OK ini buku terakhir yang selesai saya baca di 2022, dan penutup ‘mestakung Desember’ (postingan mestakungnya menyusul)
Buku ini saya pinjam beberapa bulan yang lalu, dan saya tadinya berpikir isinya ringan, soalnya bukunya kecil dan tipis. Waduh ternyata saya salah lagi. Biarpun kecil dan tipis, ternyata isinya berat dan dalam.
What Is Life?: Five Great Ideas in Biology
Paul Nurse
W.W.Norton & co (2021)
145 hal
Paul Nurse adalah pakar genetik asal Inggris, direktur pusat riset Francis Crick Institute yang pernah menjadi presiden lembaga keilmuan Royal Society of London. Bersama 2 koleganya, ia dianugerahi Hadiah Nobel bidang Fisiologi/Kedokteran tahun 2001 atas penemuan molekul protein yang mengontrol pembelahan sel dalam siklus sel.
Terjunnya Paul Nurse ke dunia biologi dan genetika berawal di usia remaja, dari rasa ingin tahunya setelah mengamati seekor kupu-kupu di taman. Kupu-kupu dengan sayap yang indah dan simetri itu membuatnya berpikir, “Makhluk ini sangat berbeda denganku, tapi juga sangat familiar. Dan yang pasti, ia sama-sama hidup, sama sepertiku. Hidup itu apa sebenarnya? What is life?”
Dalam buku ini Nurse mengajak kita mencari jawaban pertanyaan tersebut dengan menelusuri 5 konsep dalam biologi, menjadikan mereka anak-anak tangga yang akan membawa kita memahami proses hidup dengan lebih jelas. Lima konsep itu adalah The Cell, The Gene, Evolution by Natural Selection, Life as Chemistry, dan ‘Life as Information’.
Apa itu sel? Nurse menganalogikan, “Jika atom adalah unit dasar materi, maka sel adalah ‘atom’nya biologi, atau unit dasar kehidupan.” Sel adalah individu hidup yang diliputi membran, suatu struktur yang sangat penting, yang meskipun hanya setebal 2 molekul, ia membuat batasan antara ‘chaos’ di luar dengan ‘order’ di dalam.
Inti dari eksistensi sel adalah gen, yang berisi kode-kode instruksi yang digunakan oleh sel untuk membangun dan mengatur dirinya, dan harus diturunkan ke setiap generasi baru ketika sel dan organisme berkembang biak. Hidup tidak bisa berjalan tanpa gen, karena merekalah yang menyediakan instruksi untuk tumbuh, menjalankan fungsinya, dan bereproduksi.
Teknologi abad ini telah menyibak sebagian misteri genetik, di antaranya adalah bahwa DNA antar manusia hampir 100% sama, tidak peduli gender, ras, agama, dan status sosial. “Ini fakta kesetaraan yang penting, yang perlu disadari semua orang,” Nurse menekankan.
Namun variasi genetik yang sangat sedikit itu memang menghasilkan perbedaan biologis yang nyata antar individu, baik itu soal penampakan luar, kesehatan, bahkan cara berpikir. Ya, genetik juga berpengaruh ke psikologi.
Alam terus bereksperimen, berinovasi, dan beradaptasi dengan dunia yang berubah. Dan sebaliknya, eksperimen dan inovasi alam juga mengubah dunia. Suatu proses kehidupan yang timbal balik, saling mempengaruhi, dan berkelanjutan, yang menghasilkan dunia yang sangat beragam isinya. Proses ini adalah evolusi melalui seleksi alam.
Sepanjang sejarah makhluk hidup berkembang biak, gen, mutasi, dan evolusi melalui seleksi alam telah menghasilkan keragaman jenis organisme. Satu konsekuensi dari konsep evolusi ini adalah, jika ‘pohon kehidupan’ ini ditelusuri asal-usulnya, maka pada awalnya semua berasal dari satu batang pohon. Artinya, kita manusia terkait dengan SELURUH bentuk kehidupan di planet Bumi. Jangankan monyet, tikus, burung, kodok, kupu-kupu, ikan, pohon, bunga, jamur, mereka juga ‘saudara tua’ kita! Begitu juga bakteri dan virus. Nggak kebayang ya, tapi begitulah. Sekian persen DNA kita adalah peninggalan virus-virus jutaan tahun yang lalu.
Tapi, hidup sendiri munculnya dari mana? Bab “Life as Chemistry” menjelaskan secara detail bagaimana proses kerja dalam sel. Dari proses kimiawi yang relatif sederhana, gaya tarik-menarik dan tolak-menolak antar molekul, serta putus-sambungnya ikatan molekul, somehow proses mendasar di dalam sel ini bekerja sama memunculkan kehidupan.
Di bab Life as Information, Nurse merenungkan siklus sel dalam konteks informasi, dan menurutnya sel itu tidak hanya merupakan ‘mesin kimiawi’, tetapi juga ‘mesin komputasi dan logika’. Sel perlu dilihat sebagai modul-modul pengolah informasi yang bergabung dan bekerja sama untuk menghasilkan karakteristik kehidupan yang lebih kompleks. Nurse menganalogikannya seperti rangkaian kata yang ‘bekerja sama’ menjadi kalimat, menjadi paragraf, menjadi cerita, yang ‘meaning’nya semakin naik dan semakin kompleks. Begitu pula kehidupan, katanya, meskipun di dasarnya adalah suatu proses sederhana dengan keteraturan presisi, modul-modul pengolah informasi ini saling berkolaborasi membentuk makna-makna yang lebih tinggi, dan karenanya hidup harus ‘dibaca’ secara keseluruhan untuk memahaminya. Dan ini perlu kerjasama dan kolaborasi dari berbagai bidang ilmu, kata Nurse.
Di akhir buku Nurse menulis, “Manusia adalah satu-satunya bentuk kehidupan yang dapat melihat keterkaitan mendalam dalam kehidupan ini, dan merenungkan maknanya. Karenanya manusia punya tanggung jawab khusus terhadap kehidupan di Bumi, yang berisi seluruh ‘keluarga’ kita. Manusia perlu peduli dan memeliharanya. Dan untuk melakukannya, kita perlu memahaminya.”
Paragraf penutup ini mengingatkan saya akan sesuatu: bukankah itu fungsi manusia sebagai khalifah di Bumi?