Cart

Your Cart Is Empty

Thinking, Fast and Slow

Thinking, Fast and Slow

image

Author

Ani

Published

Februari 18, 2024

Pertama kali saya baca buku ini tahun 2014, ketika riuh rendah suasana politik gara-gara pemilu. Buku ini membahas dengan detil mengenai bias dan sesat pikir, yang saat itu banyak sekali sengaja diciptakan untuk memanaskan suasana media sosial. Karena itu, buku ini sangat tepat untuk dibaca ulang dalam menghadapi panasnya pemilu tahun 2024.

Thinking, Fast and Slow
Daniel Kahneman
Edisi Bahasa Indonesia diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, cetakan pertama tahun 2011
624 halaman

Daniel Kahneman adalah seorang ahli ekonomi yang meraih Nobel pada tahun 2002, karena studinya mengenai perilaku manusia dalam aktivitas ekonomi. Penelitiannya menantang teori sebelumnya yang sudah mapan, yaitu anggapan bahwa dalam melakukan aktivitas ekonomi, manusia melakukan perhitungan untung-rugi secara rasional. Kahneman melalukan serangkaian penelitian yang menyatakan sebaliknya. Dalam melakukan kegiatan ekonomi, manusia sangat dipengaruhi oleh bias, sesat pikir, dan emosi. Buku ini adalah versi populer dari hasil penelitiannya. Pemikiran Kahneman saat ini menjadi dasar bagi banyak ahli psikologi dan memberi banyak sumbangan bagi bidang behavioral economics yang meneliti aspek psikologis dalam aktivitas ekonomi manusia. Yuval Harari dalam bukunya Sapiens serta Homo Deus juga mengutip buku ini secara panjang lebar, saat menjelaskan keunggulan AI daripada manusia.

Kahneman sendiri menulis buku ini dengan nada santai, bahkan terkesan main-main. Memang, penelitian yang dilakukannya untuk membedah rasionalitas manusia dilakukan dalam serangkaian percobaan kecil yang sederhana, saking sederhananya jadi terkesan main-main. Contohnya, percobaan memasang gambar mata yang sedang menatap di atas kotak uang di kantin kejujuran. Selama seminggu, gambar mata itu dipajang, sebelum diganti dengan gambar bunga. Lalu setelah seminggu, gambar itu diganti lagi dengan gambar mata. Percobaan ini dilakukan tanpa ribut-ribut, sehingga pembeli di kantin kejujuran tidak ada yang sadar kalau gambar itu berganti-ganti. Oh ya, kantin kejujuran adalah kantin yang tidak ada penjaganya, setiap pembeli mengambil makanan dan membayar sendiri dengan cara memasukkan uang ke kotak uang. Ternyata, perbedaan gambar berpengaruh signifikan pada jumlah uang yang dibayarkan: minggu-minggu dengan gambar mata memperoleh uang yang jauh lebih banyak daripada minggu dengan gambar bunga. Kenapa? Ternyata gambar mata tanpa sadar membuat pembeli jadi merasa diawasi. Jadilah mereka tanpa sadar berbuat jujur ketika membayar. Ingat tren memasang gambar Suzanna sedang melotot di paket🤣? Lucu kan?

Tunggu dulu, merasa familiar dengan percobaan ini? Rasanya pernah lihat di suatu tempat? Ya, percobaan-percobaan dalam buku Thinking, Fast and Slow telah diadaptasi menjadi TV show di National Geographic: Brain Games. Ide bahwa otak manusia bisa sangat terpengaruh oleh lingkungan, walaupun tidak disadari, telah menarik minat banyak peneliti. Tapi, kenapa bisa begitu? Bukankah kita seharusnya selalu melakukan kegiatan ekonomi (membeli dan menjual barang) dalam keadaan sadar?

