Cart

Your Cart Is Empty

The World Itself: Consciousness and the Everything of Physics

The World Itself: Consciousness and the Everything of Physics

image

Author

Ani

Published

Februari 18, 2024

Buku ini dari awal sudah sangat jelas di mana posisinya: (extremely) materialistic, bahwa segala sesuatu di semesta ini ya materi, dan tidak ada yang lain di luar semesta. Physics is all there is, kata Ulf Danielsson, fisikawan teori asal Swedia.

Max Tegmark, sesama fisikawan asal Swedia penulis buku “Our Mathematical Universe” (dan salah satu ilmuwan yang argumennya dikritik di buku ini) mengomentari buku ini di halaman belakang: “Argumentasi Danielsson mengenai kecerdasan, kesadaran, dan realitas fisik di buku ini sangat bertolak belakang dengan pandangan saya. I highly recommend it!”. Lucu ya, pandangan yang sangat berlawanan malah direkomendasikan untuk dibaca. Tapi memang itu praktek bersains yang baik: membandingkan sudut pandang berbeda untuk mengkritisi dan menganalisa benar-salahnya. Dengan begitu pengetahuan kita maju.

Well, mari kita lihat argumennya.

The World Itself: Consciousness and the Everything of Physics

Ulf Danielsson
Bellevue Literary Press (2023)
173 hal

Ulf Danielsson adalah fisikawan teori dan kosmolog Swedia, PhD lulusan Princeton University, dan sekarang mengajar di departemen fisika dan astronomi Uppsala University.

Sejak di awal buku ia sudah menjelaskan posisinya: “Saya harus mengakui bahwa pandangan saya tentang dunia tampak ekstrim. Bukan hanya bahwa fisika adalah basis segala sesuatu, tapi juga fisika adalah segala sesuatu. It is everything. Fisika adalah studi tentang dunia dan segala aspeknya.” Sudut pandang ini yang menjadi basis dan batas argumen-argumennya. Danielsson menyebut dirinya dan sudut pandangnya ini ‘naturalist’.

Buku ini tipis saja, dan terbagi menjadi 8 bab yang dari judul-judulnya sudah menggambarkan posisi Danielsson dalam berbagai topik:

Everything is Physics
menurut Danielsson, segala sesuatu adalah material, tidak ada yang immaterial. Dunia ini nyata, bukan ilusi seperti banyak dibilang. “Coba aja benturkan kepalamu ke dinding!” katanya. Menurut Danielsson, semua ini gara-gara kepercayaan religius tentang adanya jiwa yang transenden dan terpisah dari tubuh. Baginya, dualisme itu tidak ada, yang ada ya hanya fisik/materi.

Living Beings Are Not Machines
menurut Danielsson, pandangan naif reduksionis bahwa makhluk hidup itu seperti mesin yang terbuat dari bagian-bagian kecilnya adalah salah, karena makhluk hidup punya ‘subjective inner world’ alias kesadaran (nah kalo ini saya sepakat sih) yang emergent, muncul seiring evolusi. Karena itu kesadaran tidak akan bisa ‘diunggah’ ke komputer, karena kesadaran muncul lengkap dengan darah, daging, dan otak, wetware manusia.

The Universe Is Not Mathematics
di bab ini Danielsson mengritik pandangan Max Tegmark (di bukunya Our Mathematical Universe). Menurut Danielsson, matematika adalah alat yang diciptakan manusia untuk memodelkan realitas, tapi bukan realitas itu sendiri (ini nyambung dengan argumen di bab berikutnya). Ia juga mengatakan bahwa ‘hukum alam’ itu nggak ada, karena seperti matematika, hukum-hukum fisika itu ‘hanyalah’ usaha manusia mendeskripsikan alam semesta, bukan sesuatu yang punya eksistensi independen di luar pikiran kita. Mengapa ‘hukum alam’ bisa ‘berubah’ seperti hukum Newton yang lalu dikoreksi oleh teori relativitas Einstein, “ya karena aturan-aturan itu adanya di pikiran manusia, tentunya bisa berubah”.

Danielsson juga mengangkat bagaimana David Hilbert lewat Hilbert program-nya berusaha membangun matematika dengan fondasi yang kuat, berupa sistem yang konsisten dan lengkap, sehingga tidak tergoyahkan. Tapi kata Danielsson, lihat saja bagaimana natural language yang kita pakai sehari-hari saja tidak konsisten dan lengkap, kenapa Hilbert beranggapan bahwa matematika yang juga sebuah ‘bahasa’, bisa konsisten dan lengkap? Dan memang kemudian Kurt Godel menghancurkan mimpi Hilbert ini lewat teorema Ketidaklengkapannya.

There Is a Difference Between Model and Reality
berkaitan dengan bab sebelumnya, Danielsson mengatakan bahwa konstruksi matematik tentang alam semesta hanyalah alat untuk menjembatani pemahaman manusia akan realitas, dan bukan ‘what it is’.

Computer Are Not Conscious
(nyambung dengan bab 2) di sini Danielsson membahas artificial intelligence, yang menurutnya tidak akan pernah mencapai kesadaran seperti manusia, karena tidak punya wetware. Kesadaran adalah emergent dari sistem tubuh manusia. Kurang lebih seperti yang diceritakan Anil Seth di buku Being You deh kayaknya.

