Setelah menulis tentang kanker dan gen, Siddhartha Mukherjee kembali menulis buku dengan gaya khasnya yang detail, mendalam, dan tentu saja TEBAL. Kali ini ia menulis tentang sel, unit pembangun hidup.
A life within a life.
An independent living being — a unit — that forms a part of the whole.
The Song of the Cell: An Exploration of Medicine and the New Human
Siddhartha Mukherjee
Scribner (2022)
496 hal
Siddhartha Mukherjee adalah dokter spesialis onkologi (kanker) dan pengajar di divisi Hematology/Oncology Columbia University Medical Center. Sebelumnya ia bekerja sebagai dosen dan peneliti di banyak institusi medis seputar Amerika. Penelitiannya berkaitan dengan sel kanker dan stem cell. Nama Mukherjee juga melesat di ranah perbukuan setelah menerbitkan bukunya The Emperor of All Maladies: A Biography of Cancer pada tahun 2010, yang kemudian memenangkan penghargaan Pulitzer untuk kategori General Nonfiction. Berikutnya ia menulis buku pendek The Laws of Medicine: Field Notes from an Uncertain Science (2015), dan The Gene: An Intimate History (2016), selain juga rajin menulis artikel di majalah The New Yorker (dan tentunya artikel di jurnal-jurnal ilmiah).
Sulit meringkas buku ini hanya dalam beberapa paragraf, karena isinya begitu luas dan mendalam tentang berbagai aspek ilmu biologi sel, baik sejarah, fungsi, dan aplikasinya. Namun tentu saja tidak membosankan seperti textbook, karena dijalin dengan menarik dan dramatis melalui kisah-kisah para ilmuwan dan pasien yang menjadi tokoh-tokohnya, selain juga pemikiran-pemikiran Mukherjee mengenai berbagai hal yang terkait dengannya.
Pendeknya, buku ini adalah kisah tentang sel, sebuah catatan sejarah bagaimana ilmu pengetahuan tentang sel berkembang dari sejak ditemukannya ratusan tahun yang lalu. Dari mulai ketika manusia masih berspekulasi apa kira-kira unit terkecil yang membentuk diri manusia, lalu kemudian ditemukan bahwa manusia dan semua organisme ternyata dibangun oleh semacam ‘partikel elementer’ yang hidup. Kemudian unit kehidupan yang mandiri ini berkolaborasi secara terorganisir membentuk jaringan, organ, dan sistem organ, yang memungkinkan munculnya fungsi-fungsi ‘baru’ (emergent) yang menakjubkan, seperti imunitas, reproduksi, bahkan kecerdasan.
Buku ini juga adalah kisah tentang apa yang terjadi ketika fungsi sel terganggu, sehingga mengubah fungsi tubuh menjadi penyakit. Kerusakan fungsi sel menimbulkan kerusakan fungsi tubuh.
Namun bukan itu saja, buku ini juga adalah kisah tentang bagaimana pemahaman manusia yang semakin mendalam tentang fisiologi dan patologi selular telah memicu revolusi di bidang biologi dan kedokteran, dan melahirkan teknologi-teknologi baru dalam mengatasi masalah-masalah kesehatan melalui terapi di level selular, dan menghasilkan manusia-manusia “baru”.
Apa yang dimaksud ‘manusia baru’ di sini? Bukan, Mukherjee tidak bicara tentang robot maupun transhuman seperti di film-film sci-fi. Baginya, manusia baru yang dimaksud dalam buku ini adalah mereka yang ‘bangkit’ dari penyakitnya setelah ‘dibangun kembali’ oleh sel-sel yang dimodifikasi melalui teknologi. Seperti mereka yang bebas dari leukemia setelah ditransplantasi sumsum tulang belakang, atau yang akhirnya bisa punya anak setelah melalui proses in vitro fertilization. “Manusia baru seperti ini jauh lebih menakjubkan daripada versi sci-fi,” tulisnya.
Buku ini dibagi 6 bagian besar yang masing-masingnya terbagi lagi menjadi beberapa bab, yang kira-kira menggambarkan hierarki sel dan perkembangan sejarahnya, “from one to many, from parts to whole”:
1. Discovery.
Bagian ini bercerita tentang bagaimana ilmu patologi selular mulai merambah dunia kedokteran, yang awalnya masih beranggapan bahwa semua penyakit berkaitan dengan gagalnya fungsi organ yang bersangkutan, tidak berkaitan dengan organ lainnya, tidak ada penjelasan yang sistematis dan universal. Paradigma ini kemudian diubah pada abad 19 oleh Rudolf Virchow yang mengatakan bahwa sel adalah unit dasar semua organisme dan kunci memahami penyakit manusia adalah dengan memahami cara kerja sel. Ia menulis buku Cellular Pathology yang mengubah pemahaman dunia medis tentang penyakit.
