Cart

Your Cart Is Empty

Why?: What Makes Us Curious

Why?: What Makes Us Curious

image

Author

Ani

Published

Februari 17, 2024

Mario Livio adalah astrofisikawan yang banyak menulis buku-buku ilmiah populer tentang sains dan matematika. Kali ini ia menulis tentang rasa ingin tahu. Kenapa? “I have always been a very curious person,” katanya. Selain ketertarikan profesional di bidang astrofisika, ia juga tertarik akan seni rupa dan musik. Meskipun tidak berbakat seni, katanya, ia mengoleksi buku-buku seni, berkolaborasi dengan komposer musik klasik, dan banyak menulis tentang hubungan sains dan seni di media.

Sudah lama ia penasaran tentang curiosity: apa yang memicunya, mekanisme seperti apa yang mendasari keingintahuan dan eksplorasi? Melalui buku ini ia menjabarkan apa itu curiosity, berdasarkan temuan riset terkini, konsultasi dengan para ilmuwan neurosains dan psikologi, diskusi dengan banyak pakar, dan mewawancara orang-orang yang dianggapnya merepresentasikan mereka yang ‘very curious’.

Why?: What Makes Us Curious

Mario Livio
Simon & Schuster Paperbacks (2017)
252 hal

Sebelum terjun membahas temuan ilmiah tentang curiosity, Livio membahas 2 orang yang menurutnya adalah contoh extremely curious people: Leonardo daVinci dan Richard Feynman. (Kalau Feynman sudah pernah dibahas ya di postingan lain, di sini saya cerita Leonardo-nya aja)

Tidak memiliki dasar akademik yang kuat (hanya pendidikan dasar, dan langsung magang di bidang seni) tidak membuat Leonardo berhenti belajar berbagai topik, termasuk sains dan matematika secara autodidak. Bahkan menurut catatan penerusnya, Leonardo belajar hal-hal baru dengan relatif cepat dan mudah. Ia tertarik banyak hal, mengoleksi ratusan buku dengan topik anatomi, kedokteran, ilmu alam, aritmetika, geometri, geografi, astronomi, filsafat, bahasa, sastra, dan keagamaan. Ini juga terlihat dari catatan pribadinya yang ekstensif (15ribu halaman!) tentang berbagai topik.

Namun ada karakteristik Leonardo yang menarik: ia senang ‘icip-icip’ suatu topik, tapi tidak selesai, lalu beralih ke yang lain. Di sisi lain, kalau benar-benar tertarik suatu hal, dia akan terjun sepenuh hati sampai ke detail-detailnya. “Kok mirip ciri ADHD ya,” tanya Livio. Pemikiran ini dikonfirmasi oleh peneliti ADHD, yang mengatakan bahwa seseorang yang ADHD bisa sangat fokus dan konsentrasi ketika mereka tertarik pada satu hal. Bahkan ada studi yang mengatakan bahwa sifat hiperaktif-impulsif ini sangat berkaitan dengan ‘novelty seeking’ atau mencari sesuatu yang baru, ciri khas orang curious. “Distractibility can be regarded as an acute overexpression of curiosity”.

(Baca bagian ini saya jadi ingat diri sendiri: gampang penasaran, suka belajar ini itu tapi nggak betah lama, juga gampang terdistraksi dan nggak fokus. Wah jangan-jangan saya ADHD)

Dari pembahasan tentang Leonardo daVinci dan Feynman ini, menurut Livio paling tidak ada satu yang bisa disimpulkan: bahwa mekanisme otak yang berurusan dengan rasa ingin tahu bukanlah bagian otak yang bertanggung jawab atas kemampuan matematika yang superior (karena daVinci nggak jago matematik) ataupun bakat seni yang tinggi (bukan keahlian Feynman). “Sepertinya, kondisi yang dibutuhkan untuk memiliki rasa ingin tahu yang tinggi seperti mereka adalah kemampuan memproses informasi,” katanya. A highly efficient data processing.

Apa lagi temuan sains tentang curiosity ini? Livio membahas berbagai studi psikologi yang dilakukan untuk memahami curiosity. Ia tidak hanya menyampaikan temuan studi tertentu, tapi juga mengkritisi dan membandingkannya dengan berbagai studi lain yang serupa. Semacam meta-analysis. Nah gitu deh kalo ilmuwan, nggak gampang percaya.

