Cart

Your Cart Is Empty

What Your Food Ate: How to Heal Our Land and Reclaim Our Health

What Your Food Ate: How to Heal Our Land and Reclaim Our Health

image

Author

Ani

Published

Februari 12, 2024

Baca buku ini relatif lama karena selain dibaca bareng 2-3 buku lain (cari gara-gara) bukunya juga tebal, dan setiap halamannya bergizi tinggi, figuratively & literally! Bukan tipe buku yang bisa diskip & skim. Ditulis oleh sepasang ilmuwan geologi dan biologi, buku ini membahas perjalanan nutrisi dari tanah ke dalam tubuh manusia. Bergizi banget kan?

What Your Food Ate: How to Heal Our Land and Reclaim Our Health

David R. Montgomery & Anne Bikle
W.W Norton &Co (2022)
380 hal

David Montgomery adalah profesor geologi dan penulis buku-buku tentang geologi dan pertanahan yang sering memenangkan penghargaan di bidang general nonfiction dan science writing (saya baru sadar punya bukunya yang lain, The Rocks Don’t Lie, yang belum saya baca). Ia juga pernah menerima ‘genius grant’ dari MacArthur Foundation.
Istrinya, Anne Bilke adalah pakar biologi dan perencanaan lingkungan, yang juga sering menulis tentang lingkungan dan botani.
Ini buku kedua yang mereka tulis bersama, setelah sebelumnya menerbitkan buku The Hidden Half of Nature.

Kalau mengamati buku-buku mereka sebelumnya (Dirt: The Erosion of Civilization tentang tanah, The Hidden Half of Nature tentang mikroorganisme dalam tanah yang membantu pertumbuhan, Growing A Revolution tentang pertanian restoratif) sepertinya buku What Your Food Ate menggabungkan dan membahas isi buku-buku sebelumnya secara komprehensif. Pantesan padat gizi.

Melalui buku ini, Montgomery & Bilke menjelaskan hubungan SANGAT ERAT antara kesehatan kita dengan kesehatan tanah dari mana makanan kita berasal. Tanah yang sehat akan menghasilkan tanaman yang sehat. Ternak yang makan tanaman sehat, akan menghasilkan susu dan daging yang bergizi tinggi. Manusia yang mengonsumsi sayur buah daging susu dan telur bergizi tinggi, juga akan merasakan efeknya.

Saya sering bilang kalau semua makanan itu bergizi, tapi pertanyaannya, “gizinya rendah atau tinggi?”. Klaim ‘makanan bergizi’ itu bagi saya ambigu (nggak tau buat orang lain ya).

Kita tentu pernah dengar pepatah “An apple a day keeps the doctor away” menyiratkan bahwa makan apel menyehatkan badan. Ya, apel menyuplai nutrisi berupa karbohidrat, protein, vitamin, dan zat fitokimia yang dibutuhkan untuk kesehatan tubuh.

Tapi ternyata, “Not all apples are created equal”. Kandungan nutrisi apel A yang ditanam di industri pertanian konvensional, yang tanahnya dibajak dan dibiarkan terbuka dan mengering, menggunakan pupuk, pestisida, dan herbisida secara berlebihan, akan jauh berbeda dengan kandungan nutrisi apel B yang ditanam di perkebunan organik dengan cara bertani regeneratif, yang memanfaatkan jasa mikroorganisme (bakteri dan jamur) dalam tanah. Cara bertani regeneratif ini selain mengurangi (bahkan menghilangkan) kebutuhan pemakaian pestisida & herbisida, juga memperbaiki kesehatan tanah dan meningkatkan kuantitas zat fitokimia pada tanaman yang bersangkutan.
Untuk mendapatkan nutrisi yang sama dengan satu apel B, bisa jadi kita harus mengkonsumsi 5-6 apel A (artinya kita juga mengonsumsi 5-6 kali jumlah karbohidrat dan residu biosidanya).

(Hmmm..6 apples a day…denger pepatahnya aja udah kenyang duluan)

Sejak industri pertanian berkembang pesat di abad 20 (Green Revolution) ditandai dengan penerapan teknologi baru dan mekanisasi pertanian, varietas tanaman ‘unggul’ (HYV=High Yielding Variety), dan pemakaian pupuk kimia, pestisida, herbisida, ternyata terjadi peningkatan masalah kesehatan kronis seperti obesitas, diabetes, dan kanker, yang semakin lama semakin merajalela.
Memang korelasi tidak selalu berarti ada hubungan sebab akibat, tapi dalam hal ini tampaknya hubungannya sangat kuat, ditunjukkan oleh begitu banyak studi yang dilakukan para ilmuwan di bidang pertanian, biologi, kimia, dan kedokteran, yang dikutip oleh Montgomery & Bilke sepanjang buku ini: berubahnya cara manusia bertani ternyata membawa pengaruh sangat besar bagi kesehatan manusia yang mengonsumsinya.

