*Benarkah tuduhan bahwa agama terbentuk dari halusinasi dan gangguan jiwa?*
The Varieties of Religious Experience
Penulis: William James
Penerbit: Longmans, Green & Co., 1902
Buku ini merupakan transkrip dari rangkaian kuliah pak dosen William James. Pak William James adalah seorang psikolog terapan yang menulis buku ini tahun 1902, dan akhirnya dianggap sebagai ‘Bapak Psikologi Agama’. Dia penasaran, apa sih gunanya beragama buat para penganutnya? Di masa itu, ateisme mulai marak, dan ilmu psikologi sedang rajin-rajinnnya mempelajari berbagai gangguan jiwa. Beberapa psikolog, setelah meneliti biografi para nabi, orang suci (saints), dan pemimpin agama karismatis, menyimpulkan bahwa beragama itu timbul dari adanya gangguan jiwa, mulai dari halusinasi (merasa mendengar suara gaib, melihat dan percaya hal2 gaib), neurotik (kadang sedih banget, kadang bahagia banget), intinya kalo ga gila ya punya penyakit epilepsi. Pak James berusaha meneliti, apa benar begitu? Dia lalu mengambil sampel pengalaman dari orang-orang beragama (makanya judul bukunya The Varieties of Religious Experience).
Sampel yang dipilih adalah dari mereka yang beragama dengan total, antusias, ‘mereka yang beragama seolah lagi kesurupan saking semangatnya’, bukan yg beragama secara normatif. Dia wawancara dan meneliti biografi para saints, pendiri sekte keagamaan, pendeta karismatik, dari berbagai agama. Katolik, Protestan, Mormon, Hindu, Budha, penyembah Dewi Athena. Dari Islam dia ambil sampel dari para Sufi. Bahkan Atheis juga diwawancarai. Lho, kok bisa? Karena seorang Ateis yg berdedikasi menunjukkan gejala sama aja dengan Teis yg soleh. Bahkan bisa mengalami perasaan ‘kehadiran sesuatu yang agung’. Bedanya cuma ‘yang agung’ didefinisikan sebagai ‘semesta’ atau sekadar ‘force’ saja.
Setelah diteliti dengan seksama (dan bertele-tele sekali, capek bacanya 😅 ) beliau berkesimpulan bahwa beragama bukanlah kegilaan. Walau gejalanya mirip, tapi yang membedakan adalah: beragama membawa ketenangan, produktivitas, dan wawasan luas bagi pemeluknya yang setia. Bagaikan mercu suar di dunia yang fana dan dipenuhi pesimisme, para pelaku agama (dan ateis soleh) bersinar memberi cahaya bagi orang lain. Ajaran agama bisa terlihat sangat aneh, definisi Tuhan bisa beda2, tapi semua memperlihatkan hasil yang sama. Semboyan Pak James: tidak perlu memperdebatkan kebenaran agama. Jika agama membawa hasil positif bagi penganutnya, itulah bukti kebenarannya.
Nah, jadi ngerti ya bedanya gila dan beragama. Jadi kalau mengaku beragama tapi hasilnya paranoid, gampang ngamuk, senang sebar hoax, diam saja melihat ketidak adilan…..perlu dipikirkan ulang apakah pemahaman agama kita sudah benar.