Cart

Your Cart Is Empty

The Sunday Philosophy Club

The Sunday Philosophy Club

image

Author

Ani

Published

Februari 12, 2024

#tumbenbacafiksi

Hal pertama yang membuat saya tertarik baca buku serial “The Sunday Philosophy Club” sebetulnya karena inget saya dan mba Andri Ani . Kayaknya asik ada klub ngobrolin filsafat (atau topik serius lain) yang santai sambil ngemil di Minggu sore.
Tampak boring buat orang lain mungkin ya hahaha, tapi biarin.

Kedua, tokoh utama buku ini adalah perempuan berusia awal 40an, Isabel Dalhousie. Nah, kita banget kan.

Ketiga, penulisnya adalah Alexander McCall Smith. Dulu kakak saya pernah merekomendasikan buku-bukunya dari seri The No. 1 Ladies’ Detective Agency, katanya lucu.

Setelah dibaca, ternyata nggak ada tuh klub filsafat hari Minggunya. Isabel memang filsuf, bekerja sebagai editor jurnal filsafat “Review of Applied Ethics”. Klubnya memang ada, tapi sudah tidak aktif (haha judulnya misleading sekali). Tapi ternyata saya suka ceritanya. Agak kedetektif-detektifan tapi not really.

Genre fiksi kesukaan saya memang cerita detektif, sejak SMP saya sudah baca puluhan judul buku-buku Agatha Christie. Kalau orang lain biasanya lebih suka yang tokohnya Poirot, saya lebih suka Miss Marple, the unassuming old lady with a sharp mind and an ability to recognize the patterns of human behavior.

Nah, Isabel ini agak mirip Miss Marple dalam hal curious dan pemerhati perilaku manusia. Ceritanya juga ada sedikit misteri atau kriminal, tapi nggak jadi fokus atau sesignifikan di buku-buku Agatha Christie.

Bedanya, jalan pikiran Miss Marple biasanya dibeberkan di belakang, ketika dia menjelaskan siapa pembunuhnya dan bagaimana dia melakukannya. Kalau Isabel, sepanjang buku diceritakan jalan pikirannya, yang biasanya dibahas dari sudut pandang etika dan filsafat moral (not everyone’s cup of tea, I know). Berlatar di Edinburgh, tempat kelahiran filsuf David Hume, buku ini juga sering mengangkat musik klasik (Isabel senang main piano dan nonton konser, dan satu tokoh lain, Jamie adalah pemain bassoon), lukisan-lukisan seniman Skotlandia, dan puisi-puisi W.H.Auden kesukaan Isabel.

Buku ini bukan buat yang senang cerita detektif penuh aksi sih. Anak saya bilang ceritanya boring & uninteresting, hehe.

Saya malah menikmati settingnya yang quiet & calm, dan jalan pikiran Isabel yang rasional meskipun cenderung overthinking. New York Times review menyebutnya “the beautiful mind of a thinking woman”.

Seri ini ada 13 buku, dan saya baru selesai buku ke 3. Moga-moga ada lengkap di perpus.

Join Us

Book

O Latte

Follow IG untuk membaca review kami

Join Us on Spotify

Our Location

My Place

The place I like the most

Get Direction