Hubungannya bagaimana?
Cara bertani dengan membajak tanah dengan mesin berat, ternyata merusak kehidupan di dalam tanah. Ya, jangan dikira di sana nggak ada kehidupan. Selain cacing yang telah diketahui manfaatnya, ada jaringan jamur yang dibutuhkan tanaman untuk mengubah dan menyalurkan mineral-mineral dari bebatuan jauh di dalam tanah, ada bakteri-bakteri baik yang bersimbiosis mutualisme dengan tanaman melalui akar. Dengan dibajak, ‘rumah’ mereka hancur. Apalagi jika lalu dibiarkan terbuka dan mengering tanpa tanaman penutup (cover crop). Semakin lama tanah semakin hilang ‘gizi’nya. Tanah yang sehat mengandung >3% konten organik, sementara kebanyakan tanah pertanian sekarang konten organiknya di bawah itu. Tanah-tanah yang sakit dan kurang gizi.

Lho tapi kan dikasih pupuk?
Kebutuhan setiap jenis tanaman berbeda, dan jika mereka terlalu sering ‘disuapi’ pupuk, mereka jadi ‘malas’ mengeluarkan zat-zat yang dibutuhkan untuk menarik para bakteri baik supaya mau ‘nongkrong’ bertukar nutrisi. Selain itu pemberian pupuk ternyata berpengaruh terhadap penyerapan mineral tertentu. Pupuk sintetis biasanya hanya menyuplai macronutrients (seperti nitrogen, phosphorus, potasium = NPK, kalsium, sulfur, magnesium), padahal banyak micronutrients yang juga penting bagi tanaman.

Nutrisi tanah yang tidak seimbang diterima tanaman, membuat sistem imun tanaman terganggu. Dia jadi mudah ‘sakit’. Apa yang dilakukan petani? Beri herbisida dan pestisida. Tapi biosida ini lalu juga semakin merusak kesehatan tanah dan kehidupan lain di sekitarnya (serangga predator hama, cacing, dll) yang membuat alam semakin tidak seimbang, dan malah mengundang hama dan patogen merajalela, makin banyak membutuhkan biosida.

Ini baru urusan tanahnya. Belum lagi cara bertani monokultur yang fokus di beberapa spesies serealia saja karena dianggap yang paling menguntungkan (di Amerika: gandum, jagung, dan kedelai) yang merusak keragaman hayati dan mengganggu keseimbangan alam. Lalu cara beternak industrial di mana ternak dikurung di kandang, diberi makan serealia hasil pertanian konvensional tadi, yang sebetulnya tidak cocok bagi perut mereka para ruminants sehingga sering mengakibatkan sakit. Hal ini juga sangat berpengaruh pada turunnya kandungan asam lemak omega-3 dan naiknya (berkali-kali lipat) omega-6 dalam daging dan susu yang dihasilkan sapi, serta telur ayam.

Rantai ‘sakit’ ini berlanjut terus hingga hasil bumi dan ternak ini dikonsumsi manusia. Tidak aneh kalau manusia jaman sekarang banyak sekali masalah kesehatannya. Karena makanannya juga tidak sehat. Dari luar mungkin terlihat sehat, tapi gizinya? Kosong.

Susah mereview buku ini saking padatnya informasi di dalamnya, dan semuanya penting. Intinya, alam punya intelegensi dan wisdom tersendiri yang ‘fine-tuned’, tahu apa yang baik dan seimbang bagi sistem biologi tubuh setiap makhluk yang unik. Ketika keseimbangan ini terganggu, sistemnya kacau dan ‘berulah’, memunculkan berbagai penyakit.
Dalam skala besar, bumi pun adalah sistem biologi. Dan ya, sekarang terganggu dan ‘berulah’ karena manusia tidak menjaga kesehatan bumi.

Mulailah dengan menjaga kesehatan tanah. Dari situ efeknya akan berantai ke semua sistem.
“How we treat the land affects how it, in turn, treats us.”

Buku ini bagus banget, sangat layak dikoleksi.
Dan buat saya pribadi, David Montgomery sekarang masuk daftar science writer favorit.

Join Us

Book

O Latte

Follow IG untuk membaca review kami

Join Us on Spotify

Our Location

My Place

The place I like the most

Get Direction