Jadi apa itu sel? Sel adalah sebuah unit yang hidup secara mandiri dengan mekanisme sebagai berikut: gen menyediakan instruksi untuk membangun protein, yaitu molekul yang melakukan segala macam kerja sel. Protein memungkinkan reaksi biologi, mengatur sinyal dalam sel, membangun struktur sel, dan mengatur identitas sel dengan cara menyetel on/off kode-kode dalam gen. Singkatnya, gen membawa kode, sel merupakan ‘mesin penerjemah’ yang mengubah kode tersebut menjadi protein.
“A gene without a cell is lifeless…a musical score without a musician, a lonely library with no one to read the books within it,” tulis Mukherjee.
Selama ratusan tahun ilmuwan mengira bahwa hewan dan manusia itu seperti mesin, terdiri dari bagian-bagian yang bergerak dan beraksi. Fokusnya di gerak, jangan diam. Namun dengan semakin mendalamnya pemahaman tentang sel, barulah dipahami bahwa sebenarnya sel bekerja aktif justru untuk ‘diam’. Homeostasis, berasal dari bahasa Yunani homeo & stasis, yang kira-kira berarti ‘related to stillness.
2. The One and the Many.
Bagian ini menjelaskan secara detail anatomi dan fungsi sel. Mukherjee menganalogikan sel seperti pesawat luar angkasa, dan mengajak pembaca seolah-olah menjadi astronot yang mengeksplorasinya. Pembaca diajak memasuki sel, mengenali masing-masing bagiannya dan bagaimana mereka bekerja dan berkolaborasi.
Mungkin masih ingat pelajaran biologi SMA tentang sel? Ada inti sel, mitokondria, aparatus Golgi, dan lain-lain? Bab The Organized Cell menjelaskan dengan sangat detail.
Ya, buku tentang sel seperti ini nggak mungkin nggak bertaburan istilah-istilah teknis, meskipun Mukherjee berusaha meminimalkan jargon-jargon biologi dan lebih banyak menggunakan analogi, seperti misalnya ia menganalogikan proses di dalam sel seperti proses distribusi di kantor pos.
Di bagian ini juga Mukherjee bercerita tentang proses pembelahan sel, rekayasa genetik, dan perkembangan sel menjadi organisme.
3. Blood.
Bagian ini bercerita bagaimana berbagai sel yang berputar ke seluruh tubuh melalui darah bekerjasama membentuk sistem-sistem dengan fungsi tertentu, seperti platelet yang ‘menambal’ luka, neutrophil yang melawan patogen, dan sel-sel lain yang berperan dalam sistem imunitas.
Bagi saya yang paling menarik di bagian ini (meskipun semuanya menarik!) adalah ketika Mukherjee menjelaskan bagaimana sel dalam perannya dalam sistem imunitas mengenali dirinya sendiri, dan ‘menjaga integritas diri’. Secara teknis memang ini karena setiap sel seseorang memiliki satu set protein yang beda dengan yang dimiliki sel orang lain. Tapi Mukherjee menafsirnya secara filosofis: “Biologically speaking, the self is demarcated not by what is asserted but by what is invisible: it is what the immune system cannot see. Tat twam asi. You are That.” (dalam filsafat Hindu, ini adalah ekspresi hubungan self dan True Self)
4. Knowledge.
Bagian ini bercerita tentang COVID-19 dan bagaimana fenomena pandemi ini, dan bagaimana virus SARS-COV2 membuat para ilmuwan sadar bahwa pengetahuan mereka tentang sel, yang tadinya dikira sudah cukup, ternyata masih hanya seujung kuku. Ada berbagai mekanisme selular yang baru diketahui ketika COVID19 terjadi.
“Covid exposed the humility that is required to cohabitate with these characters surrounding us. We don’t even know what we don’t know,” tulis Mukherjee.
5. Organs
Bagian ini menceritakan bagaimana ketika sel yang mengalami spesialisasi identitas berkumpul dan bersatu membentuk sesuatu yang baru, suatu organ, dengan sifat-sifat ‘emergent’ yang menakjubkan. Sifat-sifat yang hanya muncul ketika sel-sel bekerjasama dan mengkoordinasi fungsinya.
