Cart

Your Cart Is Empty

The Turning Point: Titik Balik Peradaban Sains, Masyarakat, dan Kebangkitan Kebudayaan

The Turning Point: Titik Balik Peradaban Sains, Masyarakat, dan Kebangkitan Kebudayaan

image

Author

Ani

Published

Februari 18, 2024

Membaca ulang buku yang pertama kali dibaca tahun 2002 ini, membuat saya sadar bahwa buku ini sangat berpengaruh pada cara pandang saya mengenai dunia. Kesukaan saya untuk menemukan sistem utuh yang menyatukan kepingan-kepingan informasi ternyata dimulai dari buku ini. Jadi bisa dibilang bahwa buku ini berjasa karena sudah mengantarkan saya meraih gelar master di bidang Filsafat Islam, sebab filsafat Islam mengajarkan cara untuk melihat segala hal sebagai sesuatu yang utuh.

The Turning Point: Titik Balik Peradaban Sains, Masyarakat, dan Kebangkitan Kebudayaan
Fritjof Capra
Mata Bangsa, 2019
571 halaman

Buku ini ditulis tahun 1981, saat dunia mengalami berbagai krisis yang muncul nyaris di segala bidang: krisis lingkungan hidup, menurunnya kualitas kesehatan, wabah kelaparan, retaknya hubungan sosial, limbungnya ekonomi, kekacauan politik. Bahkan dunia sains pun mengalami krisis, penemuan dunia kuantum seperti menantang semua teori fisika yang telah mapan. Saat itu, kekuatan politik dunia sedang rajin-rajinnya menambah persediaan senjata nuklir. Ditambah dengan pemanasan global, untuk pertama kalinya umat manusia menghadapi kemungkinan kepunahan yang dipicu oleh ulahnya sendiri. Krisis ini sangat besar dan bersifat multi dimensi, sehingga tidak lagi bisa diatasi oleh ahli yang terspesialisasi dalam bidang masing-masing. Karena sifat krisis ini saling berkait, dibutuhkan suatu cara pandang baru yang bisa mengatasi semuanya sekaligus. Cara pandang itu adalah paradigma sistem, kesadaran bahwa segala hal di dunia ini saling terkait satu sama lain.

Fritjof Capra adalah seorang ahli Fisika kelahiran Austria yang memiliki minat luas dalam bidang filsafat sistem dan ekologi. Setelah meraih gelar doktor Fisika, Capra mengajar di Amerika. Capra sangat terinspirasi dengan cara pandang filsafat Tao Cina, dan menganggap bahwa filosofi Yin-Yang merupakan salah satu kunci untuk memecahkan krisis kemanusiaan.

Buku The Turning Point ini terbagi dalam empat bagian besar, masing-masing bagian terbagi dalam beberapa bab. Pada bagian pertama, Capra menuliskan krisis apa saja yang menimpa manusia di tahun 70-80, dan menyatakan bahwa krisis ini terjadi akibat pendekatan reduksionis kita dalam memandang alam. Pendekatan reduksionis adalah sebuah metode untuk memahami alam dengan cara membagi-baginya sampai ke bagian terkecil. Pendekatan ini telah mengantarkan manusia untuk meraih kemajuan luar biasa di bidang sains, namun juga telah mengakibatkan terjadinya krisis global karena tidak memperhitungkan hubungan antar bagian yang telah dibagi-bagi itu. Ibaratnya, saat dokter berhadapan dengan pasien, dia tidak melihat pasien sebagai manusia yang hidup dan berjiwa, melainkan hanya melihat salah satu organ tubuhnya yang tidak berfungsi baik. Untuk mengurusi jiwa, si pasien disarankan menemui psikolog. Namun psikolog juga hanya membantu memperbaiki kondisi jiwa si pasien, padahal masalah kesehatan pasien datang dari stress di tempat kerja. Untuk memperbaiki kondisi kerja, pasien harus berusaha meminta bantuan pada serikat buruh. Namun serikat buruh juga sekedar melempar masalah pada pemilik perusahaan. Pemilik perusahaan pun harus mengadakan rapat dengan pemegang saham untuk mengambil keputusan. Pendeknya, tak seorang pun bisa menyelesaikan masalah sendirian tanpa melibatkan banyak pihak. Namun ketiadaan visi bersama sangat menyulitkan penyelesaian masalah secara tepat.

