Cart

Your Cart Is Empty

The Physics of Climate Change

The Physics of Climate Change

image

Author

Ani

Published

Februari 14, 2024

Sebuah testimoni di halaman belakang buku menarik perhatian saya, dari seorang komedian, “(Buku-buku) tentang climate change yang pernah saya baca rata-rata ‘dumbed down and bossy’ atau ditujukan untuk sesama ilmuwan. Saya nyari buku yang bisa membuat saya, orang awam, understand the science…”

Sebagai awam, pendapat saya kurang lebih sama. Buku-buku tentang climate change yang pernah saya baca kurang lebih seperti itu: bagian teknisnya diskip (meskipun tetap menyertakan data) dan fokus menjelaskan efek/dampak climate change dalam bahasa non teknis. Bisa dimengerti sih, bagaimanapun rata-rata awam memang nggak pengen tau teknisnya. Tapi nggak bagusnya, tanpa penjelasan komprehensif tentang bagaimana mekanisme terjadinya climate change, orang lebih gampang menolak dan meremehkan apa yang disampaikan. “Ah itu kan kata elu, kata ilmuwan A kok nggak gitu?”

Itu sebabnya Lawrence Krauss, yang bukan climate scientist melainkan seorang fisikawan partikel dan kosmologi, turun tangan menjelaskan mekanisme climate change dari sudut pandang fisikanya.

The Physics of Climate Change

Lawrence M.Krauss
PostHill Press (2021)
191 hal

Lawrence Krauss adalah salah satu fisikawan yang sangat aktif menulis dan mempopulerkan fisika dan sains lewat buku-buku, podcast, dan media lainnya.

Menurut Krauss, hanya dengan benar-benar memahami apa yang terjadi lah, kita bisa mengambil langkah tepat yang perlu dilakukan untuk mengatasi suatu masalah.
“Tanpa paparan yang jelas tapi mudah dimengerti tentang prinsip-prinsip sains yang berkaitan dengan climate change, lalu bagaimana awam, termasuk para pengambil kebijakan (yang juga awam), akan membahasnya?” tanya Krauss.
Dan masalah climate change bukan masalah kecil– ia mengancam hajat hidup seluruh penduduk bumi.

Krauss menjelaskan mulai dari sejarah awal planet Bumi, di mana komposisi gas di atmosfir pada awalnya didominasi oleh CO2, hidrogen, dan uap air. Ketika belum ada kehidupan, siklus karbon di planet Bumi hanya berupa siklus geologis antara CO2 di atmosfir dengan bebatuan dan air laut di permukaan bumi. CO2 larut di air dan bereaksi membentuk H2CO3, dan selanjutnya bereaksi dengan unsur-unsur lain dan membentuk endapan karbonat. Seperti inilah mekanisme penyimpanan CO2 dari atmosfir ke permukaan bumi. Dalam proses geologi yang berlangsung jutaan tahun, endapan ini tersimpan makin dalam lewat subduksi, lalu dipanaskan, dikeluarkan lagi lewat letusan gunung, begitu terus siklusnya sehingga tercipta keseimbangan antara CO2 di atmosfir dan di tanah.

Ketika kehidupan mulai muncul, siklusnya berubah. Makhluk-makhluk hidup sederhana mengambil energi dari matahari dan melalui proses fotosintesis mengambil CO2 dari air, dan menghasilkan oksigen sebagai produk sampingannya. Fotosintesis memanfaatkan CO2, air, dan sinar matahari sebagai sumber energi; respirasi mengambil oksigen dan mengeluarkan CO2 kembali ke atmosfir ==> ini siklus karbon yang tercipta setelah munculnya kehidupan di bumi. Setelah milyaran tahun, komposisi atmosfir bumi pun berubah menjadi seperti sekarang, dengan 20% oksigen yang memungkinkan kehidupan berkembang.

Krauss kemudian menjelaskan mekanisme pertukaran energi antara matahari dan bumi, bagaimana atmosfir berfungsi sebagai selimut, yang berinteraksi dengan energi yang datang dari matahari maupun bumi. Ada yang dipantulkan, ada yang diserap dan disimpan. Bagi mata kita yang terbatas, sinar matahari dipantulkan kembali ke angkasa, “Kan, atmosfir transparan, ya pasti balik lagi ke sana!”. Tapi ternyata bagi sinar inframerah, atmosfir tidaklah transparan. Gas-gas tertentu (yang kemudian disebut gas rumah kaca) menyerap dan menyimpan mereka, dan membuat temperatur permukaan bumi naik. Kalau tidak ada atmosfir, Bumi ini seharusnya beku lho!

