Kembali Bookolatte mempersembahkan review dari reviewer tamu. Kali ini dari Heidi Kartika, seorang ibu satu anak yang berdomisili di Banyuwangi, yang membaca dan menuliskan review buku tebal ini di sela-sela kesibukannya mengurus bayi.
Selamat membaca!
===============================
Judul: The World Until Yesterday
Penulis: Jared Diamond
Halaman: 603 Halaman
Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Personal rating: 8.5/10
“Study the past and you would define the future” – Confucius
Mengenang dan mempelajari sejarah memang sangat penting, karena banyak sekali hal yang bisa kita pelajari dan menghindarkan diri dari mengulang sejarah yang buruk. Mungkin itulah yang dicoba dilakukan oleh Jared Diamond ketika menulis buku ini, agar manusia belajar tentang kehidupan di masa lalu dan mengambil pelajaran darinya.
Sejujurnya ketika pertama kali membaca judul dan ringkasan buku ini, saya berharap buku ini akan memberikan semacam “timeline” mengenai perkembangan peradaban manusia sejak jaman purba hingga jaman modern. Namun ternyata isi buku ini sebagian besar adalah perbandingan kehidupan antara manusia tradisional dan manusia modern. Bahkan penulis sangat sedikit sekali menyebutkan tahun di uraiannya dan lebih sering menggunakan ‘masa’ sebagai penanda waktu seperti masa nomaden, masa berburu-pengumpul, masa bercocok tanam dll. Yang membuat buku ini tetap menarik untuk dibaca adalah banyaknya informasi yang diberikan penulis di setiap bab yang berhubungan dengan tema yang sedang dibahas.
Buku ini dibagi menjadi lima bagian yang masing-masing menjelaskan tentang satu kategori, yang kemudian dibagi lagi menjadi beberapa bab, yaitu membangun latar dan berbagi ruang, damai dan perang, muda dan tua, bahaya dan tanggapan, serta yang terakhir agama, bahasa dan kesehatan.
Bagian satu dan dua sangat mendominasi buku ini karena jumlah halaman untuk kedua bab ini mencapai seperempat buku sendiri (sekitar 150 halaman). Bahkan ada satu bab khusus dimana Jared membahas khusus masalah perang dan contoh-contoh perang yang pernah terjadi di beberapa suku. Dua bagian awal buku ini juga banyak membahas tentang bagaimana kehidupan manusia di masa lalu berubah dari kawanan (kelompok kecil) menjadi lebih besar dan rumit (diistilahkan sebagai suku), berkembang lebih lebih besar lagi menjadi kedatuan, yang terdiri atas ribuan orang dan kemudian berubah lebih kompleks lagi menjadi sebuah negara seperti sekarang ini.
Hal yang cukup menarik dari bab ini adalah mengenai pembahasan “first contact” atau kontak pertama yang terjadi antara manusia modern dan manusia primitif yang hidup di pedalaman Papua pada ekspedisi Leahy tahun 1933. Penulis bahkan menyertakan foto kontak pertama ini di satu halaman di tengah-tengah buku yang memperlihatkan seorang lelaki pedalaman Papua yang sedang menangis ketakutan karena mengira manusia modern adalah makhluk dari alam lain.
Jared menjelaskan bahwa penduduk pedalaman Papua tersebut menganggap pendatang dari Eropa itu adalah makhluk dari langit, atau arwah nenek moyang mereka yang turun ke bumi untuk mengunjungi mereka. Mereka baru sadar kalau pendatang tersebut hanyalah manusia biasa setelah menyelidiki tenda-tenda mereka dan menemukan (maaf) tahi yang ada di jamban perkemahan.
Bab dua juga menyoroti perbedaan peradilan jaman dulu dan sekarang dimana jaman dahulu keadilan ditegakkan secara sederhana dimana “mata dibalas mata, gigi dibalas dengan gigi”, sehingga apabila ada seseorang yang dengan sengaja atau tidak sengaja terbunuh, maka keluarga korban akan menuntut balas satu nyawa sebagai bentuk keadilan, apakah itu si pelaku pembunuhan ataupun keluarga pelaku yang mungkin ingin melindungi atau menggantikan si pelaku. Intinya, mereka menuntut hilangnya satu nyawa juga dari keluarga pelaku walaupun itu bukan pelaku sendiri.
Bagi yang sudah pernah membaca buku ‘The Happiest Baby on the Block’ karya Harvey Karp, mereka pasti akan relate dengan informasi yang disuguhkan penulis di bagian ketiga bab 5, dimana penulis membahas mengenai perbedaan cara masyarakat tradisional merawat anak mereka dengan cara digendong manual dengan tangan, membedong bayi untuk membuat bayi mereka hangat dan nyaman, serta mengayun-ayun dan bergumam saat mereka ingin menenangkan dan menidurkan bayi mereka. Praktik-praktik perawatan anak kuno ini sudah banyak ditinggalkan masyarakat modern dan dianggap sudah tidak relevan lagi dengan ilmu modern yang berkembang, namun belakangan mulai dipraktekkan kembali karena ternyata cara-cara tersebut justru sangat efektif untuk menenangkan bayi. Dr. Harvey Karp mengatakan bahwa membedong dan mengayun-ayun serta bergumam pada bayi secara tidak langsung menciptakan lingkungan yang bayi kenali seperti saat mereka masih di dalam kandungan yang berada di ruang yang sempit (perut ibu), senantiasa berayun mengikuti pergerakan ibu dan getaran suara yang halus yang terus-menerus didengar sang bayi yang berasal dari dalam tubuh si Ibu seperti aliran darah, detakan jantung dsb.