Pada bagian dua, Capra menceritakan sejarah perkembangan sains. Sejak Descartes mencanangkan pemisahan antara jiwa dan tubuh/materi serta memperkenalkan metode cartesian pada matematika, sains berkembang sangat pesat. Metode cartesian adalah pemetaan segala hal dalam sumbu x, y, dan z. Hal ini mendorong paradigma bahwa segala hal bisa dipetakan, dibagi-bagi. Paradigma ini lalu meraih momentum setelah Newton menemukan teori gravitasi: seluruh alam yang terlihat kacau dan bergerak sendiri-sendiri, ternyata diikat oleh satu hukum gerak universal. Alam semesta lalu dipandang seperti mesin jam raksasa, tiap bagiannya bergerak dan mempengaruhi geraknya yang lain. Para ahli fisika hanya perlu menemukan semua bagian mesin, maka kerja besar fisika akan selesai. Alam semesta tidak lagi jadi misteri karena semua bisa dijelaskan dalam satu penjelasan sederhana.

Pola pandang Cartesian-Newtonian lalu merembes dan mempengaruhi segala bidang, mulai dari ekonomi sampai psikologi. Segala hal dibagi-bagi, dipisah-pisah, sampai ke bagiannya yang terkecil. Akibatnya, kita kehilangan cara untuk memahami hal non materi yang tidak bisa dipegang dan diukur, seperti jiwa manusia, ataupun Tuhan. Karena tidak bisa dipegang, akhirnya dianggap tidak ada. Manusia hanyalah sekumpulan perilaku yang bergerak atas rangsang luar. Tuhan hanyalah khayalan orang sakit jiwa. Perincian mengenai masalah-masalah ini ditulis Capra secara panjang lebar di bagian tiga.

Namun, penemuan dunia atom mulai menggoyahkan pandangan itu. Fisika kuantum, atau Capra menyebutnya Fisika Baru, seolah menentang segala hal yang sudah diketahui ilmuwan sejak abad 17. Di dunia kuantum, bahkan materi itu ‘tidak ada’. Di sekolah kita belajar bahwa atom itu seperti bola besar (inti) yang dikelilingi oleh bola-bola kecil (elektron) yang berputar-putar. Kenyataannya, tidak ada bola. Yang ada adalah ‘tarian’, suatu gelombang gerak bersama yang tidak terdefinisi secara jelas siapa penarinya di ruang kosong yang amat luas. Jika atom saja seperti itu, maka materi yang kita kira padat pun sebenarnya ‘kosong’. Yang paling menarik, di dunia atom kita tidak bisa mengambil kesimpulan mengenai sesuatu, tanpa memperhitungkan kesadaran kita sendiri sebagai pengamat. Seolah atom-atom menunggu aksi dari kita (pengamat) untuk menampilkan diri. Jika kita ingin menganggap mereka sebagai gelombang, maka mereka menari sebagai gelombang. Jika ingin dianggap materi, maka mereka berkumpul menjadi materi. Sungguh membingungkan!

Pada bagian empat, Capra menceritakan lebih lanjut akibat dari penemuan Fisika Baru pada bidang-bidang kehidupan lain. Karena kini kesadaran manusia harus diperhitungkan, maka muncullah pendekatan holistik, paradigma sistem, yang melihat segala sesuatu sebagai sebuah jaringan besar. Karena belajar mengenai Filsafat Islam, saya terutama tertarik pada bab yang membahas kegilaan. Capra menyatakan bahwa psikologi modern telah gagal memahami kegilaan (schizophrenia). Padahal, sejak berabad lampau, para mistikus merangkul pengalaman batin ‘di luar ruang dan waktu’ sebagai pintu untuk meraih pencerahan spiritual. Saat ini, schizophrenia hanya dianggap penyakit yang diobati dengan cara kimia (pemberian obat syaraf). Padahal, dalam paradigma sistem, pengalaman schizophrenia bisa menjadi pintu gerbang untuk memahami spektrum jiwa manusia, yang sampai saat ini baru sedikit sekali diketahui.

Capra menutup buku ini dengan ajakan untuk beralih dari bahan bakar fosil ke energi surya. Dua puluh tahun setelah buku ini ditulis, dunia memang mulai bergerak ke arah paradigma sistem yang lebih baik. Banyak hal yang dikhawatirkan Capra di buku ini, ternyata mengalami banyak perbaikan seperti yang dibahas di buku Factfulness. Itu karena paradigma sistem mulai menjadi paradigma utama dunia. Maka buku ini bagus sekali untuk kita baca sekarang, supaya tidak ketinggalan zaman. Jangan-jangan, kita masih tertinggal dua puluh tahun atau bahkan tiga abad dalam memandang dunia, hehehe.

Review buku Factfulness:
https://www.facebook.com/bookolatte/photos/a.113561254376108/128995752832658/

Join Us

Book

O Latte

Follow IG untuk membaca review kami

Join Us on Spotify

Our Location

My Place

The place I like the most

Get Direction