The Story of More
How We Got to Climate Change and Where to Go from Here
Hope Jahren
Vintage (2020)
224 hal
Dua minggu lalu Amerika dihantam badai. Badai Ida mendarat di Louisiana sebagai hurricane kategori 4 (kecepatan angin 209-251 km/jam). Di negara bagian tempat saya tinggal, badai ini membawa tornado skala EF-3 (218-266 km/jam), hujan deras dan banjir bandang yang banyak memakan korban.
Badan PBB WMO (World Meteorological Organization) baru saja mengeluarkan pernyataan bahwa bencana alam yang berhubungan dengan cuaca kini 5 kali lebih sering terjadi, dan sangat dipengaruhi perubahan iklim. Jika dibiarkan, bencana akan semakin parah.
Perubahan iklim seharusnya tidak lagi menjadi sesuatu yang diperdebatkan. Efeknya sudah sangat jelas terasa : udara makin panas, es kutub meleleh, air samudera yang menghangat membuat badai semakin kuat, daya hancurnya semakin besar. Sayang sekali masih banyak yang tidak paham tentang perubahan iklim. Buku ini akan membantu memahaminya.
Hope Jahren, ilmuwan berprestasi yang bergelut di bidang paleobiologi, mulai menulis buku ini ketika ditugaskan untuk mengajar mata kuliah Climate Change di kampusnya. Semakin dalam ia mempelajari bahan untuk kuliah, semakin kuat ia merasa harus menumpahkannya dalam sebuah buku dan mengabarkan pada publik.
“I’ll tell you what happened to our world. It changed.”
The Story of More di sini maksudnya cerita tentang peningkatan jumlah manusia (more people) yang membutuhkan dan menginginkan lebih banyak (more things) dan karenanya mengambil lebih banyak (more resources) dari bumi, tapi sambil tidak sadar atau tidak mau tahu akan konsekuensinya.
Buku ini dibagi ke dalam 4 bagian :
1. Life, bercerita tentang jumlah populasi manusia yang meningkat pesat seiring kemajuan teknologi pangan dan kesehatan, yang akibatnya meningkat pesat pula kebutuhannya.
2. Food, tentang perkembangan di bidang pertanian, peternakan, perikanan, praktek-prakteknya yang berkaitan dengan penurunan kualitas lingkungan (menurunkan kesuburan tanah, mengubah ekosistem, merusak lingkungan, dll) dan kemubaziran (wasted food).
3. Energy, tentang aktivitas manusia menguras bahan bakar fosil dari perut bumi. Karena sumber daya ini terkonsentrasi di tempat-tempat tertentu, ini juga yang seringkali memicu konflik antar negara.
4. Earth, tentang pengaruh aktivitas manusia terhadap lingkungan : meningkatnya kandungan karbondioksida dan metan di udara, kenaikan suhu global, melelehnya es kutub, kenaikan permukaan laut, dan kepunahan spesies.
Setelah selesai menjelaskan ‘the story of more’, Hope mengajak pembaca untuk merenung: apa yang dapat kita lakukan, setelah mengetahui segala hal yang sudah ia jelaskan sebelumnya tentang perubahan iklim.
“Is ‘more’ truly the only way to build civilization?”, tanyanya.
Ia menjelaskan pilihan-pilihan yang dapat diambil, yang sayangnya kelihatan tidak menarik bagi kebanyakan orang.
“There’s only one problem: driving less, eating less, buying less, making less, and doing less will not create new wealth.” Yang menghalangi usaha penanggulangan perubahan iklim adalah sifat manusianya sendiri, yang tidak pernah puas.
Tapi jika kita termasuk yang sadar dan peduli, Hope mengajak untuk memulai ‘the story of less’. Mengurangi konsumsi produk-produk yang berefek buruk bagi lingkungan, mengganti kebiasaan dengan alternatif yang lebih ramah lingkungan, dan kalau bisa, aktif ‘merecoki’ pengambilan keputusan pemerintah yang berhubungan dengan lingkungan.
“Do not be seduced by lazy nihilism” katanya. Jangan terjebak untuk berlaku sinis, menganggap apapun yang kita lakukan tidak akan ada artinya.
“It is precisely because no single solution will save us that everything we do matters.”
Buku ini pendek tapi padat, dan seperti buku pertamanya “Lab Girl”, Hope Jahren menulisnya dengan indah seperti prosa.