Ada teori (dan studi yang mendukungnya) yang mengatakan bahwa curiosity muncul akibat ‘information gap’. Menurut teori ini, seseorang punya gambaran awal tentang sesuatu (apapun), dan ketika bertemu hal yang tidak sesuai dengan yang ada di pikirannya, ia merasa tidak nyaman, dan berusaha ‘menutup’ ketidaknyamanan itu dengan mencari tahu jawabannya supaya celah informasi itu tertutup.
“Lho tapi kan nggak semua curiosity menghasilkan rasa tidak nyaman,” tukas Livio. Nah, ada juga teori yang mengatakan bahwa otak memberi ‘reward’ pada proses pencarian informasi dan pengetahuan itu sendiri. Beberapa studi pada bayi menyimpulkan bahwa manusia terlahir sebagai ‘infovores’ atau pencari informasi, dan keinginan belajar adalah karakteristik dasar manusia. Namun semakin dewasa, semakin berkurang pula kesediaan mengambil resiko untuk mencoba hal-hal baru, hasilnya, curiosity semakin menurun (hmm…kecuali untuk kepo-in urusan orang lain sepertinya).

Sejak tahun 90an, penggunaan fMRI untuk memindai aktivitas otak sangat memajukan studi neurosains. Ilmuwan mulai mencari bagian otak mana yang terkait dengan curiosity. Paling tidak ada 2 macam curiosity, yaitu perceptual curiosity (yang dipicu oleh hal baru atau kejutan) dan epistemic curiosity (keinginan belajar), dan keduanya mengaktifkan sirkuit yang berbeda. Neurosains menemukan bahwa perceptual curiosity mengaktifkan area otak yang sensitif terhadap kondisi ‘tidak nyaman/tidak suka’, sementara epistemic curiosity mengaktifkan area otak yang mengantisipasi reward, dan juga area yang berkaitan dengan proses belajar, memori, dan pemahaman bahasa.

Riset neurosains dan psikologi saat ini menyimpulkan bahwa curiosity itu kira-kira adalah proses yang bertujuan memaksimalkan pengetahuan, dengan membandingkan berbagai alternatif potensi jawaban dari pertanyaan-pertanyaan dalam pikiran seseorang. Dengan kata lain, pada intinya curiosity adalah ‘mesin penemu’. Apa yang membuat otak Homo Sapiens istimewa dibanding makhluk berotak lainnya sehingga spesies ini maju begitu pesatnya? Ternyata kuncinya ada di efisiensi penempatan rangkaian milyaran neuron (yang berkali-kali lipat jumlahnya dibanding mamalia lain) di cerebral dan prefrontal cortex. Karena ini juga konsumsi energi otak manusia sangat besar dibanding makhluk lain. Otak manusia ‘tagihan listrik’nya tinggi! Hehehe..

Livio menekankan pentingnya keingintahuan, dan mengingatkan periode-periode sejarah manusia di mana rasa ingin tahu ini dikekang. Begitu banyak kisah mitos dan tradisi yang memperingatkan supaya tidak banyak bertanya, baik dari penguasa maupun pemuka agama, yang mengatakan bahwa keingintahuan itu membawa penderitaan dan menjerumuskan ke neraka.

Nah, sampai di sini saya tiba-tiba sadar, bahwa (paling tidak dalam konteks agama), peringatan itu memang benar. TAPI JUGA SALAH. Entah para pemuka agama itu sengaja karena ingin mengontrol massa, atau benar-benar salah tafsir karena tidak mengerti maksud peringatan itu.
Curiosity memang membawa penderitaan (betul kan, seperti dalam temuan sains tadi, membuat tidak nyaman, tidak enak) tapi penderitaan ini sesuatu yang DIPERLUKAN karena SEPADAN dengan manfaat yang didapatkan, yaitu ILMU.

Dalam tasawuf, segala sesuatu ini bermula dari curiosity Tuhan yang ingin mengenal diriNya.
“Who am I?”
Curiosity menciptakan kondisi ketidaktahuan (ignorance). It’s a longing, yearning to know. Sampai menemukan jawabannya, kita tersiksa dan menderita, bahkan ekstrimnya bisa dianalogikan ‘seperti di neraka’. Alam semesta dan kehidupan ini adalah proses menjawab pertanyaan tadi, dan akan terus berjalan hingga semua potensialitas jawabannya teraktualisasi.
(Kalau kata mbak Ani, perjalanan spiritual itu cocok dengan “curiosity kills the cat”. Udah tau susah tapi tetep penasaran!)

Curiosity is actually the driver of life, the driver of creation.
(fyi, ini nyambung sekali dengan kesimpulan di buku The Romance of Reality)

Don’t fear the unknown (ghaib), be curious of it.

Di akhir buku ini, Livio mengutip kata-kata Leonardo daVinci lima abad lalu: “Blinding ignorance does mislead us. O wretched mortals, open your eyes!”

Bukalah mata dan teruslah bertanya.
Be curious.

Selamat Hari Raya dari kami di Book-o-latte.

Join Us

Book

O Latte

Follow IG untuk membaca review kami

Join Us on Spotify

Our Location

My Place

The place I like the most

Get Direction