Not Everything Can Be Calculated (nyambung dengan bab 3)

Man Is Not Unique
dalam artian, makhluk hidup lain juga punya punya kesadaran / inner self/ inner world seperti manusia, tapi dalam konteksnya masing-masing dan tidak bisa dibandingkan dengan inner world manusia. Manusia aja geer merasa unik..haha

Does Free Will Exist?
menurut Danielsson konsep free will, seperti pula konsep determinisme adalah sama-sama naif dan tidak mungkin karena keduanya didasarkan pada pandangan dualisme material-spiritual dan bahwa ada entitas mahatahu yang sudah menentukan (determine) realitas. “The naturalist stands in the middle of the universe, and tries as best he can, trapped in his mortal body but with the help of an imperfect brain, to articulate what he observes.”
“The world itself, with all its stars, particles, and people, does what it does. The laws of nature are nothing more than our attempts to make models of the world. Our vantage point is limited and constantly evolving. There may bephenomena that will forever be beyond us. ‘In principle’ is not enough, it is what is in practice that counts” tulis Danielsson menutup bukunya.

Dalam semua argumennya saya menangkap bahwa, begitu suatu sudut pandang tampak mengindikasikan bahwa ‘ada sesuatu yang lebih besar dari alam semesta’, maka Danielsson akan menolaknya. Misalnya, ia menolak pandangan Platonis. “Ya itu sama saja dengan menganggap bahwa ada Tuhan”. Akibatnya, ada hal-hal yang seperti sengaja tidak dituliskannya karena meskipun temuannya ia pakai untuk mendukung posisinya, namun kelanjutan temuan tersebut tidak ia tuliskan karena konsekuensinya memang ‘ada sesuatu yang lebih besar’.

Contohnya ketika ia mengangkat teorema Ketidaklengkapan Godel untuk ‘meruntuhkan’ argumen bahwa ‘everything is mathematics’, namun tidak lanjut ngasih tau bahwa sebenarnya Godel bilang bahwa hal itu bisa diselesaikan dengan ‘naik ke infinity yang lebih tinggi’. Bahkan berdasarkan riset mutakhir tentang Godel’s Program, semua aspek dari realitas terkait satu sama lain. Hal yg paling finite dalam matematika (atau padanannya yg paling material di fisika) memerlukan adanya infinity, dan ini merupakan keniscayaan.
Begitu pula ketika ia mengritik teori bahwa dunia adalah simulasi. Karena ia membatasi pandangannya bahwa ‘yang ada hanya alam semesta ini, dan tidak ada sesuatu di luar’, makanya dalam pandangannya simulasi tsb dilakukan oleh manusia masa depan untuk mensimulasi dirinya sendiri di dalam dunia yang sama, bukan dilakukan oleh entitas lain di luar manusia. Kalau seperti ini kan memang looping dan absurd?

Saya jadi ingat kata fisikawan Carlo Rovelli di Helgoland “we need to adapt our philosophy to our science, and not our science to our philosophy.” Pandangan kitalah yang harus ‘dikalibrasi’ melalui temuan-temuan ilmu pengetahuan, bukan sebaliknya. Kesan saya membaca buku ini, yang dilakukan oleh Danielsson adalah adapting science to his philosophy. Semacam cocoklogi dong ya? Ironis bahwa di buku ini ia mengritik bias religius dalam pandangan banyak fisikawan dan matematikawan, tapi pandangan dia sendiri pun sebenarnya sangat bias, dan sangat terbatas sehingga realitas pun ia batasi hanya berupa materi.
*kasih cermin buat Danielsson*

Amir Aczel dalam bukunya “Why Science Does Not Disprove God” menulis, janganlah sains itu dipakai untuk mengedepankan agenda tertentu, mau itu pro agama ataupun anti agama. Jadikan sains sebagai cara untuk mencari kebenaran, itu saja.

Menutup review ini saya kutip dari Niels Bohr:
“Everything we call real is made of things that cannot be regarded as real. If quantum mechanics hasn’t profoundly shocked you, you haven’t understood it yet.”

Terkait:

Our Mathematical Universe (Max Tegmark)
https://www.facebook.com/bookolatte/posts/pfbid0sevFG5vu9VcgmC5oJQ2ANid7FbbLR76yqG3HoUDYQRdcwMqXAAGDMaMdNCGSpJhul

Helgoland (Carlo Rovelli)
https://www.facebook.com/bookolatte/posts/pfbid05nZU96az4Y67q359bg5ncPaMeNu99PM75CixeEfB6VVL7qeBi5qxbALVHXYpFccRl

Being You (Anil Seth)
https://www.facebook.com/bookolatte/posts/pfbid0VBPQ73Qx8KDb5KgVJ1EAV9EAUVzZJCCZKsbXfxWQPDoqLWA7m7AurmWAMV1wDsCVl

Why Science Does Not Disprove God (Amir Aczel)
https://www.facebook.com/bookolatte/posts/pfbid0amQxKbMNSRLUYqa3Svsgpi5pxAzQx5kopREaSu6dzagj4vFRYkHxH72AZmGpZdVDl

Join Us

Book

O Latte

Follow IG untuk membaca review kami

Join Us on Spotify

Our Location

My Place

The place I like the most

Get Direction