Cart

Your Cart Is Empty

The Code Breaker: Jennifer Doudna, Gene Editing, and the Future of the Human Race

The Code Breaker: Jennifer Doudna, Gene Editing, and the Future of the Human Race

image

Author

Ani

Published

Januari 19, 2024

The Code Breaker: Jennifer Doudna, Gene Editing, and the Future of the Human Race

Walter Isaacson
Simon & Schuster (2021)
560 hal

Tahun 1981, seorang gadis SMA di Hawaii menyatakan keinginannya untuk melanjutkan studi di bidang kimia. Ia terinspirasi kisah Rosalind Franklin meneliti struktur DNA. Namun saat itu guru BK sekolahnya menyangsikan. “Girls don’t do science”, katanya. Gadis itu tidak mengindahkannya dan bertetap hati melanjutkan ke jurusan kimia.
Hampir 40 tahun kemudian, Jennifer Doudna, gadis tadi yang kini sudah menjadi ilmuwan biokimia dari Berkeley University, bersama Emmanuelle Charpentier, ilmuwan mikrobiologi dari Perancis, dianugerahi Hadiah Nobel 2020 bidang kimia untuk kolaborasi mereka menemukan metode CRISPR-Cas9 untuk mengedit genom.

Dalam buku ini, jurnalis kawakan Walter Isaacson (penulis buku best seller Steve Jobs) mengisahkan perjalanan Jennifer Doudna meneliti struktur RNA, bertumpu pada berbagai penemuan penting di bidang biologi dan kimia, yang kemudian membawanya bersama Emmanuelle Charpentier dan timnya menemukan ‘gunting gen’ CRISPR-Cas9 tahun 2012.

Buku ini tidak melulu bercerita tentang Doudna, justru mengangkat banyak sekali ilmuwan bidang biologi dan kimia yang ikut berperan dalam perkembangan ilmu genetika.
Nama-nama yang legendaris dan familiar seperti Charles Darwin dan Gregor Mendel tentu mendapat tempatnya dalam sejarah genetika, kemudian juga James Watson, Francis Crick, Maurice Wilkins dan Rosalind Franklin sebagai ilmuwan-ilmuwan abad 20 yang berjasa besar menemukan struktur DNA double-helix. Namun tentu saja porsi terbesar diberikan pada Doudna, Charpentier, dan ilmuwan-ilmuwan abad ini, baik ilmuwan senior maupun murid-muridnya yang saat ini sedang berperan sangat aktif dalam kemajuan pesat sains dan teknologi bidang genetika.

Membaca buku ini seperti membaca novel yang seru, ratusan halaman berlalu tanpa terasa karena alurnya lancar dan cepat, penuh dengan karakter-karakter manusia yang unik, juga penuh intrik.

Lho, memang ada intrik apa di dunia biologi dan kimia?

Diceritakan antara lain tentang persaingan tim Doudna dkk di California dengan Feng Zhang & Eric Lander dari Broad Institute MIT urusan mematenkan penemuan gunting genetik CRISPR-Cas9, adu cepat publikasi paper di jurnal-jurnal ilmiah bergengsi, kekhawatiran para pakar bioetik akan potensi penggunaan CRISPR untuk tujuan yang tidak baik atau sembarangan, yang kemudian terbukti ketika seorang ilmuwan Cina menggunakan metode CRISPR untuk mengedit gen embrio tanpa mengikuti regulasi yang telah disepakati badan internasional, melahirkan 3 ‘bayi editan’.

Sebagai jurnalis senior yang disegani dengan jaringan internasional yang luas (Isaacson pernah berkarir sebagai jurnalis majalah TIME dan CEO CNN), ia relatif lebih mudah mendapatkan akses mewawancara tokoh-tokoh utama dalam ‘drama’ CRISPR ini, sehingga pembaca mendapatkan gambaran lebih menyeluruh tentang apa yang sebenarnya terjadi, dari sudut pandang masing-masing pelaku. Contohnya ketika membahas perseteruan kubu Doudna dan Zhang, ia tidak hanya menyampaikan versi Doudna, tetapi juga memberi kesempatan Zhang untuk menjelaskan versinya. Begitu juga ketika membahas kontroversi seputar James Watson dan komentar-komentarnya yang dinilai sangat merendahkan ras tertentu.

Ketika COVID-19 menyerang dunia akhir 2019, buku ini masih dalam proses penulisan, dan Isaacson berkesempatan mengikuti dari jarak dekat bagaimana peran dan kolaborasi para ilmuwan tadi memanfaatkan CRISPR dalam proses pembuatan tes COVID dan vaksin berbasis mRNA (Pfizer, Moderna), serta penelitian berikutnya yang sedang dilakukan saat ini, yaitu bagaimana mengobati COVID (menghancurkan virusnya, alih-alih vaksin yang ‘hanya’ memicu reaksi imun tubuh yang kadang tidak terduga).

Selain membahas peran para ilmuwan, Isaacson juga dengan detil (namun mudah dipahami awam) menjelaskan bagaimana kerja unsur-unsur sel yang menjadi fokus di buku ini. Apa itu RNA, DNA, CRISPR, bagaimana CRISPR-Cas9 bekerja, dan lain-lain. Ia mengingatkan, sebaiknya kita berusaha memahami bagaimana sesuatu bekerja, sebelum lantang berpendapat tentangnya (Ia memberi contoh tentang GMO dan rekayasa genetik. Kalau boleh saya tambahkan, juga misalnya tentang vaksin dan COVID)

Banyak sekali hal menarik yang dapat diambil dari berbagai cerita di buku ini. Tanpa disangka, pandemi COVID-19 telah memberi banyak pelajaran berharga bagi ilmuwan. Tentang pentingnya kolaborasi antar ilmuwan dan institusi tanpa meributkan paten, tentang opensourcing penelitian untuk mempercepat pertukaran informasi, dan juga pentingnya mengajak masyarakat ikut serta aktif dalam proses bersains (citizen science).

Terakhir, saya ingin menambahkan sebuah hikmah besar:
penemuan metode CRISPR-Cas9 adalah buah dari usaha manusia meneliti sistem imunitas bakteri melawan virus, suatu fenomena alami yang telah berlangsung miliaran tahun. Dengan ‘membaca’ alam, manusia bisa menciptakan teknologi ‘tiruan’ yang serupa tanpa harus melalui proses panjang evolusi miliaran tahun, yang kemudian dapat digunakan untuk kebaikan keseluruhan makhluk di bumi.
Maka, bacalah.
Iqra.

Join Us

Book

O Latte

Follow IG untuk membaca review kami

Join Us on Spotify

Our Location

My Place

The place I like the most

Get Direction