Saya nemu buku ini waktu lagi browsing katalog perpus. Awalnya saya tertarik hanya karena judulnya. Kalau masih ingat, saya pernah berhipotesis bahwa jenius itu mereka yang bisa menangkap pola tersembunyi. Makanya penasaran sama buku ini, yang judulnya memakai kata-kata yang persis, ‘para pencari pola’.
Tidak disangka, buku ini menjawab banyak pertanyaan saya dari tahun lalu (sejak mulai rajin lagi baca buku): tentang jenius, otak, kecerdasan, gen dan hereditas. Pertanyaan-pertanyaan saya ini ‘dijawab’ oleh semesta lewat event-event ‘kebetulan’ (mestakung) melalui perantaraan buku-buku yang saya baca. Cerita lengkap mestakungnya nanti saya tulis di postingan lain, sekarang review bukunya dulu aja ya.
The Pattern Seekers: How Autism Drives Human Invention
Simon Baron-Cohen
Basic Books (2020)
252 hal
Saya sebetulnya agak berhati-hati milih buku psikologi, karena kok kayaknya jaman sekarang semua orang bisa nulis buku tema psikologi (populer) hehehe. Tapi Simon Baron-Cohen ini memang profesor psikologi, psikiater, direktur Pusat Riset Autisme di Cambridge University. Lagipula buku ini mendapat pujian dari ilmuwan-ilmuwan top Steven Pinker dan Martin Rees. Jadi saya pikir, ok, kredibel, layak baca.
Buku ini berangkat dari pertanyaan “Kenapa kok manusia bisa menciptakan (invent) sesuatu, yang tidak terkira ragamnya, sementara makhluk lain tidak? Asal usulnya gimana?”.
Dalam pengalamannya menangani orang-orang di spektrum autistik, Simon melihat kemiripan yang menyolok antara yang didiagnosa autis, dengan para inventor dan jenius. Yaitu, mereka sangat kritis dan fokus (dan cenderung terobsesi) menganalisa dan memahami pola dan sistem, mempertanyakan, bereksperimen, dan mengklasifikasi segala hal.
Karena sudah diketahui bahwa karakteristik autistik itu berhubungan dengan fungsi otak dan genetik, Simon juga jadi menduga bahwa kemampuan inventing (dan jenius) juga karena ada ‘something special’ di otak, tergantung genetik dan bisa diturunkan.
Sebagai psikolog dan periset autisme, Simon sudah meneliti pikiran manusia selama 35 tahun. Dari hasil studinya ia berargumen bahwa:
1. Hanya manusia-lah spesies yang punya mekanisme spesifik di otaknya yang berfungsi mencari pola if-and-then, yang ia namakan ‘Systemizing Mechanism’.
2. Mekanisme ini muncul antara 70-100ribu tahun yang lalu (Sapiens genetic revolution).
3. Mekanisme inilah yang memungkinkan manusia (dan hanya manusia) berkembang menjadi penguasa sains dan teknologi di planet Bumi.
4. Pada otak para inventor, jenius, mereka yang berkecimpung di bidang STEM dan mereka yang perfeksionis dan senang ‘menyempurnakan sistem’ di bidang apapun, mekanisme ini tersetel sensitif (tuned up super high). Jadi pikiran mereka tidak bisa tidak, selalu fokus urusan presisi, detail, akurasi, senang mencari tahu bagaimana suatu hal bekerja, bagaimana membangun dan memperbaiki suatu sistem.
5. Mekanisme ini juga tersetel sangat sensitif pada otak autistik.
6. Systemizing Mechanism is partly genetic. Dan orang autis, orang STEM, dan hyper-systemizer lainnya semua punya gen-gen ini.
Sebagai akademisi, Simon tentu saja tidak sekadar beropini. Di buku ini dijelaskan berbagai riset yang dilakukan untuk menguji hipotesisnya, termasuk studi Brain Types dengan setengah juta partisipan.