“A heartbeat. A thought. And the restoration of constancy — the orchestration of homeostasis.” Sel-sel organ bekerjasama menjaga keseimbangan tubuh. Pankreas menjaga keseimbangan metabolisme, ginjal menjaga keseimbangan kadar garam, hati menjaga keseimbangan kimiawi.
6. Rebirth membahas tentang stem cell (the renewing cell) dan lahirnya teknologi transplantasi, sel tulang (the repairing cell), dan sel kanker (the selfish cell)
Di akhir buku Mukherjee mengajar pembaca merenungkan bahwa ilmu pengetahuan masih belum memahami keterkaitan antar sel, bagaimana ‘membaca’ sel dalam konteks. Selama sains masih memegang paradigma reduksionisme atau ‘atomisme’ tanpa melihatnya dalam konteks secara keseluruhan, sains tidak akan mengerti mengapa ada sifat-sifat emergent yang baru dan tidak bisa dijelaskan oleh sifat bagian-bagian pembangunnya. The whole is greater than the sum of its parts.
“Perhaps we too should begin to move from the one to the many. That, more than any other, is the advantage of understanding cellular systems, and beyond that, cellular ecosystems. We need to know everyone,” tutup Mukherjee.
We need to know the song, not just the note.
***
Buku ini bagus banget, tapi ada satu detail kecil yang mengganggu saya, yaitu cerita tentang pasiennya Sam yang menderita kanker melanoma. Timeline penyakitnya gonta-ganti: di halaman pertama disebutkan bahwa Sam meninggal November 2017, di halaman 3 disebutkan Sam meninggal “on a spring morning” (lho November kan musim gugur). Eh di akhir buku ada cerita lagi tentang Sam, yang dikunjungi Mukherjee “on May 2018”.
This is too weird to be a series of typos. Tapi saya nggak nemu errata yang mengoreksi bagian ini… masa harus nanya langsung sama pak Mukherjee…
The Song of the Cell cocok dibaca dan dikoleksi oleh para dokter, mahasiswa kedokteran, dan mereka yang berkecimpung di dunia biologi molekular dan mempelajari seluk beluk sel. Atau buat yang seperti saya, suka topik biologi. Kalau nggak salah buku ini sudah (atau sedang?) diterjemahkan oleh Gramedia. Silakan dicari ya.
***
(sedikit tambahan)
Sebenarnya banyak banget insight dari buku ini, saking banyaknya jadi overwhelming dan lupa ditulis hehe.
Yang paling menakjubkan buat saya adalah “how amazing our body is”. Sel-sel tubuh bekerja keras setiap saat menjaga homeostasis, keseimbangan, the stillness of our body. Tapi seringkali yang mendorong homeostasis ini ke ‘jurang’ adalah pilihan lifestyle pemilik tubuhnya sendiri, utamanya soal makanan. Saya jadi inget yang pernah dibilang dr Mark Hyman, bahwa ‘food is information’ dan mereka berkomunikasi dengan tubuh di level selular. Informasi apa yang kita beri ke sel-sel kita?
Yang juga menakjubkan adalah cerita-cerita kemajuan dunia kedokteran karena makin dalamnya pengetahuan tentang sel. Tau nggak kalo ilmuwan udah bisa bikin stem cell dari mature cell? Ibaratnya kalo manusia, dari orang dewasa dibalikin jadi bayi?
Cerita-cerita tentang riset stem cell, cancer cells, yang diceritakan oleh penelitinya langsung itu, efeknya beda dengan kalau baca dari orang ketiga (jurnalis sains, misalnya) karena jadi ada ‘emosi’nya.
Makanya kalau menurut saya sih penting bahwa buku ilmiah populer ditulis langsung oleh ilmuwannya. Mengutip Steven Strogatz di buku “Sync” yang lagi saya baca, kenapa dia menulis buku, karena “I want to give a feel for what it’s like to be working in the trenches of science — the blind alleys, the twists and turns, the exhilaration of discovery…”
Untuk umat manusia sampai ke level modernitas seperti ini tuh nggak mudah jalannya, hasil kerja keras para ilmuwan, para pemikir, membangun lapis demi lapis ilmu pengetahuan, mengoreksi kesalahan masa lalu dengan temuan-temuan baru, dan bahkan kalau perlu mengubah sekalian paradigma yang sudah nggak pas.
Salut untuk semua orang yang sudah berjuang untuk memajukan ilmu pengetahuan dan kemanusiaan.