Waktu browsing rak Architecture di SNFL beberapa waktu lalu nemu buku ini, dan inget kalau masih punya file reviewnya (sisa-sisa ngeblog di Multiply). Dulu baca buku ini dalam rangka bikin paper buat konferensi ArtePolis 2 di AR ITB (2008) yang bertema “Creative Communities and The Making of Place”.
The Great Neighborhood Book : A Do-it-Yourself Guide to Placemaking
Jay Walljasper
New Society Publishers (2007)
192 hal
Di saat kita sudah putus asa dengan kebijakan pemerintah kota yang seolah-olah lupa untuk menomorsatukan penduduknya dalam kaitannya dengan penyediaan ruang publik yang baik dan bermanfaat, membaca buku ini rasanya ada semangat baru, suntikan motivasi, bahwa : “Kalau pemerintah nggak peduli, yuk kita kerjain sendiri aja! Nih petunjuk praktisnya, kalo memang mau bisa kok”
Buku ini disusun oleh Jay Walljasper, Senior Fellow di Project for Public Spaces, sebuah organisasi nonprofit internasional yang bekerja “menghidupkan kembali” ruang-ruang publik yang “mati” dengan pendekatan community-based.
Dalamnya berisi petunjuk “how-to” yang diilhami dari kumpulan contoh lingkungan-lingkungan yang ‘sukses’, yang suasananya hidup, bersahabat, dan mengundang orang untuk berinteraksi dan bersosialisasi.
Mudah? Tentu tidak. Butuh visi, kemauan, leadership, dan partisipasi masyarakat untuk bisa terwujud. Bahkan sebuah bangku di sudut jalan lingkungan bisa mengubah suasana lingkungan tersebut dan memicu lebih lekatnya hubungan antar tetangga.
Tidak banyak teori-teori memusingkan, yang ada adalah cerita-cerita tentang manusia dan hubungan baik mereka dengan lingkungannya.
Sebenarnya kata penyusunnya, buku ini bertujuan untuk menyorot kesuksesan “everyday people” dalam menghidupkan lingkungannya, sehingga memberi inspirasi bagi para pembaca untuk melakukan hal yang sama. Everyday people di sini maksudnya penduduk yang bukan pejabat atau yang punya kuasa membuat kebijakan dalam hal penataan lingkungan/kota.
Yang mereka lakukan mulai dari yang simpel semacam menyediakan bangku di halaman depan rumahnya (membuka sebagian pagar rumahnya untuk memasang bangku itu, soalnya kan dia ga boleh bikin di trotoar yg bukan milik dia) supaya tetangga-tetangga bisa istirahat atau bersosialisasi di situ, hingga yang berskala lebih besar, di mana seorang ibu mengajak komunitas lokal untuk menghidupkan kembali taman di lingkungan mereka yang jadi tempat nongkrong preman lokal. Para preman itu malah juga diajak sama-sama berpartisipasi.
Kesamaan orang-orang ini adalah, mereka punya dedikasi untuk mengubah lingkungan mereka menjadi lebih baik. Pola pikirnya sama : mereka sadar ada masalah di lingkungan sekitar mereka, mereka sadar kalau tidak bisa menunggu aksi dari pemerintah. Lalu, mereka memasyarakatkan visi atau ide mereka ke komunitas terkait. Merekalah para ‘local heroes’.
Berikut ini adalah 4 karakteristik yang membentuk lingkungan yang baik :
– lingkungan yang baik mendorong terjadinya interaksi sosial
– lingkungan yang baik menawarkan banyak kegiatan
– lingkungan yang baik terasa nyaman dan terlihat menarik
– lingkungan yang baik mudah diakses publik
Dan berikut ini adalah 11 prinsip “Placemaking”:
1. The community is the expert.
Komunitas setempatlah yang paling tahu apa yang terbaik untuk lingkungan mereka, karena mereka yang sehari-harinya tinggal di situ. Apa yang dibutuhkan, dan apa yang harus dilakukan.
2. You are creating a place, not a design.
Pengelolaan dan partisipasi masyarakat setempat lebih penting daripada blueprint rancangan.
3. You can’t do it alone.
Partner yang tepat akan memperkaya ide-ide inovatif, sumber daya, dan energi untuk bekerjasama.
4. They’ll always say “It can’t be done”
Kalau ada yang bilang begitu, biasanya maksudnya adalah “We’ve never done it like this before”. It’s a sign you’re on the right track.
5. You can see a lot by just observing.
Cara cerdas memperbaiki lingkungan : amati dan perhatikan, what works and what doesn’t.
6. Develop a vision.
Visi ini seharusnyalah datang dari orang-orang di komunitas yang bersangkutan, bukan dari konsultan atau orang luar.
7. Form supports function.
Saat membuat perubahan pada suatu fasilitas umum, jangan melupakan bagaimana orang-orang mempergunakan fasilitas tersebut sebelumnya.
8. Make the connections.
Lingkungan yang baik menawarkan banyak kegiatan, mendorong interaksi yang saling mengisi.
9. Start with petunias.
Hal-hal kecil bisa membawa perubahan besar.
10. Money is not the issue.
Kalau masyarakatnya semangat ingin berubah, masalah keuangan akan teratasi dengan cara-cara kreatif.
11. You are never finished.
80% kesuksesan sebuah lingkungan yang baik tergantung pengelolaannya.
Intinya, “let’s change this world, one place at a time”.
*Seandainya bisa, saya kasih buku ini ke para ketua RT, RW, lurah, camat, kakanwil, walikota, bupati, untuk dibaca, diresapi, dihayati, direnungkan, dan…direalisasikan*