Kahneman mempopulerkan istilah Sistem 1 dan Sistem 2 dalam proses berpikir manusia. Sistem 1 adalah bagian dari pemikiran kita yang bersifat cepat, otomatis, tidak bisa di-off, dan sangat kreatif. Sistem 1 bekerja nyaris tanpa disadari, misalnya dengan cepat mengenali apakah seseorang sedang marah atau sedih, menaksir seberapa jauh dan seberapa cepat mobil mendatangi kita di jalan raya, membunyikan tanda bahaya di kepala jika ada sesuatu yang mirip ular, bahkan sebelum kita benar-benar sadar bahwa sesuatu itu ular atau bukan. Sistem 1 bertanggung jawab pada keselamatan kita, dengannya kita bisa berjalan di dunia yang penuh bahaya ini dengan normal dan aman. Kelemahannya, dia tidak punya filter. Sedangkan Sistem 2 adalah pemikiran sadar yang lambat dan pemalas. Sistem 2 hanya akan bekerja jika kita benar-benar ‘memanggilnya’. Dia bertanggung jawab atas penilaian akurat, berhitung matematis dan statistik, menahan diri dari dorongan emosi berlebihan, merenung, dan mengingat segala hal yang penting. Alasan mengapa Sistem 2 pemalas, karena untuk mengaktifkannya butuh energi jauh lebih besar daripada Sistem 1. Kelemahan lainnya, Sistem 2 hanya bersifat merangkum dan mengambil kesimpulan dari hal-hal yang ditawarkan oleh Sistem 1. Untuk melatih Sistem 2 agar melebihi kapasitasnya, butuh energi lebih besar lagi. Karena itulah kita mudah merasa lapar setelah berpikir keras. Sungguh pembenaran yang sah buat doyan ngemil ketika belajar dan bekerja di kantor, hahahaha.

Lebih jauh lagi, Kahneman menyatakan bahwa adanya Sistem 1 dan Sistem 2 dalam pemikiran kita membuat diri kita seolah terdiri dari dua kepribadian berbeda. Kepribadian 1 spontan, hiperaktif, dan berisik. Anak hiperaktif ini mengalami segala hal: terangnya cahaya matahari, suara berisik mobil di jalan, obrolan orang di depan kafe dekat trotoar, anjing menggongong, angin bertiup… sedangkan kepribadian 2 yang tenang, terkantuk-kantuk, dan mudah tertidur, menyaring sekian banyak input dan hanya menyimpan ingatan yang paling penting saja. Kepribadian 1 mengalami, sedangkan kepribadian 2 mengingat yang penting dan menciptakan narasi yang koheren. Kepribadian 2 dianggap diri kita yang sejati, itulah si ‘aku’. Aku yang berpikir secara sadar, aku yang bertindak secara rasional. Tapi itu hanya ilusi. Ada banyak sekali hal yang bisa mengganggu proses berpikir bahkan ingatan si aku, gara-gara kepribadian 1 memasukkan input yang salah. Itulah yang saat ini digunakan oleh para influencer, perancang iklan, penulis naskah film, dan propagandis yang ingin meraih dukungan massa sebanyak-banyaknya. Beri input yang salah untuk kepribadian 1, dan orang yang tidak terbiasa membangunkan kepribadian 2 akan menelan segalanya mentah-mentah.

Dalam buku Homo Deus, Yuval Harari mengambil teori Sistem 1 dan 2 untuk menggugat keyakinan umum bahwa kepribadian kita, si aku, adalah sesuatu yang utuh. Nyatanya jelas terbagi dua kok. Menurut Yuval, karena ada dua suara di kepala kita, yang satu berisik dan satunya lagi pemalas, maka sebenarnya jiwa kita tidak utuh. Ketidak utuhan itu membuat manusia sangat sering salah mengambil keputusan, entah karena lupa atau karena emosi. Kesukaan kita pada seorang politikus bisa dipengaruhi hanya karena kita suka dengan gaya berpakaiannya. Nanti, Kepribadian 2 merancang alasan bagus, sebuah narasi untuk merasionalkan kesukaan kita. Misalnya: ‘Memang ide-ide politikus ini bagus kok, aku suka dia bukan cuma karena dia kelihatan rapi!’ Kasus lainnya, ketika ada pasangan yang bercerai, maka Kepribadian 2 akan memproduksi narasi agar keputusan bercerai itu konsisten dengan penilaian awal ketika jatuh cinta: ‘Aku dulu tertipu, aku kira dia baik. Ternyata dia penipu ulung yang brengsek! Kalau dipikir-pikir lagi, waktu dia melakukan A, B, C, itu sebenarnya tanda-tanda kebrengsekannya!’. Kepribadian 2 memproduksi narasi agar kita selamat dari keharusan mengakui bahwa kita telah sedemikian bodoh karena telah menginvestasikan cinta begitu banyak pada mantan 😁. Karena itu, Yuval menyarankan bahwa kita menggunakan AI untuk mengambil keputusan politik. AI tidak lupa, tidak marah, ataupun tidak tiba-tiba jatuh cinta.

Bagaimana, buku ini sangat menarik kan? Mumpung baru dicetak ulang lagi, silahkan diburu di toko terdekat. Selamat membedah cara kerja pemikiran kita sendiri.

Join Us

Book

O Latte

Follow IG untuk membaca review kami

Join Us on Spotify

Our Location

My Place

The place I like the most

Get Direction