung pada krisis ekonomi global tahun 2008. Di tahun ini pulalah, muncul Satoshi Nakamoto meluncurkan ide cryptocurrency bitcoin, dengan teknologi distribusi ledger (catatan data transaksi) yang dinamakan “blockchain”, yang menghapuskan fungsi institusi keuangan seperti bank sebagai perantara pusat. Desentralisasi, adalah kata kunci konsep cryptocurrency.

Ini suatu hal yang revolusioner, karena dengan tidak adanya perantara, transaksi keuangan bisa dilakukan secara langsung antara si A dan B dengan jauh lebih murah, bahkan bisa jadi tanpa biaya sama sekali. Teknologi ini juga bisa menjangkau mereka yang tidak punya rekening bank (istilahnya: the unbanked) karena berbagai alasan. Dicontohkan anak perempuan di Afghanistan yang mengikuti program literasi digital di sekolahnya, menerima pembayaran lewat bitcoin karena ia tidak dibolehkan mempunyai rekening bank oleh orangtuanya, atau kalaupun punya, uangnya diambil oleh laki-laki di keluarganya. Bitcoin tersebut kemudian bisa ditukar dengan voucher untuk membeli barang online.
Intinya, cryptocurrency memiliki banyak nilai positif dan berpotensi menggantikan sistem keuangan via perbankan.

Siapa sih Satoshi Nakamoto ini? Sampai sekarang tidak ada yang tahu, bahkan komunitas Bitcoin sendiri. Dia mungkin satu orang, atau satu grup, tapi sampai saat ini identitasnya tidak diketahui selain nama yang digunakannya. Banyak spekulasi tentang identitasnya, bahkan tahun 2014 majalah Newsweek pernah mengklaim mengetahui identitas Satoshi sebagai Dorian Nakamoto, seorang penduduk Los Angeles. Tapi klaim ini dibantah oleh akun Satoshi yang tiba-tiba muncul lewat pesan “I am not Dorian Nakamoto”.

Cryptocurrency dan teknologi blockchain awalnya hanya suatu eksperimen di kalangan techies, kemudian mulai berubah ketika suatu hari seorang bitcoiner di Florida melakukan transaksi bitcoin untuk membeli pizza! Ia mengirim bitcoin ke bitcoiner di London, dan orang ini membeli pizza online dengan kartu kredit dan mengirimnya ke alamat lokal Florida. Bitcoin bisa digunakan sebagai uang untuk membeli barang betulan! Dari situ penggunaan bitcoin semakin meluas.

Buku ini membahas secara luas perkembangan bitcoin dari awal, dari komunitas techies yang berkembang di simpul-simpul ‘hacker house’, sampai mendunia dan dilirik investor-investor besar. Bagaimana cara kerja blockchain, apa yang dimaksud dengan ‘mining’, dan mengapa bitcoin mining menghabiskan listrik begitu besar. Apa saja manfaat cryptocurrency dan teknologi blockchain, siapa saja yang diuntungkan dengan teknologi ini (kalau yang dirugikan, tentu saja institusi ‘middleman’ yang akan kehilangan pekerjaan).
Juga diceritakan tentang potensi penggunaan teknologi blockchain sebagai basis teknologi lainnya selain untuk sistem pembayaran (misalnya transaksi surat kontrak yang biasanya harus pakai pengacara dan notaris). Kurang lebih seperti teknologi Android yang menjadi basis macam-macam aplikasi.

Sebagai sebuah teknologi baru, blockchain dan cryptocurrency sangat dinamis dan seru, naik turun seiring perkembangan teknologi yang sangat cepat. Kadang terbentur masalah teknis besar dan kecil, atau regulasi. Namun dari setiap masalah yang ditemukan, muncul solusi bahkan inovasi baru. Inilah cara manusia belajar dan maju.

Potensi cryptocurrency mengubah dunia tidak bisa dipungkiri, apalagi di era yang semakin terkomputerisasi dan terhubung internet secara global. Tinggal bagaimana dunia beradaptasi dengannya.

***

Beberapa catatan pribadi setelah membaca buku ini:

1. Satoshi Nakamoto, siapapun dia, layak dapat Nobel Prize bidang ekonomi. Tapi mengingat nilai tukar dollar Bitcoin saat ini di atas $60ribu, dan juga mengingat semangat berbagi Satoshi dan komunitas awal bitcoin, saya yakin dia (atau mereka) akan mempersilakan orang lain mendapatkan Nobel dan hadiah uang sejuta dollarnya.
Melihat kemisteriusannya di balik kesuksesan bitcoin, dia tidak butuh pengakuan dan uang sejuta dollar. Toh tanpa Nobel pun inovasinya diakui sudah mengubah dunia.
2. Hacker house dan tempat kumpul-kumpul komunitas techies seperti 20Mission mengingatkan saya pada cafe-cafe Paris dan Vienna awal abad 20an (baca review buku The Artist and the Mathematician), penuh obrolan intelektual yang inovatif dan kreatif. Silicon Valley berangkat dari simpul-simpul inovasi seperti ini, bukan berawal dari real estate di suatu valley (berhubungan dengan yang pernah saya baca tentang rencana ‘Silicon Valley’-nya Jawa Barat, yang malah membuka lahan baru jauh dari kota). Menurut saya kalau mau bikin Silicon Valley ala Indoneisa, kuncinya adalah kedekatan dengan pusat-pusat pendidikan dan teknologi serta kemudahan networking.
3. Buku ini diterbitkan tahun 2015. Sejak saat itu perkembangan teknologi cryptocurrency berjalan sangat pesat. Altcoin dengan teknologi blockchain kini ada ribuan jumlahnya. Seiring perkembangannya, ditemukan juga kelemahan-kelemahan blockchain, di antaranya tidak bisa memecahkan trilema cryptocurrency (istilah dari Vitalik Buterin, pendiri Ethereum. Trilema ini adalah security, decentralization, dan speed) dan terpaksa harus fokus di security & decentralization saja, mengorbankan speed. Selain blockchain, ada alternatif-alternatif lain teknologi distributed ledger, misalnya (yang saya tahu) Hedera Hashgraph (struktur data hashgraph tidak menggunakan miner untuk validasi transaksi) dan IOTA Tangle (menggunakan struktur data DAG/Directed Acyclic Graph). Kelebihan teknologi Tangle, yang dikembangkan periset dan developer di Eropa, ia mengklaim bisa memecahkan trilema cryptocurrency dalam waktu dekat, dan ketika itu terjadi kecepatan transaksi akan berkali-kali lipat lebih cepat daripada blockchain.
Kita tunggu saja perkembangan selanjutnya.

Join Us

Book

O Latte

Follow IG untuk membaca review kami

Join Us on Spotify

Our Location

My Place

The place I like the most

Get Direction