Cart

Your Cart Is Empty

The Sakura Obsession: The Incredible Story of the Plant Hunter Who Saved Japan’s Cherry Blossoms

The Sakura Obsession: The Incredible Story of the Plant Hunter Who Saved Japan’s Cherry Blossoms

image

Author

Ani

Published

Februari 16, 2024

Semua mungkin sudah tahu bahwa sakura atau cherry blossom identik dengan Jepang. Tapi tahukah Anda bahwa pada suatu masa, keragaman jenis sakura di Jepang sangat terancam akibat politik dan ideologi?
Buku ini menelusuri sejarah bunga sakura, keterkaitannya dengan dinamika sosial budaya dan politik Jepang selama ribuan tahun, dan peran seorang Inggris yang berjasa menyelamatkannya dari kepunahan.

The Sakura Obsession: The Incredible Story of the Plant Hunter Who Saved Japan’s Cherry Blossoms

Naoko Abe
Vintage Books (2019)
380 hal

Naoko Abe adalah jurnalis politik Jepang dan penulis nonfiksi di salah satu surat kabar Jepang terbesar, sebelum menikah dengan orang Inggris dan pindah ke London. Di negeri asing ini, ia heran dengan warna-warni sakura setiap musim semi, yang masa mekarnya bergantian selama berminggu-minggu. Sementara di Jepang sendiri menurutnya sebagian besar bunga sakura tampak sama, mekar berbarengan dan musimnya pendek, sekitar 8 hari. Keheranan inilah yang membuatnya penasaran menelusuri sejarah bunga sakura.

Sakura telah menjadi bagian dari hidup penduduk Jepang sejak lebih dari 2000 tahun yang lalu. Sebagai bunga yang pertama mekar di musim semi, ia menjadi pertanda bagi para petani untuk mulai menanami sawahnya. Selama ribuan tahun yang dominan di Jepang adalah pohon sakura liar, kemudian mulai dibudidayakan sehingga dalam kurun waktu 1200 tahun, dari 10 spesies sakura liar berkembang menjadi 400 varietas. Jaman keemasan budidaya sakura adalah pada jaman Sakoku di abad 17, ketika Jepang mengisolasi diri dari dunia luar selama 200 tahun.

Sedikit cerita tentang sejarah sampai Jepang menutup diri seperti ini: sebelum jaman Sakoku, yaitu jaman Sengaku dari abad 15, Jepang berada dalam keadaan perang saudara. Masyarakat terbagi dalam banyak klan yang dipimpin oleh seorang daimyo dengan barisan samurai yang mengabdi kepadanya. Antar klan saling bertarung memperebutkan tanah dan kekuasaan (sejarah kayak gini di mana-mana sama ya ternyata. Cina, Eropa, Timur Tengah, Benua Amerika juga). Kemudian muncul daimyo Tokugawa yang menyatukan keseluruhan Jepang (ceritanya mirip film Jet Li “Hero” ya). Ia kemudian diangkat menjadi shogun, pemimpin militer tertinggi, dan mendirikan sistem negara yang mirip negara federal, dengan masing-masing daerah dikepalai daimyo, memiliki aturan dan struktur sosial sendiri, termasuk sistem kasta. Kasta tertinggi yaitu daimyo, kemudian samurai, lalu semakin rendah petani -> pengrajin -> pedagang -> dan paling rendah ialah “Eta” yang berurusan dengan kematian, seperti tukang jagal, tukang kubur dll.

Abad 16 seiring kemajuan teknologi pelayaran, Spanyol dan Portugis mulai menjelajah dunia ke arah Timur. Bangsa Eropa yang pertama menjejak di Jepang adalah bangsa Portugis, yang selain berdagang juga menyebarkan agama Katolik. Dalam waktu beberapa tahun agama Katolik di Jepang menyebar cepat, menggelisahkan para pemuka negara. Karena ini, plus kekhawatiran kolonisasi serta perang saudara, pemerintah lalu mengusir para misionaris dan semua orang asing, agama Katolik di-ban, mengeksekusi penduduk yang melarikan diri, dan menutup negara dari bangsa asing. Inilah jaman Sakoku.

Pada jaman Sakoku yang damai, seni budaya berkembang subur. Kasta pedagang menjadi kaya raya dan naik kelas setara samurai. Samurai dan daimyo yang biasa perang-perangan jadi nggak ada kerjaan, mereka cari aktivitas baru, di antaranya memperindah taman istana masing-masing dengan pohon sakura, supaya siap kalau sewaktu-waktu didatangi shogun. Dalam situasi seperti ini pohon sakura dengan berbagai ragam varietasnya berkembang subur.

