Cart

Your Cart Is Empty

The Violinist’s Thumb: And Other Lost Tales of Love, War, and Genius, as Written by Our Genetic Code

The Violinist’s Thumb: And Other Lost Tales of Love, War, and Genius, as Written by Our Genetic Code

image

Author

Ani

Published

Februari 13, 2024
Judul buku ini kok ‘jempol pemain biola’ sih, memangnya ceritanya tentang apa?
Ternyata judul ini diambil dari cerita hidup Niccolo Paganini violinis Italia awal abad 19, yang saking hebatnya permainan biolanya sehingga orang-orang mengira ia membuat perjanjian dengan setan, supaya bisa bermain biola lebih dahsyat dari pemusik lain. Sebenarnya rahasianya ada di DNAnya, di mana ada gen yang bermutasi sehingga menyebabkan ia mengidap Marfan syndrome, yang salah satu efeknya adalah anatomi jari-jari yang sangat panjang dan fleksibel. Bahkan jempolnya bisa ditekuk horizontal terhadap punggung tangannya! Dengan fitur ‘ekstra’ seperti itu, mudah saja bagi jari-jari Paganini untuk menekan dawai biola di nada-nada yang sulit dicapai oleh jari rata-rata orang.

Cerita-cerita ke’aneh’an seperti ini disampaikan oleh Sam Kean untuk menjabarkan bagaimana gen dan DNA, resep pembentuk fisik makhluk hidup ini memunculkan berbagai ekpresi fisik unik yang amat beragam, dan dengan ‘membaca’ DNA manusia bisa mengenal diri dan sejarah panjang makhluk hidup.

Sejujurnya saya sudah lama mengincar buku Sam Kean (yang judulnya Disappearing Spoon), tapi malah baca yang lain-lain melulu. Nah kebetulan kemarin itu buku-buku yang saya baca membawa saya ke DNA, jadi saya browsing buku tentang DNA dan genetik, dan ketemulah sama buku ini.

The Violinist’s Thumb: And Other Lost Tales of Love, War, and Genius, as Written by Our Genetic Code

Sam Kean
Little, Brown and co. (2012)
416 hal

Sam Kean adalah penulis yang umumnya menulis topik-topik ilmiah populer. Latar belakang pendidikan fisika dan sastra Inggris menjadi kekuatan yang mendukungnya menulis topik ilmiah dengan narasi yang memikat. Betul lho, saya yang beberapa bulan terakhir mengalami reading slump (dari yang biasanya 10 buku sebulan jadi cuma 3), baca buku ini jadi semangat baca lagi.

Saya bersyukur sekali ketemu buku ini, karena selain memunculkan lagi semangat membaca, isinya sangat padat dan informatif tentang sejarah dan kerja gen serta DNA, dengan gaya penyampaian yang seru, lucu, dan dinamis. Menilai dari cara penyampaiannya, saya pikir buku-buku Sam Kean (tidak hanya yang ini) cocok untuk mereka yang ingin mencoba mulai membaca nonfiksi ilmiah populer. Bikin susah berhenti baca saking ramenya.

Segi ilmiahnya juga padat dan sangat bergizi. Buku Herding Hemingway’s Cats dari Kat Arney menurut saya sudah bagus sekali menjelaskan tentang kerja gen dan DNA, eh buku ini malah jauh lebih bagus lagi. Jangkauannya juga lebih luas karena juga mengupas tentang sejarah panjang studi genetika, yang tidak banyak dibahas di buku Arney. Saking luas dan padatnya info di buku ini sampai saya susah milih apa yang akan diangkat di review ini, hehehe.

Karenanya saya hanya akan mengangkat hal yang nyambung dengan bahasan buku sebelumnya saja: pola dan simetri. Ya, buku ini ada sambungan kuat (mestakung!) dengan buku kemarin. Di buku Mario Livio disebutkan bahwa Y-chromosome itu simetri dan penuh dengan palindrom. Buku Sam Kean menjelaskannya dengan lebih detail, bahwa selain simetri bilateral kiri kanan, juga ada simetri-simetri yang lebih dalam dan tersembunyi yang baru bisa ditemukan polanya jika kita mengamatinya secara keseluruhan. Dan percaya atau tidak, simetrilah yang ‘menyelamatkan’ Y-chromosome dari kepunahan!

Beberapa fakta menarik dari buku ini:
1. Dulu Y-chromosome sama saja dengan X, tapi kira-kira 300 juta tahun yang lalu satu gen di Y bermutasi sehingga menjadi ‘master switch’ yang memunculkan organ reproduksi jantan. Sebelum itu terjadi, penentuan jenis kelamin mungkin seperti di reptil saja, tergantung suhu inkubasi telur.
2. Ada gen-gen tertentu yang bertanggung jawab atas perkembangan sel otak, sistem kekebalan tubuh, dan kecepatan sel sperma , yang membuat Sapiens pada suatu waktu berkembang dan meluas amat cepat di bumi. Dan kejadian itu kira-kira bertepatan dengan munculnya budaya agraria, sistem bahasa dan tulisan dalam sejarah manusia. Kebetulan? I personally don’t think so. Gen tersebut juga berkaitan dengan kemampuan ‘perfect pitch’ pada manusia, yang kalau di buku Pattern Seekers, adalah salah satu ciri kuat systemizing mechanism.
3. Jika saja persoalan ‘ras’ tidak begitu sensitif dan polarizing, perlu diakui bahwa memang ada ciri-ciri yang khas di kelompok-kelompok manusia, yang tercatat di DNAnya. Akan lebih baik jika kita bisa memperlakukannya secara objektif dan tidak menjadikannya sebagai alasan berlaku diskriminatif, dan sebaliknya, merayakan keistimewaan ras masing-masing dan saling mendukung.

Di level DNA, hidup kita diatur oleh hukum-hukum fisika dan matematika. ‘Arsitektur’ DNA menunjukkan jejak ‘golden ratio’ antara panjang dan lebar; DNA melipat dirinya dalam pola fraktal supaya bisa muat di inti sel; distribusi gen dan ekspresinya juga simetri mengikuti bell curve (central limit theorem di statistik). Pola DNA seperti ini juga ditemukan di bahasa dan musik.

Sam Kean mengungkapkannya seperti ini: bahwa gen adalah informasi, seperti cerita hidup, dengan DNA sebagai bahasa yang menuliskannya.
Mungkin hidup kita ini adalah sebuah kisah musikal epik di panggung agung semesta, dan semua ikut serta berperan di dalamnya sesuai porsi masing-masing.

Note: saya SANGAT merekomendasikan buku ini. Review nggak cukup soalnya, asli harus baca sendiri.

Join Us

Book

O Latte

Follow IG untuk membaca review kami

Join Us on Spotify

Our Location

My Place

The place I like the most

Get Direction