Selama berabad-abad, dua kitab suci agama besar, Injil dan Al Qur’an, mendapat reputasi ‘buruk’ sebagai kitab-kitab yang sulit dibaca. Kisah-kisah di dalamnya tidak tersusun dalam urutan yang logis, diulang-ulang seolah tanpa makna, dan topiknya melompat-lompat. Banyak pembaca awam yang menyerah dalam mendalami kitab suci, karena sulitnya memahami alur kisah dalam ayat. Sedangkan sifat ayat yang seolah terpisah satu sama lain (karena sulit mencari benang merah antar topik yang melompat-lompat) telah mengakibatkan munculnya berbagai versi penafsiran makna.
Namun, belakangan ini muncul cara baru dalam memahami kitab suci yang berlatarkan budaya Semit seperti Injil dan Al Qur’an, yaitu dengan membacanya dengan cara baca melingkar, mengikuti struktur cincin/Ring Structure. Ternyata, cara baca ini mampu mengungkap adanya alur logis yang sangat indah dalam kitab suci.
Judul: Thinking in Circles: An Essay on Ring Composition
Pengarang: Mary Douglas
Penerbit: Yale University Press, 2007
Tebal: 186 Halaman
Dunia modern terbiasa menyampaikan cerita dan berdiskusi dengan cara linear. Dimulai dengan pembukaan, diikuti isi cerita, lalu ditutup dengan kesimpulan. Jika kita menemukan suatu naskah yang tidak mengikuti alur linear seperti ini, kita akan menganggap naskah ini ditulis dengan buruk, berputar-putar, dan tidak jelas. Lebih jauh lagi, kita akan mencap penulisnya sebagai penulis yang tidak kompeten dalam mencurahkan pemikirannya.
Penilaian inilah yang selama ini membayangi kajian kitab suci agama besar yang berasal dari tradisi Semit, Injil dan Al Qur’an. Karena sifat bacaan yang nampak rumit, kedua kitab suci ini menjadi sasaran kritik: sulit dibaca, tidak koheren, ada kemungkinan ditambahi oleh berbagai pengarang dalam kurun waktu yang panjang sementara editor terakhir sekadar berusaha mengumpulkan semuanya dalam satu kesatuan tanpa diedit lagi. Ada juga peneliti seperti Karen Armstrong dan Lesley Hazleton, yang berusaha menengahi penilaian ini dengan cara mengatakan bahwa kitab suci memang tidak dirancang untuk dibaca secara linear, melainkan diulang-ulang bagian-bagiannya, karena pembacaan kitab suci merupakan sarana ibadah. Namun kondisi kitab suci yang ‘membingungkan’ tetap menjadi misteri bagi banyak peneliti.
Sejak tahun 1800, berkembang penelitian baru mengenai cara baca Injil. Penelitian ini muncul setelah mendalami dengan teliti gaya bahasa Injil dalam penggunaan simetri. Kitab suci tersusun dalam gaya bahasa yang nyaris seperti puisi: ada kata-kata berulang yang membentuk simetri. Simetri ini bisa berupa kata dengan makna sejajar, bisa juga kata yang berlawanan. Dengan mengamati simetri-simetri ini, ditemukanlah bahwa surat-surat dalam Injil sesungguhnya ditulis dalam struktur simetri yang saling bersahutan satu sama lain, seperti cermin melingkar. Tema bagian awalnya terkait dengan bagian akhir, tema bagian kedua terkait dengan bagian kedua terakhir, dan seterusnya. Lalu, dimanakah letak kesimpulannya? Ternyata, kesimpulannya bukan terletak di belakang seperti cara pikir modern, namun ada tepat di tengah-tengah. Bagian tengahlah yang menjadi jantung makna seluruh tulisan.
Penelitian lanjutan menemukan bahwa gaya menulis seperti ini tidak hanya terdapat dalam naskah yang berlatar budaya Semit, melainkan tersebar di seluruh dunia. Mulai dari naskah kuno Yunani, Cina, Polinesia, semua memuat struktur simetri yang serupa. Penemuan ini menggairahkan kembali penelitian naskah kuno belakangan ini, terutama naskah kitab suci Injil dan Al Qur’an. Ternyata, kedua kitab ini bukan merupakan kitab yang ditulis sembarangan, melainkan hasil dari penyusunan yang indah dan jenius. Pada Al Qur’an, bahkan cara membaca secara simetri ini diklaim telah menemukan suatu struktur cincin yang luar biasa, karena bertingkat mulai dari ayat, surat, sampai seluruh kitab tersusun secara rapi dalam struktur melingkar. Bidang penelitian struktur simetri pun jadi marak, banyak peneliti yang ingin ikut membuktikan kebenaran adanya struktur ini dalam kitab suci.
Lalu apa pengaruh cara baca simetri pada tafsir kitab suci? Dalam buku ini, Mary Douglas mengambil contoh kisah Ibrahim dalam surat Kejadian. Selama ini banyak komentar sinis mengenai kisah Ibrahim. Bagaimana mungkin Tuhan yang begitu haus darah meminta persembahan darah seorang anak, disebut sebagai Pengasih dan Penyayang? Namun dengan cara baca simetri, muncullah kesimpulan lain. Betapa seluruh kisah itu sebenarnya diliputi oleh kepasrahan, saling percaya antara Ibrahim dan Ishak, pembuktian iman yang teguh, dan hadiah dari Tuhan. Tidak ada ketakutan, tidak ada nafsu membunuh, tidak ada tuntutan. Ini adalah kisah indah mengenai iman yang diteguhkan secara bersama-sama dan diakhiri dengan penerimaan Tuhan.
Penerapan cara baca simetri pada Al Qur’an juga sudah melahirkan penafsiran yang baru pada surat Al-Maidah, yang agak berbeda dengan tafsir tradisional namun memberi wawasan yang lebih luas terhadap surat tersebut karena dikaitkan secara struktur cincin pada surat lain. Walaupun hasil penafsiran ini masih menuai pro dan kontra, setidaknya cara baca simetri telah memberi pandangan baru dalam studi tafsir kitab suci, dan menanti peneliti-peneliti baru untuk mengembangkan perspektif ini.
Topik simetri akan muncul berulang-ulang dalam buku-buku yang akan kami resensi. Nantikan pembahasannya ya 🙂