Krauss juga menceritakan sejarah bagaimana ilmuwan mulai memahami kaitan antara konsentrasi CO2 di atmosfir dengan temperatur. Efek rumah kaca sendiri sudah dipahami sejak abad 19, tapi baru pertengahan abad 20 ilmuwan mulai mengukur konsentrasi CO2 di atmosfir, yang ternyata setiap tahun mengalami kenaikan. Aktivitas manusia pasca revolusi industri, terutama sejak ditemukannya teknologi ekstraksi minyak bumi dan batubara, telah mengubah keseimbangan siklus karbon planet Bumi, karena karbon yang tersimpan di dalam tanah dikeluarkan dalam waktu yang berkali-kali lipat lebih cepat dibandingkan siklus geologis. Akibatnya konsentrasi CO2 di atmosfir semakin naik, mengakibatkan sinar inframerah terserap makin banyak, dan inilah yang mengakibatkan bumi semakin panas.

Begitu kira-kira prinsip fisika terjadinya global warming. Efeknya sendiri sudah sering dibahas di buku-buku climate change lain. Namun ada beberapa yang ingin saya angkat di sini:
1. Kita mungkin tidak segera merasakannya, tapi kenaikan suhu ini tersimpan paling besar di laut. Dan karena laut begitu luas dan dalam, perlu waktu lama untuk mencapai keseimbangan. Dan seperti diajarkan dalam pelajaran IPA di SD, air memuai jika dipanaskan. Maka efek yang sudah pasti akan terjadi adalah kenaikan permukaan air laut. Akibatnya sudah jelas, daerah pantai akan tenggelam. Dalam abad ini diprediksi permukaan laut akan naik antara 1 – 7 meter, tergantung langkah kebijakan yang diambil berkaitan dengan emisi karbon dunia.
2. Karena komposisi daratan dan lautan di bumi tidak seimbang, di mana laut lebih banyak di belahan bumi selatan, maka yang pertama terkena efek ini adalah negara-negara tropis dan khatulistiwa. Padahal yang lebih banyak berkontribusi dalam climate change adalah negara-negara maju di belahan bumi utara. Kesel ya.

Sulit untuk tidak merasa hopeless membaca buku ini. Apalagi mengingat begitu banyak climate deniers di jajaran pemerintahan dan pengambil kebijakan di seluruh dunia. Belum lagi misinformasi yang sengaja disebarkan oleh mereka yang punya kepentingan di sektor energi fosil, dan awam yang tidak tahu sama sekali.

“Fortune favors the prepared mind,” tulisnya.
But are we prepared?

Namun menurut Krauss, manusia adalah makhluk unik di antara semua makhluk hidup, karena dengan kemampuan berpikirnya manusia bisa melakukan sesuatu menghadapi masalah ini, kalau mau. Berinovasi, menciptakan teknologi dan langkah-langkah lain yang perlu dilakukan untuk mengatasinya. Tapi pada akhirnya, yang paling berpengaruh adalah keputusan dari para pemimpin dan pengambil kebijakan.

Mumpung menjelang pemilu, ingat ya, pilih pemimpin yang bukan climate denier, yang pro-science, yang mau mendengar kata ilmuwan. Sudah bukan jamannya ribut dengan politik identitas. Apa gunanya identitas kalau kehidupan itu sendiri terancam hilang?

==

Beberapa buku yang membahas solusi mitigasi climate change

Speed & Scale dari pengusaha/investor John Doerr
https://www.facebook.com/bookolatte/posts/pfbid027p7uu3YgDmupwMde1rAU6ad7B7oo4ep2fjbqnaxkXgNtH2Z1Q5sddT75RpWrp7Mml

Electrify dari inventor bidang energi Saul Griffith
https://www.facebook.com/bookolatte/posts/pfbid02Xu2VMNMvziq6RBHMPSHBdL9owDzXnstkz2AJbfxarHxZqeatREFdyMDpYrZhGUgMl

The Story of More dari Hope Jahren, ilmuwan geobiologi yg juga mengajar mata kuliah Climate Change
https://www.facebook.com/bookolatte/posts/pfbid025o9zuzE3wDXneqQHjkF8Cz9HVxkfUGXRkVgb8PnttMivogGBu7JWKWWp4LBzjXwUl

Dirt to Soil dari petani Gabe Brown, ttg pertanian regeneratif
https://www.facebook.com/bookolatte/posts/pfbid02gHSxN3x7xBKTodxmVC6pk8dnzw9e5QpRRJrNFNQ9AAC18EVNMbw3HizSYjx4ASCXl

Join Us

Book

O Latte

Follow IG untuk membaca review kami

Join Us on Spotify

Our Location

My Place

The place I like the most

Get Direction