Di masa ini, perdagangan dengan dunia luar masih dilakukan secara terbatas, yaitu dengan VOC Belanda, dengan syarat tidak boleh menyebarkan agama. Mereka pun hanya boleh tinggal di Dejima, pulau kecil yang terhubung jembatan ke pelabuhan Nagasaki. Dari beberapa dokter VOC yang juga pecinta tanaman, akhirnya kabar dan sampel sakura sampai ke Eropa.

Di masa ini pula terjadi pergeseran kekuatan di Eropa. Inggris, Prancis, Jerman dan Rusia berkembang kuat, sementara Spanyol, Portugis, dan Belanda melemah. Dengan kekuatannya, Inggris menjajah bagian besar dunia, termasuk daerah Cina yaitu Hongkong. Jepang terkejut, ternyata Cina yang mereka anggap saudara tua yang kuat juga bisa dijajah. Akhirnya demi menghindari penjajahan, melalui Restorasi Meiji, Jepang kembali membuka diri. Mereka pun berusaha mengejar ketertinggalan ilmu dan teknologi dengan ‘mengimpor’ tenaga pengajar dari Eropa untuk pendidikan dan pelatihan. Bangsa Eropa kembali diterima dengan baik.

Sementara itu di Inggris, di awal abad 20 hiduplah seorang pemuda bernama Collingwood Ingram. Ia lahir dari keluarga kaya raya, yang senang mengamati alam terutama burung. Ketertarikannya membawanya menjadi salah satu ahli ornitologi, dan berkeliling dunia mencari burung-burung eksotik, termasuk ke Jepang. Dua kali ia mengunjungi Jepang, tapi waktu itu masih belum tertarik pada sakura. Ia hanya mendapat kesan kuat tentang Jepang, merasa negara itu sangat mirip dengan Inggris, seperti saudara.

Setelah berkeluarga, Ingram pindah ke wilayah Kent di Inggris bagian tenggara. Di rumah itu tumbuh 2 pohon sakura varietas Hokusai dan Daikoku yang indah. Ingram, yang merasa ilmu ornitologi sudah ‘kebanyakan pakar’ di Inggris, mengalihkan perhatiannya ke sakura. Ia ingin mengumpulkan berbagai varietas sakura, dan meniatkan diri menjadi pakar sakura di Inggris. Melalui korespondensi dengan sesama kolektor tanaman, ia mulai mengumpulkan sampel-sampel sakura yang ada di Eropa dan Amerika. Tapi karena kekacauan penamaan sakura di Eropa, Ingram yang ingin tahu asal-usul yang jelas memutuskan untuk pergi ke Jepang langsung: meneliti dan mengumpulkan sampel dari sana.

Kunjungan Ingram ke Jepang tahun 1926 selain hanya sedikit membuahkan hasil, juga membuatnya sedih dan kecewa. Apa sebabnya? Ia membandingkan dengan kunjungan terakhirnya 20 tahun sebelumnya: sakura di daerah perkotaan Jepang berubah drastis. Sebenarnya bisa dimaklumi, karena akibat banjir besar Tokyo 1910 dan gempa besar Kanto 1923, Tokyo hancur dan harus membangun dari nol lagi. Namun pembangunannya berkiblat ke Barat dengan bangunan-bangunan modern. Pohon-pohon sakura banyak yang dibabat habis, dan asap pabrik juga menjadikan sakura yang ada tidak tumbuh baik. Pertengahan abad 19 di Tokyo ada 250 varietas sakura yang warna-warni beragam, dan didominasi oleh sakura liar jenis Yama-zakura. Sementara di awal abad 20, yang mendominasi (sampai 70%!) adalah satu varietas saja yaitu Somei-yoshino yang berwarna pink lembut. Varietas ini, yang baru muncul tahun 1860an, sebenarnya bukan lebih cantik, melainkan lebih cepat tumbuh. Karena fokus membangun ekonomi, saat itu Jepang tidak peduli dengan keragaman sakura: yang penting cepat tumbuh.