Studi ini mengukur Systemizing Quotient (SQ) dan Empathizing Quotient (EQ). SQ mengukur level ketertarikan terhadap sistem (yang mengikuti aturan if-and-then). EQ mengukur sensitivitas seseorang terhadap apa yang dipikirkan atau dirasakan orang lain. Empati di sini lebih ke cognitive empathy ya, bukan affective empathy (perasaan kasihan, kasih sayang dll). Bukan seperti psikopat yang tidak punya affective empathy.
Sirkuit systemizing dan empathizing ini katanya saling tarik-tarikan. Kalau systemizenya naik, empathizenya turun, dan sebaliknya.
Menurut studi ini tipe otak manusia terbagi 5, 3 dominan dan 2 ekstrim.
1. Tipe B (Balanced), yang seimbang SQ dan EQnya.
2. Tipe E (Empathizer), yang cenderung mudah berempati secara alami, tapi kurang tertarik dengan ‘how things work’.
3. Tipe S (Systemizer), systemizer alami yang kurang tertarik berempati.
4. Tipe Extreme E, yang empatinya sangat tinggi tapi kemampuan systemizenya di bawah rata-rata
5. Tipe Extreme S, mekanisme systemizenya sangat tinggi, tapi empatinya di bawah rata-rata. Nah, tipe ini lah yang di dalamnya termasuk orang-orang dengan karakteristik autistik, inventor, dan jenius.
(Ingin tahu tipe otak anda? Silakan dicek di yourbraintype.com. Fyi, saya sama mbak Andri Ani sama-sama tipe S)
Ada beberapa hal lain yang menarik di buku ini:
1. Tipe E kebanyakan perempuan, tipe B seimbang laki-laki dan perempuan, tipe S kebanyakan laki-laki. Tipe Extreme E lebih umum perempuan, tipe Extreme S lebih umum laki-laki, dan keduanya sangat jarang
(Dan katanya kalau perempuan tipe S atau Extreme S, biasanya cenderung lebih maskulin. Kok bener banget ya mba Ani)
2. Bagaimana otak berkembang menjadi tipe satu dan lainnya, dipengaruhi level hormon testosteron & estrogen di dalam rahim ketika fetus sedang tumbuh, DAN faktor genetik. Nurture tentu berpengaruh, tapi ya, harus ada gen-nya dulu. Dan rangkaian gen yang mempengaruhi sirkuit Empathizing dan Systemizing itu berbeda.
3. Persentase keturunan dengan karakteristik autis lebih besar dari pasangan tipe S dan tipe Extreme S. Makanya di technology hub seperti Silicon Valley dan Eindhoven, di mana banyak pasangan engineer & scientist, persentase anak autisnya lebih tinggi dari tempat-tempat lain, seperti terkonsentrasi. (Ya, Simon melakukan studi autis di 2 tempat ini juga. Konon anak-anak alumni MIT juga seperti itu, tapi Simon tidak bisa menelitinya karena presiden MIT tidak menyetujuinya).
Inilah neurodiversity, keragaman otak manusia yang perlu dipahami dan diapresiasi semuanya, alih-alih dikotomi normal vs abnormal, superior vs inferior, dll.
Keragaman jenis otak yang dengan peran dan fungsinya masing-masing, memperkaya hidup dan bersama-sama memajukan peradaban manusia di berbagai bidang.
Meskipun begitu, menurut Simon ada sebagian yang tidak setuju dengan konsep neurodiversity untuk kondisi autis, karena menurut mereka itu penyakit yang perlu diobati. Tapi menurut Simon, dengan lingkungan yang tepat ‘the disabilities can be minimized’. Dicontohkan beberapa perusahaan dan lembaga di Denmark yang mengakomodasi para autis dengan jenis pekerjaan yang cocok dengan tipe hyper-systemizer. Jika kemampuan hyper-systemizing para autis ini didukung dan dibina, kemampuan dan bakat mereka akan bersinar dan memberi manfaat bagi mereka sendiri dan masyarakat.
