Kalau di buku Musicophilia Oliver Sacks bercerita tentang kasus-kasus neurosains yang berkaitan dengan musik, maka di buku The Mind’s Eye, ia mengeksplorasi bagaimana otak manusia mencerap persepsi visual.
Membaca buku ini, saya jadi ingat sebuah postingan lama di page Humans of New York (HONY), ketika 2 orang dokter mata diwawancara Brandon Stanton. Mereka ditanya “Apa fakta tentang mata yang biasanya orang nggak sadar?”. Mereka menjawab bahwa “Mata tidak melihat, yang melihat adalah otak. Yang kita lihat tidak hanya ditentukan oleh informasi yang datang melalui mata, tapi juga dipengaruhi oleh memori, perasaan, dan apa yang pernah kita lihat sebelumnya.”
The Mind’s Eye
Oliver Sacks
Knopf (2010)
263 hal
Sebelum masuk ke bukunya, di bagian Pengantar buku ini ada cerita menarik, tentang bagaimana Oliver Sacks tumbuh menjadi seorang dokter dan storyteller. Ia berasal dari keluarga dokter (ayah dan ketiga kakaknya dokter umum, sementara ibunya dokter bedah), jadi obrolan di meja makan penuh dengan cerita-cerita medis. Tidak hanya tentang kasusnya sendiri, tapi juga tentang para pasiennya dari sudut pandang kemanusiaannya: kisah hidup, emosinya. Karenanya, seperti ditulisnya di buku The Man Who Mistook His Wife for a Hat, ia tidak suka ke-tidakmanusiawi-an cara dunia modern menuliskan kasus pasien. Ia lebih suka menuliskannya secara menyeluruh dalam catatan klinisnya. Bagi Sacks, para pasiennya adalah juga ‘guru’nya, karena kasus-kasus yang mereka alami, terutama kasus-kasus yang langka, membuatnya banyak belajar dan mengeksplorasi hal baru. Ya ampun pak Sacks ini, dokter jenius yang rendah hati.
Syukurlah ada pak dokter Sacks yang jago bercerita, sehingga dari buku-bukunya saya jadi tahu bahwa persepsi otak mecerap dunia bisa sangat berbeda antara satu individu dengan lainnya. Apalagi kalau fungsinya terganggu.
Seperti misalnya kasus Lilian, seorang pianis terkenal yang secara gradual mulai kehilangan kemampuan membaca not-not di partitur musik, lalu lama-lama juga kehilangan kemampuan membaca tulisan. Simbol-simbol yang dilihatnya tidak memunculkan makna di kepalanya. Kondisi ini dinamakan ‘alexia’. Kasus alexia cukup banyak terjadi, biasanya karena stroke atau brain injury. Pada Lilian, meskipun ia tidak bisa membaca, tapi kemampuan menulisnya tidak terganggu. Istilah medis untuk kondisi ini adalah ‘alexia sine agraphia’. Sacks menjelaskan kondisi yang dialami Lilian sebagai ‘posterior cortical atrophy’ atau PCA, di mana persepsi visual masih bisa dilakukan secara garis besar/kategorikal, seperti mengenali gerak dan warna, tapi sulit mengenali yang lebih mendetail seperti simbol, objek, atau wajah (Mr P, pasien yang menjadi judul buku pertama Sacks, juga mengalami kondisi ini, namun agak berbeda dan lebih parah).
Di buku ini juga diceritakan beberapa kasus aphasia, atau kehilangan kemampuan berbahasa (seperti yang dialami Bruce Willis sekarang). Ternyata aphasia ada macam-macam jenisnya, tergantung area otak mana yang terganggu. Expressive aphasia yaitu ketika seseorang tidak bisa mengekspreksikan pikirannya melalui bahasa. Secara temporer ini bisa terjadi pada siapa saja. Kita pasti pernah mengalami, mau ngomong sesuatu tapi nggak ketemu ‘kata’nya, atau tertukar dengan kata lain. Receptive aphasia yaitu ketika seseorang tidak bisa memahami apa yang ia dengar, meskipun disampaikan dalam bahasa yang (seharusnya) tidak asing baginya. Mungkin rasanya seperti kalau kita mendengar bahasa asing yang tidak kita kenal, terdengar seperti bunyi tanpa makna saja, kan? Secara temporer, bisa juga kita alami, seperti pak Sacks yang mengalaminya ketika migrain.
Jika expressive dan receptive aphasia terjadi sekaligus pada seseorang, maka ia disebut mengalami ‘global aphasia’.
Kasus lain membahas ‘visual agnosia’, atau kondisi di mana seseorang tidak bisa mengenali hal-hal yang sebenarnya sudah biasa dilihatnya (alexia tadi adalah satu bentuk spesifik dari visual agnosia). Howard Engel, seorang penulis dan kolumnis, mengalami stroke ringan dan tiba-tiba tidak bisa mengenali tulisan di koran, bahkan tidak mengenali anaknya sendiri. Tapi seperti Lilian tadi, ia juga tetap bisa menulis. Rupanya stroke tadi mengganggu fungsi inferotemporal cortex, atau “visual word form area” di otak, suatu simpul saraf yang sangat penting dalam menyambungkan berbagai jaringan otak yang dibutuhkan untuk membaca. Dan area istimewa ini hanya dimiliki oleh manusia.
(Luar biasa ya, ternyata kemampuan membaca adalah kemampuan istimewa spesies kita. Sayang sekali kalau tidak dipakai sebaik-baiknya, bukan?)
Buku ini juga bercerita tentang kondisi ‘face-blindness’ atau prosopagnosia, yaitu tidak bisa mengenali wajah selain yang sangat familiar. Jadi kalau ketemu orang dan mereka nggak inget, jangan langsung dituduh sombong ya. Siapa tau mereka punya kondisi prosopagnosia (seperti pak Sacks sendiri yang bahkan nggak ingat wajah pamannya yang jadi objek memoarnya “Uncle Tungsten”). Yang juga menarik adalah cerita tentang kondisi monovision, ketika otak hanya bisa ‘melihat’ dari satu sudut pandang saja (tidak stereo seperti yang terbiasa melihat dengan 2 mata). Sue Barry menjalani puluhan tahun hidupnya dengan monovision, sampai suatu saat penglihatannya dikoreksi menjadi stereovision. Sejak itu ia melihat dunia seperti baru dan luar biasa, punya ‘kedalaman’ yang sebelumnya tidak ada. Setiap saat ia ingin menikmati pemandangan barunya, sesederhana apapun itu (membaca cerita ini saya jadi mikir, ‘sementara kita yang punya stereovision malah take it for granted’)
Banyak sekali informasi yang saya dapat tentang persepsi visual otak dari buku ini, juga tentang betapa fleksibel (/plastis)nya otak beradaptasi terhadap gangguan fungsi di suatu areanya.
Di akhir buku pak Sacks menceritakan pengalamannya sendiri yang kehilangan penglihatan sebelah matanya karena tumor. Renungan dan pemikirannya sebagai seorang dokter neurologi sekaligus pasien yang kehilangan penglihatan terasa sangat menyentuh dan manusiawi. Neurolog juga manusia.
Membaca buku-buku Oliver Sacks membuat saya teringat kata-kata seorang teman dokter neurologi “Manusia nggak boleh sombong. Setitik error (di otak) aja persepsi bisa berubah jauh.”
Makasih diingatkan bu dokter.
(Catatan: itu covernya bukan blur karena kena air hujan yaaa, itu memang desain covernya kayak gitu)
-dydy-