Informasi menarik lain di bab ini adalah bagaimana masyarakat primitif melahirkan anak mereka, dimana hampir semuanya dilakukan secara mandiri tanpa bantuan ahli medis seperti saat ini. Salah satu contoh yang disebut di buku ini adalah masyarakat !Kung di gurun Afrika Selatan, dimana saat akan melahirkan, perempuan yang melahirkan pertama kali akan didampingi (bukan dibantu) perempuan lain selama proses kelahiran, sedangkan mereka yang melahirkan anak kedua dan seterusnya diharapkan berjalan kaki menjauh beberapa ratus meter dari perkampungan dan melahirkan sendiri tanpa bantuan.
Selain mengenai kelahiran, penulis juga membahas cara masyarakat primitif mendidik anak yang mungkin akan dianggap berbahaya oleh manusia modern, yaitu memberikan kebebasan penuh pada anak sedari mereka kecil. Sebagai contoh adalah ketika seorang peneliti, Daniel Everett, berada di antara suku Indian Piraha, ada satu anak yang dibiarkan oleh orang tuanya ketika bermain-main dengan sebilah pisau tajam sepanjang 20 cm. Anak ini dengan santainya mengisap-isap pisau tersebut dan kadang menggerakkan dekat mata, dada, dan lengannya. Saat pisau ini terjatuh pun, ibu sang anak juga dengan mudah memberikan kembali pisau tersebut kepada sang anak dan meneruskan kegiatannya seolah itu hal yang biasa. Cara didik seperti ini bagi mereka akan efektif menyiapkan anak-anak mereka menjadi orang yang pemberani dan sanggup menghadapi bahaya ketika dewasa, karena hidup mereka memang berada di lingkungan yang bisa mendatangkan bahaya kapan saja seperti serangan binatang buas atau peperangan antar suku.
Di bagian terakhir buku ini yang membahas agama, bahasa dan kesehatan, Jared memulai dengan evolusi agama dari masyarakat tradisional yang menganut animisme dan dinamisme, hingga masyarakat modern yang kini terbagi menjadi beberapa agama. Jared juga membuat tabel fungsi agama yang berubah seiring waktu dimulai pada masa kawanan dan suku pada 5000 SM, kedatuan dan negara yang muncul pada 5000-1 SM, negara-negara religius Eropa 1600 M, dan yang terakhir negara-negara sekuler masa kini.
Bagaimana bisa di dunia ini akhirnya ada 7000 bahasa? Jawaban untuk pertanyaan ini juga yang ingin dijelaskan penulis pada bab ini. Ia menganalogikan jawabannya dengan menceritakan bagaimana ia yang bisa berbahasa Jerman karena pernah tinggal disana pada tahun 1961, namun setiap kali ia berkunjung ke Jerman, ia akan mendapati sejumlah kata baru yang yang mengharuskan seseorang menjelaskan padanya arti dari kata tersebut. Meskipun demikian, penulis masih bisa berkomunikasi dengan orang-orang di sana dan masih bisa saling memahami. Ia mengatakan perubahan-perubahan mandiri semacam itulah yang terjadi pada dua masyarakat penutur yang terpisah secara geografis yang mengakibatkan terbentuknya bahasa yang berbeda, walaupun mereka berasal dari masyarakat penutur yang sama.
Di bagian penutup buku ini, penulis secara ringkas menuliskan tentang keunggulan masing-masing masyarakat primitif dan masyarakat modern dan apa yang bisa kita pelajari dari keduanya. Secara keseluruhan, buku ini cukup menarik karena menyuguhkan banyak informasi serta fakta-fakta sejarah yang mungkin belum kita ketahui sebelumnya, yang kadang membuat saya bergumam “Ooh, begitu” di dalam hati ketika mendapati informasi yang menarik. Namun bagi penikmat dan pembaca buku-buku sejarah, buku ini mungkin akan terasa membosankan karena mereka tidak banyak menemukan hal baru di buku ini. Kritik kecil juga ingin saya sampaikan kepada penerbit mengenai typo yang cukup banyak terjadi sepanjang saya membaca buku ini dari awal hingga akhir. Walau tidak begitu fatal karena hanya satu atau dua huruf yang salah, namun frekuensi yang cukup sering membuat pembaca akan merasa sedikit terganggu. Selebihnya, buku ini cukup menyenangkan untuk dibaca para penikmat buku nonfiksi.
-Heidi-