What is Life?
Erwin Schrödinger
Cambridge University Press (24th ed., 2019)
184 hal
“In truth, there is only one mind”
Siapa sangka pemikiran fisikawan kuantum bisa membawa pada kesimpulan yang sama dengan spiritualisme? Tetapi ternyata itulah kesimpulan Erwin Schrödinger dalam buku “What is Life?” yang merupakan antologi dari seri kuliah umum “What is Life? The Physical Aspect of the Living Cell” yang disampaikan di Dublin (1943) dan “Mind and Matter” di Cambridge (1956).
Bagian “What is Life” mengeksplorasi aspek fisika dari benda hidup dengan menyelidiki proses yang terjadi dalam sel, bagaimana sifat-sifatnya diturunkan (hereditas), dan bagaimana fisika kuantum bisa menjelaskannya (menarik bahwa mutasi gen bisa dijelaskan oleh fisika kuantum). Schrödinger berhipotesis bahwa gen itu berupa molekul solid berbentuk ‘kristal aperiodik’.
Perlu dicatat bahwa pada waktu kuliah ini disampaikan, spekulasi tentang gen sebagai ‘kode dasar’ makhluk hidup sudah ada tetapi struktur DNA belum ditemukan sampai dekade berikutnya.
Schrödinger mengakui bahwa motif sebenarnya menulis buku ini adalah karena menurutnya, makhluk hidup itu lebih dari sekadar ‘materi yang menurut pada hukum fisika’, bahwa ‘ada hukum lain yang tidak/belum diketahui’ yang membuat sesuatu menjadi ‘hidup’.
“Living matter…is working in a manner that cannot be reduced to the ordinary laws of physics,” simpulnya.
Jika sebelumnya Schrödinger membahas aspek fisika dari benda hidup, di bagian “Mind and Matter” ia mengupas aspek fisika dari kesadaran (consciousness). Menurut analisanya, dunia yang kita anggap nyata ini sebenarnya hanyalah refleksi, yang dicerap oleh indera-indera subjektif kita. Warna, suara, dan bebauan adalah sensasi-sensasi subjektif, bukan hakikat realitas. “Dunia ini diberikan kepada kita hanya satu, tidak terpisah antara subjek dan objek.”
“The overall number of minds is just one…(it) is indestructible (because) mind is always NOW. There is really no before and after for mind. There is only a NOW that includes memories and expectations.”
Schrödinger menyimpulkan bahwa kita semua adalah satu, disatukan dalam satu kesadaran universal.
Catatan pribadi:
1. Buku ini pendek, tetapi karena bahasanya bahasa akademik formal awal abad 20, agak susah saya baca. Harus dibaca pelan-pelan dan diulang-ulang untuk mengerti.
2. Membaca buku ini tampak bahwa Schrödinger luarbiasa kagum pada alam. Semakin dalam ia menyelidiki semesta, lewat biologi, kimia, fisika, matematika, ditemukannya keteraturan-keteraturan yang sulit dijelaskan. “Kehidupan ini seperti puisi”, katanya, “bahasa manusia terlalu terbatas untuk menjelaskannya.”
3. Ilmuwan jaman sekarang, apa masih ada yang tipe ‘deep thinker’ seperti ini?