Judul buku ini bikin penasaran: memang apa hubungannya kalkulus sama pertemanan? Memang pertemanan ada itung-itungan kalkulusnya? (Maklum, dulu matakuliah kalkulus saya di kampus dapat jelek karena nggak ngerti kalkulus itu apa). Tapi ternyata menurut Steven Strogatz, ya, dalam pertemanan juga ada kalkulus, karena kalkulus adalah matematika yang mengekspresikan perubahan.
The Calculus of Friendship: What a Teacher and a Student Learned about Life While Corresponding about Math
Steven Strogatz
Princeton University Press (2009)
166 hal
Steven Strogatz adalah profesor matematika terapan di Cornell University, juga aktif mempopulerkan matematika dan sains dalam bentuk buku, podcast, dan mengisi kolom matematika di New York Times. Sebagai dosen, ia berkali-kali meraih penghargaan tentang pengajaran dan komunikasi ilmu, baik di tingkat kampus, nasional, maupun internasional.
Perjalanan hidupnya menjadi seorang matematikawan tidak lepas dari jasa guru kalkulusnya semasa SMA, Don Joffray. Dan buku ini adalah memoar yang bercerita tentang perjalanan hidup Strogatz yang paralel dengan korespondensinya selama puluhan tahun dengan gurunya, Mr. Joffray ini, yang kemudian ia panggil lebih akrab dengan “Joff”.
== FYI, kelas kalkulus di SMA ini tidak termasuk kurikulum standar lho ya. Di Amerika ada program advanced placement (AP) untuk murid-murid berbakat di mata pelajaran tertentu. Untuk mata pelajaran matematika ada kelas AP Calculus AB (setara kalkulus semester 1) dan Calculus BC (setara kalkulus semester 1&2)==
Buku ini mencatat pertemanan Strogatz dan Mr.Joffray dari tahun 1974 sampai 2008. Bab-babnya dibagi selain secara kronologis juga tematik, di mana aspek pertemanan ‘Steve & Joff’ pada rentang waktu tersebut dapat diekspresikan melalui konsep-konsep dalam kalkulus.
Misalnya di bab pertama “Continuity (1974-1975)”, Strogatz menulis seperti ini:
“Calculus thrives on continuity. At its core is the assumption that things change smoothly, that everything is only infinitesimally different from what it was a moment before…..Unfortunately, my correspondence with Mr.Joffray is riddled with discontinuities. Letters were lost or discarded. Those that remain are fragmentary and emotionally muted, and sometimes prone to half-truths, silver linings, and deliberate omissions.”
— tsk, bagus banget sih bahasa tulisan pak Strogatz ini —
Strogatz bertemu Mr. Joffray di kelas 11. Sebelumnya, di kelas precalculus ia diajar oleh guru lain yang mengajar dengan cara ‘hafalkan rumus dan kerjakan soal’. Kelas Mr. Joffray lain. Ia membuat matematika seperti permainan teka-teki. Misalnya datang-datang ke kelas pak Joffray langsung ngasih soal “Misalkan ada kambing diikat di pohon dan mencoba melepaskan diri, tapi malah muter-muterin pohon itu. Temukan persamaan jalur spiral si kambing!”
Aneh sekali, tulis Strogatz, dia nggak pernah ngerjain matematika seperti ini. Tapi ini menyenangkan!
Pak Joffray adalah guru yang dekat dengan murid-muridnya, dan pandai mengenali bakat murid-muridnya. Murid-murid paling pintar, termasuk Strogatz, dipisahkan dan diberi soal-soal lebih sulit dan menantang untuk dipecahkan.
Lulus SMA, Strogatz yang melanjutkan ke Princeton kadang menyurati pak Joffray sekadar kirim-kirim soal kalkulus ‘for fun’. Dan ini terus berlanjut dengan pertanyaan-pertanyaan pak Joffray sehubungan dengan kelasnya. “Steve, muridku ada yang nanya ini. Aku agak bingung ngejelasinnya, menurutmu bagaimana?” Lalu Strogatz membahas solusi-solusinya. Surat-surat mereka bener-bener isinya ngomongin soal-soal kalkulus kayak ngobrol santai aja. Makanya buku ini banyak halaman yang saya skip karena memang nggak ngerti, haha!
Setelah Strogatz jadi dosen matematik di MIT, dan artinya ia dan pak Joffray sama-sama guru, ia pun semakin akrab dan memanggil gurunya “Joff”. Korespondensi terus berlansung bahkan sampai Joff pensiun, dan di akhir-akhir buku, mulai sakit-sakitan. Banyak cerita yang menyentuh di buku ini (soal-soal kalkulusnya juga menyentuh… menyentuh titik pusing di kepala).
Buku ini ditulis Strogatz sebagai tanda cinta dan terimakasih, sebab pak Joffray telah membuatnya belajar menjadi guru.
“I’m starting to realize what it was that he gave me. He let me teach him. Before I had any students, he was my students. Somehow he knew that’s what I needed most. And he let me, and encouraged me, and helped me. Like all great teachers do.”
Thank you Mr.Joffray.