Cart

Your Cart Is Empty

What Has Nature Ever Done For Us: How Money Really Does Grow On Trees

What Has Nature Ever Done For Us: How Money Really Does Grow On Trees

image

Author

Ani

Published

Februari 7, 2024

Sesungguhnya manusia sangat tergantung pada alam, tapi sekarang sudah kehilangan rasa pertalian itu. Manusia sudah tercerabut dari akarnya, bumi.

What Has Nature Ever Done For Us: How Money Really Does Grow On Trees

Tony Juniper
Synergetic Press (2013)
309 hal

Tony Juniper CBE adalah aktivis lingkungan dari Inggris yang menghabiskan puluhan tahun hidupnya untuk kepentingan konservasi alam baik di Britania Raya maupun internasional, menjadi konsultan ekologi bagi banyak institusi dan perusahaan multinasional, termasuk menjadi penasihat badan amal Pangeran Charles bidang sustainability.

Ia juga menulis banyak buku tentang lingkungan, perubahan iklim, dan ornitologi.

Penampilan buku ini kurang meyakinkan, tadinya saya pikir isinya bakal gitu-gitu aja, tapi ternyata bagus banget. Dari buku-buku tentang alam yang pernah saya baca, buku ini memberi penjelasan paling padat dan komprehensif tentang keseimbangan alam dan hubungan antar unsurnya, dan ceritanya juga mengalir, tidak seperti textbook.

Dalam buku ini Juniper mencoba membuka mata pembaca tentang betapa besar ketergantungan kita terhadap alam, nilai ekonomi dari alam yang terjaga, dan kerugian finansial yang membebani dunia akibat ketidakpedulian kita terhadap alam.

Pada umumnya kita (baik manusianya secara pribadi maupun secara institusi pemerintah maupun perusahaan) melihat alam dan ekonomi/pembangunan sebagai sesuatu yang terpisah. Fokus ekonomi tertuju pada lapangan kerja, produk, uang, dan profit, alam sebagai ‘sumber daya’ di latar belakang saja. Yang tidak disadari oleh rata-rata kita adalah bahwa bumi ini bukan sekadar sumber daya yang bisa dieksploitasi. Planet Bumi adalah suatu sistem tertutup yang masing-masing unsurnya saling berkaitan dan saling membutuhkan agar sistemnya seimbang. Suatu sistem yang tidak seimbang pada akhirnya akan membawa bencana.

Buku ini dibuka dengan cerita tentang eksperimen Biosfer 2, sebuah simulasi ‘bumi’ skala kecil di mana 8 ilmuwan hidup di dalamnya selama 2 tahun dan harus berusaha survive dengan apa yang ada. Di dalamnya disediakan model bioma-bioma seperti laut, sungai, gunung, lahan pertanian, juga ‘kota’.
Kesimpulan dari eksperiment tsb antara lain adalah, perubahan sedikit saja dalam sistem tersebut bisa memberi efek besar bagi isinya, tetapi jika manusia bekerjasama berpikir mencari solusi dan menerapkannya, keseimbangan sistem bisa dikembalikan.

Buku ini terbagi menjadi 11 bab:

