Di buku Reader, Come Home, Maryanne Wolf menulis kira-kira “Kalau saya menulis novel, saya akan menulis dengan kalimat-kalimat yang membuat pembaca berusaha lebih keras menangkap maknanya, tidak sekadar apa yang terbaca di permukaan”. Mengapa? Karena ternyata membaca itu bukan sekadar untuk mendapatkan informasi/pengetahuan dari apa yang dibaca, tetapi juga untuk efeknya terhadap proses berpikir. Melatih otak menangkap lapisan-lapisan makna non-literal akan membantu membentuk deep-reading circuit yang kuat: mempertanyakan, mengkritisi, dan menganalisa apa yang dibaca.
Pas sekali habis itu saya membaca buku ini, yang makna-maknanya ditangkap dari konteks kalimat atau paragraf, mencontohkan apa yang ditulis Wolf.
World of Wonders: In Praise of Fireflies, Whale Sharks, and Other Astonishments
Aimee Nezhukumatathil
Milkweed (2020)
165 hal
Aimee Nezhukumatathil adalah dosen sastra Inggris, penyair, dan penulis esai yang telah menelurkan beberapa kumpulan puisi, juga meraih beberapa penghargaan sastra. Tulisan-tulisannya seringkali mengangkat tema alam, begitu pula buku ini, yang berisi kumpulan esai memoar yang dikaitkan dengan berbagai spesies flora dan fauna, mengangkat keistimewaan masing-masingnya dan menumbuhkan kekaguman akan alam.
Buku ini memang berisi esai, bukan puisi, tapi bahasanya puitis, dengan pemilihan kosa kata yang indah. Isinya bercerita tentang kehidupannya, mulai dari masa kecilnya sebagai anak minoritas berkulit coklat (ibunya Filipino, ayahnya India) di Midwestern USA, hingga dewasa, menikah, menjadi ibu dengan dua anak, berkeliling dunia lewat program-program mengajar sastra. Dan semua cerita ini dikaitkan dengan spesies flora/fauna tertentu.
Misalnya dalam esai “Peacock (Pavo cristatus)” ia bercerita ketika baru pindah dari Iowa ke Arizona, menjadi anak baru di kelas 3. Sekolahnya mengadakan lomba menggambar binatang. Ia menggambar merak, favoritnya, dan menulis “Peacocks are the national bird of India”. Tidak disangka gurunya kemudian ‘mengoreksi’ tugas itu, “(we) should draw American animals. We live in Ah-mer-i-kah!” dan menyuruh Aimee menggambar hewan lain. Dengan malu, marah, dan sedih, Aimee menggambar ulang, kali ini objeknya ‘the most American thing I can think of’. Ia menggambar simbol Amerika, elang botak, lengkap dengan bendera. Aimee menang lomba, tapi ia benci sekali gambarnya. Kejadian ini membuatnya menghindari warna biru merak dan segala hal berbau India selama bertahun-tahun, karena mengingatkannya akan ‘ke-berbedaan-nya’ di Amerika.
Sejujurnya saya pinjam buku ini karena ada di rak buku-buku sains DAN dalamnya berilustrasi bagus karya Fumi Mini Nakamura. Kebetulan saya memang lagi nyari buku-buku nonfiksi berilustrasi non foto, non digital, yang bukan buku anak-anak, dan bukan komik/novel grafis. Karena saya mikir “Dulu banyak buku seperti itu (seperti novel-novel abad 19 – awal abad 20) tapi kok sekarang yang berilustrasi paling-paling buku anak & remaja. Padahal orang dewasa juga banyak yang suka buku berilustrasi”.
Senang juga dapat buku nonfiksi bagus berilustrasi cantik.