Ingram sempat mengungkapkan keprihatinannya di hadapan forum pecinta tanaman di Jepang, yang di dalamnya termasuk orang-orang terkaya Jepang. “Mengapa sakura malah tumbuh lebih baik di Inggris daripada di negaranya sendiri?” tanyanya. Ia memperingatkan bahwa jika tidak diselamatkan, keragaman sakura di Jepang akan semakin menurun dan kritis, bahkan banyak varietas yang punah. Bahkan ada satu varietas, Taihaku, yang ada di kebun Ingram, namun saat itu punah di Jepang!
Tapi Jepang yang saat itu lebih peduli pada pembangunan ekonomi, tidak mengindahkan peringatan Ingram. Akhirnya Ingram berkolaborasi dengan beberapa pecinta sakura yang benar-benar peduli, dan ‘bersekongkol’ menyelamatkan varietas sakura yang tersisa. “Kirim sampel-sampelnya ke Inggris, akan saya tanam dan budidayakan di kebun saya” kata Ingram.

Di jaman ini pula, Jepang bergeser semakin intoleran. Dikelilingi koloni Eropa, Jepang bertekad menjadi pemimpin Asia menggantikan Cina. Jepang menjadikan Shinto pondasinya, di mana kaisar dianggap sebagai keturunan dewa Matahari. Kemudian menjadikan filosofi Bushido (jalan samurai) yang menekankan kesetiaan dan kepatuhan pada kaisar sebagai doktrin, serta menjadikan sakura sebagai simbolnya. Kenapa sakura? Sakura yang berguguran saat ‘dipanggil oleh alam’ dianggap menyimbolkan ‘kesediaan berkorban bagi kaisar’. Para pilot harakiri dianggap sama dengan sakura yang berguguran. Propaganda ini bahkan ditanamkan sejak anak usia sekolah, demi ambisi menjadi kekuatan besar Asia. Indonesia seperti kita tahu adalah salah satu korban ambisi ini, yang berakhir dalam peristiwa bom Hiroshima dan Nagasaki 1945.

Pasca kekalahan dan kehancuran, Jepang kembali membangun, dan dalam usaha memperindah kota, sakura mana lagi yang menjadi pilihan kalau bukan Somei-yoshino yang cepat tumbuhnya. Itu sebabnya 70% sakura di perkotaan Jepang adalah homogen, karena berupa clone varietas yang sama. Sakura di pegunungan lebih bervariasi, meskipun tidak lagi seberagam jaman Sakoku.

Ingram sendiri di kebunnya, selain mengumpulkan berbagai varietas sakura dan membudidayakannya, juga membuat hibridisasi sendiri dari varietas-varietas yang tidak mungkin kawin silang secara alami. Dua di antaranya adalah varietas Okame, yaitu silangan antara varietas Taiwan (di Okinawa yang hangat) dan Fuji, serta varietas Kursar (silangan Taiwan dan Kurile). Ia pun membagi-bagikan sampel cherry ke siapapun yang mau, disebarkan ke seluruh dunia. Dan ia juga mengembalikan sampel sakura Taihaku, yang sempat punah di Jepang namun diselamatkan di kebunnya.

Akhir minggu lalu adalah puncak musim cherry blossom di Branch Brook Park, Newark, tempat saya tinggal. Setelah membaca buku ini saya jadi tahu bahwa jajaran pohon Okame cherry yang selalu pertama kali mekar setiap musim semi, adalah ‘hasil karya’ hibridisasi Collingwood Ingram di taman rumahnya di Benenden, Kent. Dan entah berapa dari 5200 pohon dan 18 varietas sakura yang ada di taman ini terkait dengan jasa-jasa Ingram menjaga keragaman pohon sakura, dan menambah keindahan musim semi di berbagai belahan dunia.
Terimakasih, Mr.Ingram!

***

Tambahan: buku ini mengingatkan saya sama dua komik Jepang kesukaan saya, Miss Modern dan Topeng Kaca.
Komik Miss Modern bersetting di era Taisho (1912 – 1926), ketika ide-ide Barat yang modern sudah memasuki pemikiran orang Jepang. Jadi ingat Tamaki dan Benio dengan ide-ide kemandirian perempuannya, pertemuan Benio & Letnan Dua di bawah pohon sakura, dan gempa Kanto yang terjadi waktu Benio & Aoe Tosei sedang melakukan prosesi pernikahan.
Di komik Topeng Kaca ada cerita Bidadari Merah yang bersetting pegunungan dengan lembah kemerahan karena pohon sakura. Menurut buku ini jenis sakura liar pegunungan yang dominan dan dipuji keindahannya dalam sastra Jepang adalah Yama-zakura, yang bunganya kecil dan daunnya merah.

Join Us

Book

O Latte

Follow IG untuk membaca review kami

Join Us on Spotify

Our Location

My Place

The place I like the most

Get Direction