𝐈𝐧𝐝𝐢𝐬𝐩𝐞𝐧𝐬𝐚𝐛𝐥𝐞 𝐃𝐢𝐫𝐭
tentang tanah, elemen yang sering terlupakan, padahal merupakan sumber kehidupan yang luar biasa penting (sampai ditempatkan Juniper di bab 1).
𝐋𝐢𝐟𝐞 𝐟𝐫𝐨𝐦 𝐋𝐢𝐠𝐡𝐭
tentang bagaimana sinar matahari memungkinkan kehidupan ada di bumi.
𝐄𝐜𝐨-𝐢𝐧𝐧𝐨𝐯𝐚𝐭𝐢𝐨𝐧
tentang bagaimana makhluk hidup berevolusi dan beradaptasi dengan lingkungan tempat tinggalnya, sehingga masing-masing area memiliki makhluk dengan fisiologi yang berbeda, yang juga bisa dipelajari dan dimanfaatkan oleh manusia. Keragaman ini penting bagi bumi sebagai caranya menjaga keseimbangan.
𝐓𝐡𝐞 𝐏𝐨𝐥𝐥𝐢𝐧𝐚𝐭𝐨𝐫𝐬
nyambung dengan bab sebelumnya, flora dan fauna berevolusi secara lokal dan tidak bisa sembarangan ditempatkan di area baru. Diceritakan tentang awal mula perkembangan Selandia Baru sebagai bagian koloni kerajaan Inggris, di mana mereka mulai membuka lahan pertanian dan peternakan. Ternyata tanaman makanan ternak yang dibawa dari Inggris, membutuhkan lebah lokal Inggris juga, yang anatominya sudah berevolusi sehingga cocok untuk penyerbukan tanaman tsb. Baru setelah lebah Inggris diimpor ke sana, tanaman tersebut tumbuh subur.
𝐆𝐫𝐨𝐮𝐧𝐝 𝐂𝐨𝐧𝐭𝐫𝐨𝐥
tentang pengendalian hama dengan memanfaatkan spesies predator yang cocok. Diceritakan tentang hampir punahnya burung bangkai India. Ternyata ‘butterfly effect’ dari itu, tidak ada yang memakan bangkai ternak dengan cepat => anjing liar semakin banyak => rabies meluas => banyak korban, India harus mengeluarkan dana besar untuk mengatasinya. Padahal awalnya ‘cuma’ gara-gara pemakaian obat diclofenac pada ternak yang kemudian termakan para burung itu.
Konsekuensi yang tidak terbayangkan sebelumnya ya.
𝐋𝐢𝐪𝐮𝐢𝐝 𝐀𝐬𝐬𝐞𝐭𝐬
tentang air bersih, bagaimana alam menyediakan ‘layanan’ filtrasi air secara gratis melalui hutan, tanah subur, rawa, dan lahan basah, jika saja manusia mau menjaganya. Jauh lebih murah daripada membangun dan mengoperasikan fasilitas filtrasi air bersih secara mekanik.
𝐒𝐮𝐧𝐤𝐞𝐧 𝐁𝐢𝐥𝐥𝐢𝐨𝐧𝐬
tentang perikanan laut, bagaimana praktek penangkapan ikan yang tidak terencana mengakibatkan banyak kerusakan ekosistem dan merugikan.
𝐎𝐜𝐞𝐚𝐧 𝐏𝐥𝐚𝐧𝐞𝐭
tentang kekayaan laut dan bagaimana kaitan eratnya dengan kehidupan di darat (manusia darat sering nggak kepikiran soal ini).
𝐈𝐧𝐬𝐮𝐫𝐚𝐧𝐜𝐞
tentang pentingnya menjaga alam sebagai ‘tameng’ manusia menghadapi bencana. Dicontohkan kehancuran New Orleans akibat hurricane Katrina, salah satunya adalah karena hilangnya area rawa antara laut dengan darat, yang bisa membantu mengurangi banjir. Jika saja alam terjaga, kerugian akibat bencana bisa dikurangi.
𝐍𝐚𝐭𝐮𝐫𝐚𝐥 𝐇𝐞𝐚𝐥𝐭𝐡 𝐒𝐞𝐫𝐯𝐢𝐜𝐞
tentang manfaat alam untuk kesehatan. Menyediakan alam terbuka untuk aktivitas manusia seperti berolahraga atau sekadar menikmati udara segar, akan mengurangi beban biaya sistem kesehatan suatu negara.
𝐅𝐚𝐥𝐬𝐞 𝐄𝐜𝐨𝐧𝐨𝐦𝐲
tentang pentingnya mengubah cara pandang ekonomi yang hanya mencari profit jangka pendek, menjadi cara pandang jangka panjang yang di dalamnya mempertimbangkan aspek alam dalam hitung-hitungannya.

Jangan dikira apa yang dilakukan penduduk gunung tidak akan mempengaruhi kehidupan karang di laut, atau sebaliknya. Sedikit saja satu bagian alam berubah, akan ada konsekuensinya di bagian alam yang lain. Itulah kenapa pemerintah Norwegia membayar Indonesia dan Brazil milyaran dolar untuk menjaga hutannya, karena hutan-hutan ini penting untuk keseimbangan alam seluruh dunia, tidak cuma untuk daerahnya sendiri.

Di akhir buku Juniper menulis, “Kuncinya adalah kita harus menyadari bahwa alam tidaklah terpisah dari ekonomi. Kita harus mengubah cara kita ‘memperlakukan’nya, kalau mau.” Lalu dengan sarkastik ia menambahkan, “Atau kita bisa saja terus seperti ini. Memangnya, what has nature ever done for us?”

Baca buku ini jadi mikir, Nature has done so much, gratis pula, tapi kita membalasnya dengan abuse. Air susu dibalas air tuba banget ya. Dasar manusia, dikasih mandat jadi khalifah di bumi, malah merusak dan nggak tau berterimakasih.

Kalau kita sadar bahwa manusia adalah bagian dari alam, seharusnya kita semua otomatis adalah environmentalist. Bagaimanapun, planet Bumi satu-satunya tempat tinggal manusia. Kalau kita hancurkan, memangnya mau tinggal di mana?

Join Us

Book

O Latte

Follow IG untuk membaca review kami

Join Us on Spotify

Our Location

My Place

The place I like the most

Get Direction