Thinking In Pictures: My Life With Autism (Expanded Edition)
Temple Grandin
Vintage Books (2006)
320 hal
Temple Grandin adalah doktor ilmu hewan dan telah merancang sepertiga fasilitas ternak potong di Amerika Serikat. Ia juga dosen dan aktivis autis. Sebelum bukunya yang pertama (Emergence: Labeled Autistic) terbit pada tahun 1986, dunia kedokteran menganggap orang autis tidak punya ‘inner life’, tidak bisa mengekspresikan apapun. Melalui buku-bukunya, Grandin membuka jendela untuk memahami bagaimana orang autis melihat dunia dan berpikir tentangnya.
“I think in pictures. Words are like a second language to me”, kata Grandin membuka bukunya. Semua kata yang didengar dan dilihatnya ‘diterjemahkan’ menjadi gambar dan film yang hidup di kepalanya. Kekuatan pemikiran visual yang dimilikinya melebihi rata-rata, dan hal itu sangat membantunya dalam pekerjaannya sebagai perancang fasilitas ternak potong. Ia akan mengobservasi secara detail objek dan lokasi yang akan dirancangnya, dan dengan mudah hasil observasi itu menjadi ‘video’ di kepalanya yang bisa ia putar berulang-ulang, membantu proses perancangan.
Buku ini terbagi ke dalam 11 bab:
Thinking in Pictures: Autism and Visual Thought
The Great Continuum: Diagnosing Autism
The Squeeze Machine: Sensory Problems in Autism
Learning Empathy: Emotion and Autism
The Ways of the World : Developing Autistic Talent
Believer in Biochemistry: Medications and New Treatments
Dating Data: Autism and Relationships
A Cow’s Eye View: Connecting with Animals
Artists and Accountants: An Understanding of Animal Thought
Einstein’s Second Cousin: The Link Between Autism and Genius
Stairway to Heaven: Religion and Belief
(dugaan saya, menilai karakter Grandin, judul-judul bab ini dibuat oleh editornya. Dia sendiri memberi judul-judul to the point yang sebelah kanan)
Menarik mengetahui bagaimana menurut Grandin otak autis bekerja. Sebagai strong visual thinker, ia belajar segala macam lewat gambar. Kata benda adalah kata yang paling mudah dipelajari karena langsung bisa digambarkan. Sulit baginya mempelajari sesuatu yang tidak bisa digambarkan, seperti filsafat, tetapi dia menemukan cara untuk memahami hal-hal abstrak seperti ini, yaitu dengan mengasosiasikannya dengan simbol yang kongkrit. Misalnya “kedamaian/damai” ia simbolkan dengan merpati putih. “A visual image or word becomes associated with an experience,” katanya.
Menurut Grandin, otak orang autis itu seperti komputer yang kabel-kabelnya tidak saling menyambung dengan baik. Tetapi hal itu malah bisa memperkuat area otak yang tidak tersambung. Karena itu kadang high-functioning autistics punya kemampuan tertentu yang di atas rata-rata, entah memori, kemampuan matematika dan musik, atau visual yang super.
Bagi saya pribadi yang paling menarik adalah ketika dia membahas tentang agama dan spiritualitas. Grandin berpendapat bahwa agama dan sains, keduanya diperlukan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan besar dalam hidup. Ia menyukai fisika kuantum karena melaluinya sains dan konsep-konsep spiritual bisa terkoneksi.
Selain apa yang diceritakan oleh Grandin sendiri, ada yang tertangkap dari bagaimana buku ini ditulis: alur penulisan (/pemikiran)nya sangat sistematis dan logis. Lugas, jelas, tanpa drama. To the point, matter of factly. Tipe penulisan buku favorit saya deh pokoknya. Tanpa tahu penulisnya autis, saya mungkin bakal mikir buku ini ditulis ilmuwan bidang fisika atau matematika. Jadi inget bukunya Schrödinger atau Sean Carroll.
Banyak sekali wawasan baru tentang autisme yang bisa dipelajari dari buku ini. Lengkapnya baca sendiri deh ya, dijamin nggak kecewa.